Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

IKM Merajut Ranah dan Rantau

Two Efly • Sabtu, 11 April 2026 | 19:41 WIB
IKM merajut hubungan ranah dan rantau melalui pelantikan DPP di DPR RI, memperkuat kolaborasi ekonomi, sosial, dan budaya perantau Minangkabau.
IKM merajut hubungan ranah dan rantau melalui pelantikan DPP di DPR RI, memperkuat kolaborasi ekonomi, sosial, dan budaya perantau Minangkabau.

Oleh: Two Efly, Wartawan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026, ada nuansa berbeda di Gedung DPR RI. Gedung wakil rakyat di jantung Jakarta itu dipenuhi ribuan urang awak dari berbagai penjuru perantauan. Anak-anak rantau berkumpul, bersilaturahmi, dan menggelar hajatan besar yang sarat makna.

Agenda utamanya adalah pengukuhan dan pelantikan Dewan Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM). Sejumlah tokoh masyarakat dari ranah dan rantau tampak hadir menyaksikan momentum tersebut. Kepala daerah dari Sumatera Barat ikut meramaikan. Tokoh-tokoh perantau pun meluangkan waktu untuk datang. Bahkan menantu urang awak yang kini menjadi Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, didapuk untuk melantik pengurus DPP IKM.

Bagi masyarakat Sumatera Barat, IKM bukan sekadar organisasi paguyuban biasa. Kehadirannya jauh melampaui fungsi sebagai wadah berkumpul. Organisasi yang dipimpin Andre Rosiade itu telah menjalankan berbagai kegiatan nyata untuk merajut kembali hubungan ranah dan rantau. Mulai dari kegiatan ekonomi dengan memperkenalkan produk khas Sumatera Barat ke mancanegara, hingga hadir di tengah masyarakat saat bencana melanda kampung halaman.

Dalam catatan penulis, banyak hal telah dilakukan IKM. Mulai dari festival budaya dan promosi produk daerah di Tokyo, Jepang, hingga berbagai kegiatan domestik di dalam negeri. Sebut saja fasilitasi berbagai agenda warga perantau, termasuk program mudik bersama yang kini menjadi agenda tahunan.

Program mudik bersama itu benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Saat “sayok senteang” dan rasa rindu memuncak untuk menjumpai keluarga di kampung halaman, IKM hadir memfasilitasi. Puluhan bus disediakan. Ratusan, bahkan ribuan perantau telah diantar pulang ke ranah.

Begitu pula ketika bencana datang silih berganti menerpa Sumatera Barat. IKM hadir bak "sitawa jo sidingin" bagi tubuh yang sedang lemah. Bantuan moril dan materil disalurkan. Dukungan diberikan agar masyarakat yang tertimpa musibah dapat bangkit dan pulih kembali.

Baca Juga: Wawako Payakumbuh Tekankan Pendidikan Agama di Khatam Al Quran

Wadah Sosial dan Budaya

Sebagai sebuah organisasi, IKM memiliki visi dan misi yang jelas. Ia lahir dari rasa kepedulian terhadap sesama anak rantau sekaligus panggilan moral untuk membantu kampung halaman.

Bagi masyarakat Minangkabau, ranah dan rantau ibarat "aua jo tabiang" (dua unsur yang saling menguatkan).

Tabiang indak ka runtuh salagi aua tagak mancakok jo ureknyo. Aua indak ka rabah karano tanah tagak manjago tampek tumbuahnyo. Walau terpaut jarak, setinggi-tinggi batang aua, nan pucuak tatap mambungkuak mancaliak jo manyilau tanah tampek tumbuah.

Begitulah filosofi hubungan ranah dan rantau dalam budaya Minang: saling menopang, saling menguatkan, saling menjaga.

Bagi anak Minang, sejauh apa pun merantau, tak akan pernah lupa pada kampung halamannya. Tanah kelahiran tetap terpatri di lubuk hati paling dalam. Pulang kampung dan mudik selalu menjadi impian setiap tahunnya. Gema takbir yang berkumandang di ujung Ramadan menjadi panggilan untuk pulang.

