Penulis: Ronny P Sasmita - Analis Senior ISEAI dan Peneliti Senior Tamu di CIDS University of the Philippines
PADEK.JAWAPOS.COM - Pada tanggal 7 April 2026, Donald Trump melalui akun media sosialnya masih mengirimkan ancaman pembumihangusan Iran, pengulangan yang terus ia tuliskan sejak beberapa hari sebelumnya karena kebuntuan militer di Selat Hormuz. Namun sehari kemudian, suasana berubah cukup drastis. Trump mengumumkan jeda selama dua minggu, di mana serangan militer akan dihentikan untuk diteruskan di meja perundingan yang akan dilaksanakan di Islamabad, Pakistan.
Beberapa jam setelah itu, di hari yang sama waktu Indonesia (tepatnya di Bandung), saya mendapat pesan dari salah satu lembaga kajian strategis di Islamabad untuk mempertimbangkan keikutsertaan di acara tersebut, terutama dalam rangka memantau perkembangan dan membuat berbagai skenario dan analisis yang dibutuhkan agar “peace deal” terjadi dan disepakati. Sembari mempertimbangakan tawaran tersebut, saya menghubungi dan berbicara dengan salah satu kolega saya di salah satu lembaga kajian di bawah University of the Philippines, Quezon City, Metro Manila, lalu berlanjut konsultasi dengan salah satu sinshe alias profesor di kajian Asia Univeristy of Tokyo.
Alhasil, keputusanpun akhirnya disepakati bahwa saya harus berangkat ke Islamabad sendiri di tanggal 10 April, mewakili sebuah lembaga kajian di Manila dan Tokyo. Pertimbangannya karena saya paling lama dan paling banyak punya pengalaman di Pakistan, terutama terkait penelitian politik, geopolitik, terorisme, dan sejenisnya, termasuk juga karena sudah memiliki jaringan cukup luas di sana. Tak pelak, malam harinya, saya harus menyiapkan paper rekomendasi dan segala hal yang dibutuhkan untuk diserahkan kepada lembaga kajian di Islamabad sekira beberapa puluh lembar, yang tentunya akan diteruskan ke kantor Perdana Menteri dan Head Quarter Militer Pakistan, dua lembaga utama yang menjadi aktor sentral keterlibatan Pakistan di dalam penyelesaian perang Amerika-Iran.
Karena dadakan, tiket yang didapat pun kurang sesuai dengan keinginan. Saya harus mengalami transit dua kali, di Singapura dan Qatar, baru kemudian terus ke Islamabad. Jelang subuh dari Jakarta, saya sampai di Islamabad setelah Isa waktu setempat, mengingat waktu di Islamabad di belakang Jakarta sekitar dua jam.
Tanpa memberi waktu untuk berganti pakaian terlebih dahulu ke Serena Hotel, sesampai di bandara, bersama dengan tim dari Islamabad Policy Research Institute (IPRI), yang notabene salah satu “think tank” pemerintahan Pakistan, saya langsung dibawa ke kantor salah satu petinggi militer Pakistan di Rawalpindi, lokasi yang menjadi Head Quarter Militer Pakistan alias penguasa “sejati” di Pakistan yang bisa mengganti penguasa sipil jika tak lagi disukai. Beberapa puluh lembar hasil kajian dan empat lembar rekomendasi skenario kesepakatan damai saya serahkan, sembari memberikan penjelasan lisan dan diskusi lebih kurang 2 jam.
Selepas dari Rawalpindi, barulah saya langsung menuju ke Serena Hotel, hotel di mana rombongan dari Amerika, mulai Jared Kusher, Steve Witkoff, dan beberapa tim negosiasi lainya akan menginap. Di malam yang sama, para tim negosiator dari Iran yang dipimpin Abbas Araghchi juga telah mendarat di bandara Noor Khan Airbase, juga di Rawalpindi. Utusan Iran disambut Jenderal Asim Munir dengan sangat hangat.
Di Serena Hotel, setelah mandi dan ganti pakaian, jelang tengah malam waktu Islamabad, seperti biasa, ketimbang ditemani penyakit insomnia layaknya di Jakarat atau Manila, saya mengajak kolega dari IPRI untuk pergi ke seberang jalan utama di depan hotel, tepatnya di Jinnah Convention Hall, di mana pertemuan dan perundingan utama akan dilangsungkan keesokan harinya. Kurang lebih satu jam melihat-lihat persiapan fisik di dalam gedung, sayapun memutuskan untuk kembali ke hotel, menghabiskan segelas kopi dan beberapa batang rokok di rooftop hotel, sebelum akhirnya memutuskan untuk berlarut-larut di dalam kamar hotel. Keesokan harinya adalah salah satu waktu yang ditunggu-tunggu, di mana negosiasi formal akan dilangsungkan di mana Amerika akan diwakili oleh wakil presiden, JD Vance. Pagi-pagi Islamabad sudah sibuk, padahal weekend, karena orang penting dari Paman Sam akan mendarat. Sementara Jared Kusher dan Steve Witkoff, sebagaimana biasanya, sudah datang terlebih dahulu. Semua rombongan dari Amerika terlebih dahulu ke kantor Perdana Menteri, disambut Sebhaz Syarief, yang juga berlangsung sangat hangat dan meriah. Saya tidak menyaksikan pertemuan di kantor tersebut, karena memilih ajakan teman lama di Islamabad untuk melihat destinasi baru di sekitaran Perbukitan Margalla, masih di sekitaran Islamabad. Sekembalinya ke Jinnah Convention Hall sore hari, perundingan masih alot dan belum selesai. Lagi-lagi saya memilih menjauh dari TKP, dan kembali mencari tempat tongkrongan sembari terus berkomuniaksi dengan kawan-kawan di IPRI terkait update realtimes perundingan. Singkat cerita, 21 jam perundingan formal buntu. Sebagaimana asumsi awal yang saya sampaikan di malam sebelumnya, “dari semua skenario yang dibuat tim Islamabad maupun tim saya, chance-nya memang sangat tipis, kisaran 5-10 persen, sisanya akan deadlock”. JD Vance muncul di media-media dan mengumumkan fakta formal tersebut bahwa perundingan gagal.
