Setiap 1 Oktober kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Namun, kesaktian tidak cukup diucapkan. Kesaktian harus dirasakan. Hari ini, Pancasila sedang diuji. Bukan oleh ideologi komunis seperti pada 1965, melainkan oleh gempuran budaya asing yang masuk melalui gawai, algoritma, dan gaya hidup.
Generasi muda Indonesia lahir di era TikTok, Netflix, dan e-commerce 24 jam. Ironisnya, semakin cepat akses informasi, semakin lambat mereka “mengakses” Pancasila. Patriotisme terasa kuno. Gotong royong kalah oleh budaya me time. Musyawarah kalah oleh opini paling keras di kolom komentar.
Pancasila tidak hilang. Ia hanya terpinggirkan. Jika kondisi ini dibiarkan, kita berisiko mencetak generasi yang cerdas secara teknis, tetapi kosong secara nilai.
1. Kenapa Ini Terjadi? Empat Penyebab Utama
1. Banjir Konten, Kering Keteladanan
Anak muda menghabiskan 8–10 jam sehari menatap layar. Algoritma menyodorkan budaya hedonis, individualistis, dan serba instan. Flexing, sleeping around, hingga quiet quitting menjadi tren. Sementara itu, keteladanan Pancasila dari rumah, sekolah, dan pejabat publik sering kali tidak terlihat. Yang viral justru pejabat yang gemar pamer kemewahan, bukan pejabat yang turun langsung bergotong royong bersama masyarakat.
2. Pendidikan Nilai Menjadi Seremoni
PPKn dan upacara bendera masih dilaksanakan. Namun, Pancasila sering diajarkan layaknya rumus: dihafal, diujikan, lalu dilupakan. Jarang dikaitkan dengan kehidupan nyata anak muda, seperti cara memilih teman, bermedia sosial, atau bekerja dalam tim di perusahaan rintisan (startup). Akibatnya, Pancasila terasa sebagai mata pelajaran, bukan sebagai cara hidup.
3. Krisis Keteladanan Publik
Nilai sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, terasa runtuh ketika anak muda menyaksikan korupsi, nepotisme, dan penegakan hukum yang tidak konsisten. Sila ketiga, “Persatuan Indonesia”, melemah saat ruang publik dipenuhi ujaran kebencian dan buzzer politik. Anak muda bukan anti-Pancasila, melainkan anti terhadap kemunafikan.
4. Pasar Mengajarkan Individualisme
Ekonomi digital mengajarkan bahwa setiap individu adalah pusat segalanya. Semua serba personal: feed personal, belanja personal, hingga hiburan personal. Sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, kalah bersaing dengan narasi bahwa kesuksesan sepenuhnya urusan pribadi dan kegagalan adalah kesalahan individu semata.
2. Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah Prabowo Sekarang?
Presiden Prabowo memiliki modal besar berupa retorika kebangsaan yang kuat dan pengalaman militer yang identik dengan disiplin serta patriotisme. Namun, retorika tanpa strategi hanya akan menjadi slogan. Setidaknya ada tiga langkah yang perlu dilakukan.
1. “Pancasila Living Lab” di Sekolah dan Kampus
Hentikan pola ceramah semata. Ubah PPKn menjadi proyek nyata. Misalnya, implementasi sila ketiga melalui program “Satu Kampung Satu Proyek” yang melibatkan siswa dan masyarakat. Sila kelima dapat diwujudkan melalui pengelolaan koperasi sekolah. Nilai tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan.
2. Audit Konten dan Algoritma Nasional
Pemerintah perlu berdialog dengan Meta, TikTok, dan YouTube untuk memberi ruang yang lebih besar bagi konten kebangsaan dari kreator lokal. Bukan dalam bentuk sensor, melainkan afirmasi positif. Jika negara lain memiliki program penguatan konten nasional, Indonesia juga dapat mengembangkan gerakan serupa dengan pendekatan yang sesuai dengan demokrasi dan keberagaman.
3. Revolusi Keteladanan Pejabat
Anak muda sangat cepat mengenali kemunafikan. Karena itu, pejabat publik perlu menunjukkan keteladanan nyata melalui gaya hidup sederhana, kedekatan dengan masyarakat, dan program yang berdampak langsung bagi rakyat. Keteladanan adalah kurikulum yang paling efektif.
3. Solusi Mengaktifkan Kembali Pancasila dan Budaya Bangsa
Agar Pancasila menjadi rumah bagi generasi muda, bukan sekadar pajangan sejarah, diperlukan langkah konkret.
1. Pancasila Digital
Membangun platform atau aplikasi “Rumah Pancasila” yang berisi gim, komik, dan podcast bertema nilai-nilai Pancasila yang relevan dengan kehidupan generasi muda. Anak muda tidak membutuhkan khotbah panjang; mereka membutuhkan narasi yang dekat dengan keseharian.
2. Wajib KKN Pancasila
Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan nilai Pancasila di masyarakat. Misalnya, membangun program ekonomi gotong royong sebagai implementasi sila kelima.
3. Hari Tanpa Gawai Ideologi
Sekali dalam sebulan, sekolah dan kampus dapat mengadakan kegiatan tanpa telepon genggam selama beberapa jam. Kegiatannya berupa kerja bakti, diskusi sejarah, atau pentas seni daerah. Tujuannya mengingatkan bahwa kehidupan nyata lebih kaya daripada apa yang tampil di layar.
4. Duta Pancasila Milenial dan Gen Z
Pesan Pancasila perlu disampaikan oleh figur yang dekat dengan anak muda, seperti kreator konten, atlet e-sport, musisi, atau tokoh inspiratif lainnya. Bahasa komunikasi juga harus sesuai dengan karakter generasi muda.
5. Penegakan Hukum yang Berkeadilan
Tidak ada nilai Pancasila yang akan hidup jika hukum diterapkan secara tebang pilih. Sila kedua dan sila kelima hanya akan dipercaya jika masyarakat melihat keadilan benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu.
Penutup: Pancasila Bukan Dogma, Melainkan Kompas
Kesaktian Pancasila tidak diuji saat upacara. Ia diuji ketika anak muda harus memilih antara mengikuti tren hedonisme atau membantu teman yang kesulitan. Memilih menjadi viral karena nyinyir atau viral karena memberi solusi. Memilih hidup untuk diri sendiri atau hidup bersama dalam semangat kebersamaan.
Pemerintah Prabowo memiliki momentum untuk memperkuat kembali nilai-nilai kebangsaan. Saat dunia mencari model pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga identitas dan jati diri bangsa, Pancasila menawarkan jawaban yang relevan.
Tugas kita hari ini sederhana: mengembalikan Pancasila dari papan nama ke hati, dari hafalan ke tindakan. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kaya, melainkan bangsa yang memahami untuk apa kekayaannya digunakan.
Jika generasi muda Indonesia kembali menjadikan Pancasila sebagai kompas kehidupan, maka gempuran budaya asing hanya akan menjadi bumbu, bukan racun. Dengan demikian, Indonesia tidak akan kehilangan jiwanya saat mengejar kemajuan.(***)
Editor : Hendra Efison