PADEK.JAWAPOS.COM-RAMADHAN adalah bulan yang paling istimewa bagi umat Islam. Sekaligus bulan yang paling ditunggu oleh umat Islam se-antero dunia. Pada bulan suci ini, umat Islam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Menahan lapar dan dahaga serta yang membatalkannya.
Allah SWT mewajibkan puasa terhadap kita karena ada manfaatnya bagi manusia sendiri. Jika berpuasa itu dilakukan sesuai syariat Islam dan penuh perhitungan maka akan mendatangkan banyak manfaat. Seperti memberikan manfaat terhadap kesehatan mental, kesehatan fisik, dan kesehatan sosial.
Mengurangi Stres
Pada Ramadhan, di samping kita berpuasa siang hari dapat juga beribadah pada malam hari dengan qiyamul Ramadhan seperti tarawih, tadarus Quran, mendengarkan kajian dan sholat. Kegiatan qiyamul Ramadhan itu kalau dilakukan secara konsisten akan dapat menenangkan jiwa, tentu secara otomatis akan mengurangi stres.
Ketika seorang berpuasa biasanya pola makan dan minum akan lebih teratur, sehingga pola makan teratur ini akan menjaga hormon kortisol. Hormon kortisol tersebut bisa berkurang sehingga akan mengurangi tingkat stress. Karena hormon kortisol itu dapat memicu meningkatnya tingkat stres.
Selanjutnya, orang berpuasa ada momennya dia bahagia seperti saat berbuka puasa dan kebahagiaan ini akan memproduksi hormon endorphin. Seperti kita ketahui hormon endorphin berpengaruh terhadap mengurangi stres dan menggantikannya dengan rasa bahagia.
Kualitas Tidur
Pada bulan Ramadhan orang berpuasa biasanya menjaga pola tidurnya agar bisa melaksanakan sahur dan kegiatan qiyamul Ramadhan lainnya. Orang yang berpuasa lebih merasa lelah ketika malam hari karena beraktivitas seharian.
Dengan pola tidur yang cukup ini, maka otak akan membantu lebih fokus dalam menjalankan aktivitas pada siang hari. Seperti kita ketahui, penyebab utama stress adalah orang yang kurang tidur karena otak kurang istirahat. Kemudian, dengan otak yang cukup istirahatnya akan mengurangi stress.
Interaksi Sosial
Pada bulan Ramadhan umat Islam biasanya banyak bertemu dengan masyarakat seperti bertemu di masjid ketika setelah Shalat Taraweh. Di dalam keluarga berkumpul di meja makan ketika berbuka puasa atau berbuka puasa bersama dengan teman, ini bisa meningkatkan interaksi sosial.
Secara ilmu jiwa untuk mendapatkan kesehatan mental itu kita harus ada berinteraksi dengan sosial dan kemudian adanya relationship dan adanya rasa sense of belonging, maka makin sehatlah mental orang itu.
Di bulan Ramadhan kita banyak menemui orang, di mesjid kita sholat berjamaah, mendengarkan tausiah dan itu semua menambah interaksi sosial yang akhirnya membuat mental kita sehat.
Kontrol Diri
Orang yang berpuasa bisa mengontrol diri sehingga bisa menghindari dirinya terjebak dari kesalahan, karena kesalahan itu membuat seseorang merasa bersalah dan akhirnya rasa salah itu membuat seseorang menjadi stres.
Sebaliknya orang berpuasa akan banyak bersikap baik seperti berkata jujur, menolong orang lain, ramah tamah. Sikap tersebut secara naluri akan membuat manusia itu sendiri bahagia.
Ketika berpuasa kita tidak hanya menahan haus dan lapar tetapi juga harus mengendalikan emosi negatif seperti berkata kasar, marah, berbohong dan emosi negatif lainnya. Pengendalian diri ini terutama pengendalian mulut dan perut akan menyebabkan orang akan sehat secara mental.
Menumbuhkan Empati
Berpuasa membuat seseorang lebih bisa berempati dengan orang lain. Saat merasa lapar dan haus, seseorang menyadari adanya kondisi orang lain yang tidak berkecukupan. Tak jarang, seseorang juga merasa “cukup” atas kondisinya. Rasa empati tersebut terkadang membangkitkan rasa kemanusiaan.
Kita amati di masyarakat sekarang banyak orang yang melakukan berbagi takjil, memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan seperti di Mesjid, di tempat umum dan di jalanan.
Orang yang memiliki rasa empati dengan sosial menandakan bahwa dia memiliki mental yang sehat dengan peduli terhadap kondisi orang lain. Karena kalau kita memberikan kebahagian kepada orang lain maka kebahagian itu akan bertahan kepada diri kita dan akhirnya kebahagiaan karena empati itu akan menyehatkan mental kita.
Rasa Syukur
Menurut profesor psikologi di Zayed University Justin Thomas, puasa bermanfaat bagi kesehatan mental. Puasa Ramadhan dapat meningkatkan rasa syukur dalam diri melalui kegiatan Ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan.
Rasa syukur yang ada di dalam diri memiliki hubungan dengan kadar dopamin neurokimia yang dikenal sebagai hormon yang memicu perasaan bahagia. Dan tidak hanya menurut para ahli kesehatan. Dalam hadits juga disampaikan keutamaan dari berpuasa di bulan Ramadhan.
Didalam hadits hadits riwayat Abu Hurairah R.A., disebutkn, dari nabi Muhammad SAW beliau bersabda: Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan : kegembiraan saat berbuka puasa dan kegembiraan ketika menghadap Tuhan Yang Maha Perkasa Lagi Maha Agung.
Menurut hadits ini bahwa ketika kita berpuasa kita akan mendapatkan kegembiraan karena rasa syukur dan kebahagiaan selama berpuasa itu akan menyebabkan kita memiliki mental yang sehat.
Dari penjelasan para ahli dan juga melalui hadits telah disampaikan keutamaan berpuasa, tidak hanya manfaat mendapatkan pahala tetapi juga mendapatkan manfaat kesehatan mental.
Terapi untuk Gangguan Mental
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu dalam penanganan gangguan mental tertentu, seperti stress, depresi dan gangguan kecemasan.
Dalam beberapa Penelitian yang dilakukan pada pasien dengan depresi ringan hingga sedang, ditemukan bahwa puasa dapat membantu meningkatkan mood, energi dan kualitas tidur.
Hal ini terjadi karena puasa merangsang produksi neurotropin (BDNF), adalah sejenis protein yang membantu pertumbuhan dan perbaikan sel-sel otak.
Di samping itu, bagi mereka yang mengalami gangguan makan seperti binge eating disorder, puasa dapat menjadi metode untuk melatih kembali pola makan yang lebih sehat.
Dengan disiplin yang diterapkan selama puasa, seseorang dapat lebih memahami sinyal lapar dan kenyang yang alami dari tubuhnya, sehingga mengurangi kebiasaan makan berlebihan akibat stres atau emosi dan akhirnya akan membantu untuk kesehatan mental. (Yulihasri, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unand)
Editor : Novitri Selvia