Paslon 01, yang semula dianggap sebagai kuda hitam dalam kontestasi ini, justru membuktikan bahwa politik tidak mengenal hal yang mustahil. Ya, Welly Suhery yang sebelumnya berpasangan dengan Anggit Kurniawan Nasution juga berhasil keluar sebagai pemenang Pilkada Pasaman.
Karena ada gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), dan putusan MK membatalkan kemenangan tersebut dan mendiskualifikasi Anggit Kurniawan, Welly Suhery dalam waktu yang singkat diharuskan mencari pengganti Anggit.
Ya, Parulian Dalimunte menjadi sosok pilihan saat itu. Semangat semakin berkobar, Welly-Parulian dengan mantap menatap PSU Pilkada Pasaman. Hasilnya PSU itu juga tidak kaleng-kaleng. Menang telak. Tagline ”Bersihkan Kemenangan, “Gandakan Kemenangan” yang digemakan selama ini juga terbukti.
Hasil resmi pleno KPU Pasaman menyatakan pasangan nomor urut 1 ini meraih 61.391 suara, meninggalkan pasangan Maraondak-Desrizal yang memperoleh 49.907 suara, serta Sabar AS-Sukardi dengan 30.319 suara.
Selisih suara yang cukup telak ini menguatkan posisi Welly-Parulian sebagai pilihan utama masyarakat Pasaman.
Patut diacungi semengat relawan, simpatisan dan tim sukses dalam menyusun strategi kemenangan dua kali ini. Ucapan terimakasih juga ditujukan untuk masyarakat Pasaman, mempercayakan Ranah Saiyo lima tahun ke depan kepada Welly-Parulian.
Dari pengamatan dan di atas kertas, secara tidak langsung, Paslon nomor 2, Maraondak-Desrizal (MoDe) dan paslon nomor urut 3 Sabar AS-Sukardi sangat dijagokan dalam Pilkada ini.
Sabar AS merupakan petahana, dan pasangannya Sukardi merupakan birokrat handal. Di mata masyarakat Sabar juga dikenal sebagai sosok yang sangat religius dan tenang.
Program-program yang dibawakan Sabar saat menjadi Bupati Pasaman juga sangat menyentuh ke masyarakat. Namun lagi-lagi hati masyarakat masih belum terpikat kepada keduanya.
Di sisi lain, Maraondak-Desrizal juga menjadi lawan berat yang rasanya sulit ditumbangkan. Ya, mereka mendapat dukungan dari koalisi besar, termasuk dua mantan Bupati Pasaman, Yusuf Lubis dan Benny Utama, serta para tokoh penting lainnya.
Dan mengejutkan lagi, paslon nomor urut 2 ini bahkan juga didukung oleh sejumlah politisi senior yang aktif di senayan, seperti empat anggota DPR RI dari dapil II Sumbar dan enam anggota DPRD Provinsi Sumbar.
Tidak hanya itu, mereka juga memperoleh dukungan penuh dari Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat, serta klaim dukungan dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Formasi kekuatan politik yang sangat impresif ini semestinya memberi Paslon 02 harapan besar untuk meraih kemenangan. Tak ada celah untuk kalah.
Namun, kenyataan berbicara lain. Paslon MoDe harus menelan pil pahit dua kali kekalahan, pertama pada Pilkada 27 November 2024, dan kemudian pada PSU 19 April 2025.
Fakta ini menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa dukungan sebesar itu, yang diwakili oleh lebih dari 100.000 suara dari para pemilih anggota DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten, tidak cukup untuk mengantarkan Paslon 02 ke kemenangan?
Inilah dinamika politik yang seringkali tak terduga. Pemilih yang memilih pada Pemilu Legislatif 2024, yang memberikan suara untuk anggota DPR dan DPRD, ternyata tidak tetap memilih pasangan calon yang mereka dukung pada Pilkada dan PSU.
Ini menunjukkan bahwa dalam politik, loyalitas pemilih tidak selalu dapat diprediksi atau dijamin. Kemenangan Paslon 01 yang berhasil mencuri perhatian publik ini adalah contoh nyata bahwa tak ada yang mustahil dalam politik. ”Kun Fayakun”, alam semesta bekerja dengan cara yang tak terduga.
Selamat dan sukses kepada Welly-Parulian. Selalu tampil dengan gaya yang rendah hati dan tenang, eh teryata berhasil mengguncang arena Pilkada Pasaman. Bisa saja gaya mereka ini yang disukai masyarakat. Di saat yang lain ribut-ribut mereka tetap melaju.
Keteguhan, optimisme, dan ketenangan dalam menghadapi dinamika politik menjadi kunci keberhasilan pasangan ini.
Tidak dapat dipungkiri, kemenangan ini juga didorong oleh dukungan kuat dari generasi muda, terutama kaum milenial dan Generasi Z yang sangat berharap adanya keterwakilan mereka dalam pemerintahan Pasaman ke depan. Sama seperti janji yang disampaikan Welly Suhery sebelumnya.
Terlepas dari hasil ini, para pendukung Paslon 02, tidak perlu kecewa. Kekalahan paslon ini adalah bagian dari perjalanan politik yang harus diterima dengan lapang dada.
Kekalahan merupakan bagian dari kemenangan. Kini, saatnya melihat ke depan. Nah, tentu diharapkan, dalam era kepemimpinan Welly-Parulian selama lima tahun ke depan, dapat terjalin sinergi yang baik dengan seluruh pihak, termasuk dengan tokoh-tokoh senior dan masyarakat Pasaman.
Dengan dua kali penyelenggaraan Pilkada di Pasaman, menunjukkan bahwa dalam politik, kejutan selalu bisa terjadi, dan tak ada yang benar-benar pasti hingga hasil akhirnya diumumkan. Welly Suhery sang kuda hitam, telah menorehkan sejarahnya di Ranah Pasaman. (wni)
Editor : Adetio Purtama