PADEK.JAWAPOS.COM-Ibadah haji bukan hanya ritual spiritual tahunan, tetapi juga menghadirkan potensi besar berupa ekosistem ekonomi yang sangat besar, kompleks, dan saling terhubung.
Dengan jumlah jamaah haji Indonesia yang terus meningkat setiap tahun, aktivitas ekonomi di sekitar penyelenggaraan haji ikut tumbuh dan menciptakan peluang signifikan bagi daerah.
Ekosistem ekonomi haji mencakup rangkaian aktivitas ekonomi yang terjadi sebelum, saat, dan setelah pelaksanaan ibadah haji. Mulai dari penyediaan layanan perjalanan, pelatihan manasik, perbankan syariah, penukaran valuta, transportasi, kuliner, hingga sektor UMKM yang menyediakan berbagai produk kebutuhan jamaah.
Jika dikelola dengan tepat, ekosistem ini tentunya dapat menjadi sumber value yang kuat bagi daerah.
Sumbar, sebagai provinsi dengan minat masyarakat yang tinggi terhadap penyelenggaraan ibadah haji dan budaya religius yang kuat, memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem ekonomi haji yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Sebagai daerah dengan kultur Islam yang kental, jaringan pesantren yang luas, dan tingkat partisipasi jamaah tinggi, Sumbat memiliki modal sosial dan ekonomi untuk mengembangkan ekosistem ekonomi haji.
Tidak hanya melahirkan banyak jamaah haji baru setiap tahun, tetapi juga menyediakan berbagai potensi ekonomi yang bisa berkembang mulai dari UMKM Produk haji seperti perlengkapan haji (kain ihram, mukena, tas manasik), herbal kesehatan, makanan kering khas Sumbar (dendeng, rendang, rakik, sanjai dan lainnya),produk fesyen syariah, dapat menjadi komoditas unggulan yang masuk ke pasar jamaah haji.
Selain UMKM, Sumbar juga memiliki berlimpah ulama, lembaga syariah, dan pesantren yang bisa membangun center of excellence edukasi haji. Ini bukan hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga bisa menarik peserta dari luar daerah.
Ekosistem ekonomi haji dapat memberikan sejumlah manfaat nyata bagi perekonomian Sumbar, di antaranya penciptaan lapangan kerja dari sisi outlet UMKM hingga pelatihan manasik, banyak sektor yang dapat menyerap tenaga kerja lokal.
Aktivitas ekonomi haji tentunya akan meningkatkan perputaran uang di daerah, termasuk pajak daerah, retribusi, hingga peningkatan pendapatan sektor jasa.
Dan, keterlibatan UMKM dalam penyediaan kebutuhan jamaah haji akan mengangkat produk lokal ke pasar yang jauh lebih luas, sehingga slogan UMKM naik kelas menjadi sebuah keniscayaan.
Salah satu contoh kuat potensi ekonomi haji yang sangat relate untuk dikembangkan adalah rendang, rata-rata 90% jamaah calon haji embarkasi Sumbar membawa rendang sebagai salah satu makanan yang wajib hadir di tanah suci, di saat makanan yang ditawarkan jauh dari cita rasa lidah Minang.
Tentunya rendang yang saat ini sudah menjadi cita rasa nusantra bisa menjadi salah satu altrenatif utama bagi jamaah Indonesia bukan hanya jamaah Sumbar.
Dengan potensi 3.928 jamaah embarkasi di tahun 2026 ini, dengan rata-rata pengambilan 1 kg rendang per masing-masing, maka akan bergerak rantai penjualan sebesar Rp 1.178.400.000, belum lagi dendeng kering, sanjai dan beberapa panganan Minang lainnya.
Agar ekosistem ekonomi haji benar-benar berdampak besar dan terealisasi, beberapa langkah strategis dapat dilakukan di antaranya: Pembentukan hajj economic hub.
Pusat aktivitas ekonomi haji berbasis kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian haji dan Umrah, MUI, BPKH, bank syariah, dan UMKM.
Untuk menguatkan produk unggulan UMKM, dibutuhkan penguatan kualitas dan sertifikasi halal agar produk Sumbar dapat masuk ke pasar haji nasional dan internasional.
Jelas, dibutuhkan kemitraan dengan BPKH untuk mengoptimalkan peluang investasi daerah dalam portofolio syariah melalui kerja sama sesuai regulasi.
Kementerian Haji dan Umrah sebagai operator pelaksanaan ibadah haji dan umrah di Indonesia sesuai dengan Perpres No 92 Tahun 2025 tentang Kementerian Haji dan Umrah tanggal 8 September 2025, juga melihat ekonomi haji ini menjadi peluang besar yang harus diproses secara serius.
Untuk penguatan implementasinya, Kementerian Haji dan Umrah RI secara khusus memiliki Direktorat Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah yang intens melakukan langkah-langkah strategis bersama stakeholder lainnya dalam menghadirkan kebermanfaatan lebih bagi ekosistem ekonomi haji Indonesia.
Ekosistem ekonomi haji adalah peluang besar yang belum digarap secara optimal. Dengan jumlah calon jamaah yang terus meningkat setiap tahun, ekosistem ini dapat menjadi sektor unggulan baru bagi Sumbar, sehingga momentum untuk transformasi ekonomi syariah daerah bisa terlaksana
Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, haji adalah gerbang bagi penguatan ekonomi daerah berbasis syariah. Saatnya Sumbar mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem ekonomi haji yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan demi kesejahteraan umat dan kemandirian ekonomi Ranah Minang. (*)
Editor : Eri Mardinal