PADEK.JAWAPOS.COM-Pariwisata Sumatera Barat membutuhkan perubahan paradigma mendasar. Wisata bukan sekadar kunjungan ke objek tertentu, tetapi perjalanan merasakan peradaban. Prinsip ini sebenarnya telah diperjuangkan sejak lama, namun tidak selalu mendapat pemahaman penuh dari berbagai pihak.
Di tingkat global, pariwisata modern bergerak dari konsep “tourist object” menjadi “tourism feel”, yaitu bagaimana wisatawan merasakan budaya, sejarah, lingkungan, dan cara hidup masyarakat lokal.
Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat sesuatu, tetapi untuk menikmati pengalaman yang menyeluruh. Mereka bersedia tinggal lebih lama ketika sebuah daerah menawarkan amenitas dan akomodasi berkelas dunia yang memungkinkan mereka menyelami kehidupan masyarakat setempat.
Karena itu, membangun peradaban menjadi fondasi utama bagi pengembangan pariwisata Sumbar.
Sumatera Barat sebenarnya telah memiliki arah yang jelas melalui Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPParda). Dokumen tersebut membagi wilayah ke dalam empat cluster wisata, yaitu budaya Minangkabau otentik di Pagaruyuang dan sekitarnya, wilayah warisan dunia di Sawahlunto, jalur geopark di kabupaten dan kota yang mengikuti patahan Sumatera, serta wisata bahari di pesisir barat.
Pembagian ini menunjukkan bahwa kekuatan utama pariwisata Sumbar bertumpu pada budaya, sejarah, geologi, dan lanskap alam, bukan sekadar wahana buatan.
Permasalahan muncul ketika implementasi di lapangan sering berubah-ubah mengikuti tren sesaat. Konsep sudah ada, arah sudah ditetapkan, namun konsistensi pelaksanaannya masih menjadi pekerjaan besar.
Tanpa disiplin dalam menjalankan strategi, pembangunan pariwisata hanya akan berjalan sporadis dan jauh dari tujuan jangka panjang.
Kesalahan pemahaman paling umum adalah menganggap pariwisata identik dengan objek wisata. Pemikiran seperti ini mendorong pembangunan spot foto, taman tematik, atau wahana mekanik dengan harapan menarik wisatawan secara instan.
Padahal wisatawan datang untuk mencari cerita dan peradaban, bukan hanya tiket masuk ke sebuah tempat. Inilah alasan mengapa Lawang Park di Kabupaten Agam dibangun sebagai view point untuk menceritakan Geopark Sianok–Maninjau, bukan semata menjadi objek wisata baru. Pendekatan serupa juga akan diterapkan di kawasan Gunung Talang Kabupaten Solok sebagai upaya memperkuat narasi geopark dan edukasi geologi.
Untuk bersaing di lanskap pariwisata dunia yang semakin kompetitif, Sumatera Barat perlu mengintegrasikan pendekatan experience-based tourism dengan standar global destination excellence.
Banyak negara yang berhasil memperkuat industrinya bukan melalui pembangunan objek baru, melainkan lewat orkestrasi pengalaman yang holistik.
Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan serta Spanyol adalah contoh negara yang menempatkan narasi budaya, kenyamanan perjalanan, serta edukasi geologi dan alam sebagai satu kesatuan.
Daya tarik pengalaman budaya tidak hanya mendongkrak angka kunjungan tetapi juga memperluas durasi tinggal dan pengeluaran wisatawan di luar destinasi wisata tradisional.
Sumbar memiliki potensi yang sama, tetapi membutuhkan konsistensi dalam menjalankan strategi tersebut agar mampu bersaing dengan destinasi berkelas dunia.
Di era digital, keberhasilan destinasi juga sangat dipengaruhi oleh transformasi teknologi. Wisatawan global mengandalkan informasi berbasis real-time, kurasi pengalaman yang personal, dan integrasi platform digital yang memudahkan mereka memahami cerita di balik sebuah lokasi.
Karena itu, konsep geopark, warisan budaya, dan peradaban lokal perlu diperkaya dengan interpretasi digital seperti smart signage, augmented reality storytelling, hingga platform edukasi daring yang memperluas literasi sejarah dan geologi Sumbar.
Dengan langkah ini, wisatawan tidak hanya berkunjung, tetapi terlibat aktif dalam pembelajaran budaya yang mendalam.
Lebih jauh lagi, arah pembangunan pariwisata dunia kini menempatkan masyarakat lokal sebagai pusat ekosistem. Model community-led tourism terbukti menjadi formula paling efektif dalam menjaga keberlanjutan destinasi, sekaligus memastikan manfaat ekonomi dirasakan merata.
Sumatera Barat memiliki modal sosial yang kuat melalui struktur adat, nagari, dan kearifan lokal. Jika elemen-elemen ini diposisikan sebagai aktor utama dalam pengembangan pariwisata, maka Sumbar tidak hanya mempromosikan peradaban Minangkabau sebagai cerita, tetapi menjadikannya sebagai sistem hidup yang dapat dirasakan langsung oleh wisatawan global.
Sudah saatnya Sumbar meninggalkan pola pikir “ukia-ukia” atau mudah mengubah konsep mengikuti tren yang lewat. Pembangunan yang tidak berkelanjutan sebagaimana sudah disepakati di RPJP, RPJMD dan RIPParda.
Pariwisata tidak bisa dibangun dengan pendekatan reaktif. Daerah membutuhkan komitmen untuk menjaga arah pembangunan yang telah ditetapkan sejak awal.
Ketika sebuah daerah berhasil membangun peradabannya secara konsisten, wisatawan akan datang bukan hanya untuk melihat pemandangan, tetapi untuk merasakan pengalaman yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Negara-negara yang telah mengintegrasikan pengalaman budaya dan heritage dalam strategi pariwisata menunjukkan hasil nyata dalam peningkatan kunjungan internasional. Segmen wisata budaya dan kuliner tumbuh signifikan.(*)
Editor : Heri Sugiarto