Tapi itu hanya separuh dari cerita. Sebagaimana biasanya, Amerika selalu memainkan dua kartu di setiap diplomasinya, kartu “Bad Cop” dan “Good Cop”. Dalam hal ini, JD Vance memainkan peran sebagai polisi buruk, yang tak akan bernegosiasi selain 15 points permintaan Amerika terpenuhi. Deadlock yang terjadi bukan lagi soal masalah teknis, tapi benturan kedaulatan. Isu nuklir menjadi dinding penghalang terbesar. Amerika menegaskan “tidak ada pengayaan di tanah Iran”, sementara Iran menganggap pengakuan atas pengayaan adalah harga diri nasional yang tidak bisa ditawar. Setiap poin tuntutan Amerika dirancang untuk melucuti taring Iran secara permanen, sementara setiap poin Iran dirancang untuk menjamin kelangsungan rezim di tengah ancaman kehancuran fisik.
Situasi semakin rumit ketika Iran membawa isu serangan Israel ke Lebanon sebagai bagian integral dari negosiasi. Teheran menuntut agar gencatan senjata mencakup penghentian operasi militer Israel terhadap Hizbullah. Namun, posisi Israel yang disampaikan Benjamin Netanyahu dari Yerusalem sangat jelas bahwa Israel tidak terikat oleh Islamabad Talks. Bagi Israel, operasi di Lebanon adalah hak bela diri yang terpisah dari perang Amerika-Iran. Divergensi ini mengubah Lebanon menjadi “garis patahan” yang menghancurkan stabilitas perundingan. Iran merasa mustahil memberikan konsesi di Teluk jika sekutu terdekatnya di Levant sedang dihancurkan, sementara Amerika Serikat tampaknya tidak mampu atau tidak mau menekan Israel untuk menghentikan kampanye militernya.
Namun, dalam panggung geopolitik tingkat tinggi, apa yang terlihat di permukaan seringkali hanyalah distraksi. Meskipun delegasi formal telah kembali ke Washington, data off the record dan pergerakan logistik intelijen di Islamabad mengungkapkan bahwa Steven Witkoff dan Jared Kushner masih berada di Pakistan. Mereka tidak lagi berada di Serena Hotel, melainkan dipindahkan ke lokasi yang jauh lebih tersembunyi, kemungkinan sebuah safe house yang dikelola oleh intelijen Pakistan di Sektor E-7. Kerahasiaan ini adalah kunci dari strategi dua jalur Amerika Serikat. Jalur pertama adalah JD Vance yang berfungsi sebagai “Bad Cop”, menyuarakan tuntutan formal 15 poin yang kaku untuk memuaskan basis politik domestik dan sekutu regional. Jalur kedua adalah Kushner dan Witkoff (Good Cop), para negosiator transaksional yang sedang merajut diplomasi bayangan yang jauh lebih cair di belakang layar.
Strategi jalur informal ini memiliki target yang jauh lebih pragmatis dan berorientasi pada hasil bisnis. Target maksimal adalah membangun kerangka kerja “Grand Bargain” di mana Iran bersedia menyerahkan kontrol nuklir secara de facto sebagai imbalan atas integrasi ekonomi besar-besaran dan partisipasi dalam proyek-proyek infrastruktur regional yang didanai dengan modal internasional. Sementara target minimalnya adalah menjaga agar Selat Hormuz tetap terbuka melalui “protokol navigasi” rahasia guna mencegah kehancuran ekonomi global, meskipun status perang belum berakhir sepenuhnya. Jadi di belakang layar, negosiasi pintu belakang akan terus berlanjut, karena jeda dua minggu masih terhitung sampai tanggal 22 April 2026. Saat tulisan ini ditulis, saya masih mendapatkan informasi dari kawan-kawan di kantor Perdana Menteri, poin-poin yang kami buat masih terus mengalir di belakang layar kepada kedua pihak. Harapannya, akan ada satu irisan yang disepakti bersama, meskipun seminimal mungkin, sehingga perang terhenti, selat Hormuz kembali dibuka, dan negosiasi lanjutan tetap terjadi, terserah di mana pun di bumi ini, selama arahnya untuk perdamaian lebih lanjut. Semoga. (*)
Editor : Adriyanto Syafril