Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jangan Tunggu Panic Buying

Hendra Efison • Kamis, 4 Desember 2025 | 17:02 WIB

Two Efly, SE
Two Efly, SE
Oleh: Two Efly, Wartawan Ekonomi

Bencana tidaklah berisiko tunggal. Bencana membawa pesan dan dampak berlipat. Regulator jangan hanya terpaku untuk menuntaskan lokasi bencana saja, dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas pun, harus diantisipasi. Belajarlah dari pengalaman demi pengalaman.

Tidak sekali ini kita ditimpa musibah. Bencana ini sudah bak periode tahunan yang datang sesuai siklusnya.

Hari ini satu-satunya akses menuju luar Kota Padang adalah via Sitinjau Lauik. Jalan satu-satunya ini haruslah di-manage dan dikelola dengan maksimal.

Jangan biarkan jalan itu diaktivitasi secara alamiah saja. Tumpukan dan tumpahan kendaraan pastilah terjadi. Buat dan lakukanlah rekayasa lalu lintas dengan efisien dan efektif.

Bencana yang terjadi di Sumbar saat ini mulai merambah kemana-mana dampaknya. Saat ini masyarakat yang terdampak bencana sudah meluas.

Betul tidak dalam bentuk fisik dan bangunan mereka yang tertimpa, tapi kebutuhan hidup warga saat ini sudah mulai terganggu pasokan dan mobilitasnya. Lihatlah di lapangan.

Benarkah? lihatlah lonjakan harga di lapangan. Cabai yang sebelumnya berkisar di angka Rp40 Ribu sampai Rp60 Ribu sudah melambung hingga tiga kali lipat.

Beras yang sebelumnya masih berkisar antara Rp15 ribu sampai Rp19 ribu per kilo kini sudah merangkak naik. Begitu juga dengan sayur mayur dan lauk pauk.

OPD dan tim TRC Pemprov harus lah bergerak cepat. Jangan tumpukan semua masalah dan minta solusi pada Gubernur dan Wagub. Gubernur dan Wagub itu sudah luar biasa pusing dan peningnya menghadapi masalah.

OPD harus mengambil peran untuk meringankan beban Gubernur. Jangan biarkan Gubernur dan Wakil Gubernur itu menjadi samsak untuk tumpuan kesalahan dan kesesalan publik. Bekerjalah, Kreatiflah dan Berinovasilah.

Satu Jalurkan

Akses jalan yang tinggal satu-satunya mestilah dikelola dengan maksimal. Rekayasa lalu lintas tak bisa hanya hitungan jam (jam singkat-red). Buka tutup sementara tidaklah solusi bijak untuk dilakukan di jalur Sitinjau Lauik. Ingat Sitinjau Lauik itu tanjakan ekstrem. Risiko mobil tonase besar untuk tersangkut, rusak dan terbalik sangatlah terbuka. Ini adalah endemy macet yang dapat menjadi kenyataan kapan saja.

Berlakukan buka tutup jalan dalam rentang jam panjang. Misalnya satu arahkan jalur kendaraan itu dalam rentang 12 jam. Misalnya pukul 06.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB satu arah dari Padang menuju Solok.

Sebaliknya pukul 18.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB diberlakukan satu arah dari Solok menuju Padang. Tempatkan petugas di dua titik ujung gerbang buka tutup. Bertegas-tegas sajalah di sana. Bagi yang madar tindak saja. Jangan kepentingan seseorang mengorbankan kepentingan orang banyak.

Ini berlaku menyeluruh. Truk Sembako bergeraklah sesuai skedul itu. Dan PNS atau pekerja yang bolak-balik Padang-Solok juga begitu. Sesuaikan pergerakan anda dengan itu. Kalau tak bisa menyesuaikan berkorbanlah. Menetaplah di daerah kerja untuk sementara waktu menjelang kondisi pulih. Setidak-tidaknya tersabungnya jalan darurat di Lembah Anai, Kabupaten Tanahdatar.

