Ada perjalanan yang kita rancang dalam imajinasi, dan ada pula perjalanan yang datang sebagai anugerah mengalir pelan seperti arus sungai yang tak pernah salah menuju muara.
Perjalanan pertama saya ke Mentawai; sebuah langkah menuju negeri yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya tahu untuk sampai ke, Mentawai bukan persoalan mudah, namun penuh perjuangan.
Empat jam di atas kapal cepat Mentawai Fast menjadi ritual pembuka sebelum memasuki Bumi Sikerei. Ombak memantul di lambung kapal, seolah mengetuk jnatung yang berdebar menahan haru. Saat kapal merapat di Dermaga Sioban di Tuapejat, saya pun mengucap syukur.
Dermaga itu sederhana, namun terasa seperti pintu gerbang menuju dunia lain. Angin laut yang berhembus, riuh pelan warga lokal menyambut saya bersama Tim Ilmu Komunikasi Unand. Kami pun singgah di Tuapejat, beristirahat sejenak.
Perjalanan pun dilanjutkan ke Pulau Awera, pulau kecil yang terasa seperti lukisan hidup. Airnya hijau bening, karang-karang nya pun tampak seperti taman bawah laut yang indah.
Di sinilah saya merasakan makna komunikasi nonverbal dalam pengertian Edward T. Hall (1959): pesan bisa hadir tanpa suara, tanpa kata, hanya melalui warna, kedalaman, gerak arus, dan kesunyian.
Hari kedua, perjalanan dilanjutkan menaiki kapal cepat menuju Dermaga Muara, Siberut Selatan. Dua jam lamanya perjalanan melintasi laut. Setiba dermaga, saya menumpang kendaraan sewa mobil bak terbuka Colt Diesel dengan tarif Rp 400 ribu sekali jalan.
Kami pun melipir jalan sejauh 9 km menuju Mailepet. Jalannya licin, berlumpur, dan penuh cekungan mengguncang tubuh saya selama 1,5 jam.
Setelah tiba di Kampung Mailepet, Siberut Selatan, saya menarik napas lega. Perjalanan pun kembali dilanjutkan menyewa pompong kecil, menyusuri sungai selama 40 menit menuju Dusun Ugay, desa warga Sikerei yang selama ini hanya saya lihat di video dokumenter. Hujan rintik pun mulai turun.
Di Dusun Ugay, saya bertemu Aman Lepon. Dalam budaya Mentawai, “Aman” berarti ayah, dan “Lepon” adalah nama anaknya. Aman Lepon bukan hanya seorang kepala adat. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, penjaga nilai namun sekaligus perintis perubahan.
Yang saya kagumi dari Aman Lepon; ia tidak ingin anak-anaknya hidup tanpa sekolah. Beliau menyekolahkan keempat anaknya demi masa depan yang lebih baik. Ia memahami bahwa dunia berubah, dan anak-anaknya harus mampu berjalan dalam dua alam: modernitas dan tradisi.
Menurutnya, Pendidikan adalah cahaya, tetapi budaya adalah akar. Keduanya harus tumbuh bersama tanpa saling meniadakan. Meskipun anak-anaknya suatu hari memilih tidak mengikuti jejaknya sebagai Sikerei, Aman Lepon tidak memaksa. Ia bersikap demokratis, sesuatu yang dalam kacamata antropologi menunjukkan adaptasi budaya secara dinamis.
Menurut konsep perubahan budaya Franz Boas (1911), budaya tidak pernah statis. Budaya bergerak mengikuti kebutuhan dan konteks zaman. Namun, Aman Lepon tetap yakin bahwa rantai Sikerei tidak akan pernah putus.
Beliau meyakini, masyarakat Mentawai memiliki mekanisme pewarisan adat yang kuat, dan Sikerei akan selalu menemukan generasi penerusnya, bukan lewat paksaan, tetapi lewat panggilan jiwa.
Untuk memahami sikap Aman Lepon, kita perlu memahami siapa itu Sikerei. Dalam sejarah dan adat Mentawai, Sikerei adalah: penyembuh tradisional, penjaga keseimbangan alam, pemimpin ritual, pelestari pengetahuan leluhur serta penghubung manusia, arwah, dan hutan.