Seperti petuah lama: Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun. Merantau adalah sekolah kehidupan. Tempat menimba pengalaman, menempa diri, dan mengasah kemampuan. Ketika misi selesai, panggilan untuk kembali membangun kampung halaman menjadi keniscayaan.

Baca Juga: Monev OPD Payakumbuh 2026 Digeber, Realisasi Program Jadi Sorotan

Dalam konteks itulah IKM hadir. IKM bukan sekadar tempat berkumpul. Ia adalah wadah pemersatu, penggerak potensi, sekaligus jembatan penghubung antara ranah dan rantau.

Ranah Hari Ini

Hari ini, salah satu persoalan besar yang dihadapi Sumatera Barat adalah mulai “mengaburnya” jembatan emosional antara ranah dan rantau. Dua kekuatan besar Minangkabau ini perlahan terpisah oleh kesibukan dan dinamika kehidupan masing-masing.

Ranah sibuk bergelut dengan keterbatasan ekonomi. Bencana datang pula silih berganti. Belum selesai penanganan banjir lahar dingin Gunung Marapi tahun 2024, datang lagi bencana hidrometeorologi di penghujung 2025.

Kedua bencana itu menimbulkan korban jiwa serta kerugian dan kerusakan yang sangat besar.

Di saat bersamaan, kapasitas fiskal daerah juga menurun. APBD provinsi maupun kabupaten/kota tergerus. Padahal kebutuhan dana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana sangat besar.

Ranah hari ini ibarat anak gadis jelita yang sedang tertimpa musibah. Wajahnya masih cantik, potensinya luar biasa, tetapi membutuhkan uluran tangan.

Baca Juga: BPBD Payakumbuh Cek Peralatan dan Logistik, Pastikan Siaga Bencana

Dalam kondisi seperti itu, organisasi-organisasi perantau seperti IKM, Gebu Minang, Indo Jalito, dan lainnya diharapkan hadir membantu.

Ranah membutuhkan bantuan, energi baru, serta dukungan ekonomi.

Produk pertanian dan UMKM Sumatera Barat membutuhkan hilirisasi dan inovasi agar memiliki daya saing.

Kamanakan Ba Mamak Rami

IKM hadir bukan untuk meniadakan organisasi perantau lainnya, melainkan melengkapi.

Setiap organisasi memiliki segmen, kekuatan, dan fokus masing-masing.

Semakin banyak pihak yang peduli, semakin kuat pula dukungan terhadap pembangunan di ranah.

Kehadiran IKM menjadi energi tambahan dalam mendorong pembangunan daerah.

Selamat untuk IKM. Teruslah berbuat nyata bagi ranah dan rantau.

Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.
Ta tungkuik samo makan tanah, ta tilantang samo minum aia.

Baca Juga: Pemko Payakumbuh Percepat ETPD, Siap Hadapi Evaluasi TP2DD 2026

Besarnya Potensi Rantau

Rantau Minang memiliki keterikatan kuat dengan kampung halaman. Rasa rindu dan kepedulian tetap terjaga meskipun jarak memisahkan.

Secara populasi, etnis Minangkabau tergolong besar. Sekitar 6 juta jiwa berada di ranah, sementara jumlah di perantauan diperkirakan jauh lebih banyak.

Banyak perantau Minang yang sukses di berbagai bidang, mulai dari bisnis, pendidikan, teknologi, birokrasi, hingga politik.

Potensi tersebut menjadi kekuatan yang dapat dimaksimalkan untuk pembangunan daerah.

Ranah juga perlu berbenah, membuka diri terhadap perubahan, serta memperkuat kesiapan dalam menyambut investasi dan kolaborasi.

Dengan sinergi antara ranah dan rantau, pembangunan yang berkelanjutan diharapkan dapat terwujud.

Selamat atas pelantikan DPP IKM. Dari ranah, harapan besar terus disematkan. (***)

Editor : Hendra Efison
#IKM Merajut Ranah dan Rantau #pelantikan DPP IKM #ranah dan rantau #Perantau Minangkabau