Jangan Tunggu Panic Buying

Ada psikologis publik yang harus dijaga dan jangan sampai terjadi. Kelangkaan sejumlah barang dan melambung tinggi sejumlah harga barang mustilah diantisipasi. Tim Reaksi Cepat Bidang Ekonomi Sumbar harus menyadari dan mengantisipasi ini.

Soal perut dan kelangsungan hidup orang tak akan bisa sabar. Kelangkaan demi kelangkaan, lambungan harga dari waktu ke waktu kalau tak diantisipasi dapat menimbulkan kepanikan. Trush publik dipastikan terganggu. Kepercayaan akan selalu tersedianya barang dan jasa yang dibutuhkan untuk kebutuhan menjadi hilang. Bila ini terjadi jangan salahkan aksi dan panic buying melanda warga.

Jangan meremehkan Panic Buying. Walau terkesan sesaat tapi memulihkan dampaknya juga tak kalah suah dibandingkan dampak bencana. Bertindak dan bekerja keraslah Tim Reaksi Cepat (TRC). Janganlah bertindak seperti paku, tak ditokok tak berjalan. Tak diperintahkan tak berkreasi.

Parlemen Sumbar Bisu

Bisu tak saja mendera manusia. Lembaga sekelas penyambung lidah masyarakat juga ikut membisu. DPRD Sumbar seperti hilang ditelan bumi dan ikut bersama sama menonton eksekutif tertatih tatif menghadapi bencana. Tak terlihat langkah dan upaya mereka ikut membantu dan meringankan beban pekerjaan eksekutif secara kelembagaan yang menjadi mitra kerjanya.

Macet di Sinjau Lauik tidaklah terjadi hari ini saja. Di hari normalpun kemacetan melanda Sitinjau Lauik. Kenapa tuan tuan di DPRD Sumbar diam saja. Kemana rasa dan tanggung jawab tuan-tuan untuk memperjuangkan rakyat yang tuan-tuan wakili.

Awasi dan kawallah OPD OPD teknis itu dalam bekerja. Jangan hanya menyalahkan Gubernur dan Wakil Gubernur saja. Panggil OPD yang terkait, tanyai mereka apa yang mereka lakukan untuk meringan beban publik. Bertindak dan bekerjalah.

Perbanyak Pasokan dari Luar Sumbar

Selain mengendalikan arus lalu lintas di Sitinjau Lauik TRC juga harus mendesak para penyedia Sembako memaksimalkan pasokan dari luar kota Padang. Seperti BBM dan Sembako lainnya. Harga sesuai hukumnya taklah bisa dikendali dengan mudah. Harga memiliki mekanisme dan hukum pasar sendiri. Barang payah dan langka sudah dipastikan melambungkan harga, satu-satunya jalan menekan dan mengendalikannya adalah guyuran pasokan. Bekerjalah.

Maksimalkan Kolaborasi

Tak mudah mengatasi dampak bencana. Itu pulalah gunanya dibentuk organisasi lintas sektor dan lintas daerah agar memudahkan dalam menangani masalah. Bencana membutuhkan koordinasi dan kolaborasi dalam bekerja. Jangahlah kita menunggu diminta atau diaundang untuk turut serta. Bekerja dan berkontribusilah sesuai dengan tanggung jawab dan skill yang kita punya.

Hentikan saling menyalahkan. Tak ada juga gunanya meratapi apa yang sudah terjadi. Kenapa ini terjadi, kenapa itu terjadi. satukan titik pikiran dan pekerjaan apa yang harus kita lakukan bersama ke depannya. Dunia usaha, bekerja maksimalkan untuk memastikan barang dan jasanya tersedia di pasar dan konsumen bertindak wajar-wajar sajalah. Jangan sampai ada terbetik keinginan untuk menumpuk sesuatu demi kebutuhan beberapa hari dan minggu ke depan. Mari satukan langkah dan pikiran. Bersama-sama kita mengatasi dampak bencana ini. (***)

Editor : Hendra Efison
#rekayasa lalu lintas #Sitinjau Lauik #akses Padang #bencana sumbar