Menurut catatan etnografi Reimar Schefold (1988), Sikerei memiliki peran yang bukan hanya medis, tetapi juga kosmologis. Mereka menjaga harmoni antara tubuh, jiwa (ketsat), dan lingkungan (pulaggajat). Menjadi Sikerei bukan sekadar profesi itu adalah panggilan spiritual dan tanggung jawab sosial. Struktur adat Mentawai mencatat bahwa proses menjadi Sikerei biasanya mengikuti tanda-tanda kemampuan sejak kecil, panggilan spiritual melalui mimpi atau pengalaman transendental, pembelajaran bertahun-tahun dari Sikerei senior serta ritual inisiasi sebagai pengakuan bersama.
Peran ini sakral, tidak sembarang orang dapat menjadi Sikerei. Karena itu, Aman Lepon memahami bahwa anak-anaknya bebas memilih jalan hidup mereka. Jika mereka tidak menjadi Sikerei, adat tidak runtuh karena Sikerei muncul dari proses budaya, bukan garis keturunan semata.
Rumah Besar, Jiwa Besar
Rumah kayu besar tempat saya tinggal bersama keluarga Aman Lepon adalah ruang komunal. Dalam kerangka Emile Durkheim (1893), kehidupan semacam ini mencerminkan solidaritas mekanikkohesi sosial yang lahir dari kesamaan aktivitas, nilai, dan tujuan.
Dari perspektif antropologi budaya, kehidupan bersama ini sejalan dengan pandangan Bronislaw Malinowski (1939) bahwa kebudayaan hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia melalui jalinan kerja sama dan kebersamaan. Sementara dalam sosiologi komunikasi, pola hidup bergotong royong ini menunjukkan apa yang disebut Charles Horton Cooley (1909) sebagai komunitas primer ruang di mana komunikasi terjadi secara intim, spontan, dan penuh rasa saling membutuhkan. Di rumah ini, saya belajar bahwa budaya bukan hanya sesuatu yang dipelajari; ia adalah sesuatu yang dialami.
Selama 1x24 jam tinggal di rumah Aman Lepon, saya bersama tim, mendapatkan pengalaman yang berharga. Pertama; Menangkap Ikan di Sungai. Aktivitas ini bukan hanya mencari makanan, tetapi ritual kerja sama.
Dalam antropologi subsistensi, hal ini menggambarkan hubungan ekologis antara manusia dan alam. Bentuk kebersamaan seperti ini menegaskan bahwa alam bukan objek, melainkan mitra hidup.
Kedua; Mencari Ulat Sagu. Ulat sagu atau butete adalah makanan penuh protein yang dianggap berkah oleh masyarakat Mentawai. Dari sini saya belajar bahwa nilai suatu makanan tidak terletak pada bentuknya, tetapi pada makna dan manfaatnya bagi kehidupan.
Ketiga; Belajar Meracik Racun Berburu. Aman Lepon mengajarkan cara meramu racun berbasis tumbuhan. Pengetahuan ini diturunkan dari generasi ke generasi sejalan dengan konsep pewarisan budaya menurut Franz Boas (1911). Setiap racikan adalah narasi, setiap langkah adalah ingatan kolektif.
Baca Juga: Kota Padang Darurat Bencana: Sekolah Diliburkan 27–29 November, Siswa Belajar Daring dari Rumah
Dari pengalaman ini, saya memahami teori William B. Gudykunst (1988) tentang Komunikasi Antarbudaya komunikasi efektif adalah tentang mengelola ketidakpastian dan menunjukkan rasa hormat terhadap perbedaan budaya. Dan masyarakat Mentawai mengajarkan itu tanpa mereka perlu menyebutkan istilah teorinya.
Mentawai bukan sekadar pulau. Ia adalah ruang belajar, ruang merenung, dan ruang menemukan diri. Mentawai adalah puisi yang tidak ditulis, melainkan dialami.
Mentawai bak kitab alam yang tidak dibacakan, tetapi disentuh melalui langkah demi langkah. Indahnya Mentawai tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kita harus datang, menjejak tanahnya, menyentuh airnya, mendengar bisu hutan, dan merasakan pelukannya. Mentawai is Wonderful. (***)
Editor : Hendra Efison