Oleh: Endang Pribadi, Wartawan Harian Rakyat Sumbar
Babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 telah berakhir. Delapan negara, yakni Prancis, Maroko, Norwegia, Inggris, Spanyol, Belgia, Argentina, dan Swiss, memastikan langkah ke perempat final. Namun, di balik ketatnya persaingan menuju trofi juara dunia, turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola itu justru dibayangi rentetan kontroversi yang mengguncang kredibilitas penyelenggaraan FIFA.
Jika biasanya Piala Dunia dikenang karena gol-gol spektakuler dan lahirnya para pahlawan baru, edisi 2026 justru dipenuhi perdebatan mengenai keputusan wasit, penggunaan Video Assistant Referee (VAR), dugaan intervensi politik, persoalan imigrasi, hingga mahalnya harga tiket.
Berbagai polemik tersebut memunculkan satu pertanyaan yang kini ramai diperbincangkan di kalangan pengamat maupun pendukung sepak bola di berbagai belahan dunia.
Puncak kontroversi terjadi pada laga babak 16 besar antara Argentina dan Mesir. Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Argentina 3-2 itu tidak hanya menentukan satu tiket ke perempat final, tetapi juga memicu gelombang kritik terhadap kepemimpinan wasit asal Prancis, François Letexier.
Kubu Mesir menilai mereka dirugikan oleh serangkaian keputusan penting. Gol yang diyakini sah dianulir, dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah di dalam kotak penalti tidak berbuah hadiah penalti, sementara tayangan ulang melalui VAR dinilai tidak memberikan penjelasan yang memuaskan.
Seusai laga, penyerang Mostafa Zico menyebut pertandingan berlangsung tidak adil, sedangkan pelatih Hossam Hassan mempertanyakan independensi keputusan-keputusan yang diambil selama pertandingan.
Reaksi tersebut tidak berhenti di ruang ganti. Media-media internasional ikut menyoroti jalannya pertandingan dan mendesak FIFA memberikan penjelasan lebih rinci mengenai proses pengambilan keputusan wasit maupun VAR.
Hingga kini, FIFA belum menyatakan adanya kesalahan prosedur dalam pertandingan tersebut, tetapi juga belum memberikan penjelasan teknis yang mampu meredam perdebatan yang berkembang.
Kontroversi lain bahkan muncul sebelum pertandingan dimulai. Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang dijadwalkan menjadi wasit pertama dari negaranya dalam sejarah Piala Dunia, gagal memasuki Amerika Serikat setelah ditahan dalam pemeriksaan imigrasi di Bandara Internasional Miami.
Sejumlah pengamat menilai perangkat pertandingan yang telah ditunjuk seharusnya memperoleh jaminan penuh untuk menjalankan tugasnya tanpa terhambat persoalan administratif.
Belum reda polemik tersebut, FIFA kembali menjadi sasaran kritik setelah membatalkan kartu merah yang diterima penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Keputusan itu disebut sejumlah media internasional sebagai langkah yang tidak lazim dan memicu tudingan adanya pengaruh di luar mekanisme pertandingan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti resmi yang menunjukkan adanya intervensi terhadap keputusan FIFA. Badan sepak bola dunia itu juga belum mempublikasikan penjelasan lengkap mengenai proses evaluasi yang dilakukan.
Di luar lapangan, tim nasional Iran menghadapi situasi yang tidak kalah pelik. Ketegangan hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat berdampak pada proses pemberian visa bagi sebagian staf dan ofisial tim.
Iran juga harus menjalani pengaturan logistik yang lebih rumit serta diwajibkan meninggalkan wilayah Amerika Serikat segera setelah pertandingan usai.
Kondisi tersebut memunculkan kritik bahwa penyelenggaraan turnamen belum sepenuhnya mampu menjamin kesetaraan perlakuan bagi seluruh peserta.
Sorotan publik juga mengarah pada tingginya harga tiket pertandingan. Banyak pendukung mengeluhkan biaya tiket, transportasi, dan akomodasi yang membuat Piala Dunia 2026 menjadi salah satu edisi paling mahal sepanjang sejarah.
Kritik pun bermunculan karena pesta sepak bola dunia dinilai semakin sulit diakses oleh para suporter yang selama ini menjadi denyut utama turnamen.
Rangkaian kontroversi tersebut akhirnya memicu berbagai spekulasi di media sosial. Tudingan bahwa Piala Dunia 2026 merupakan "turnamen settingan" bermunculan dan menjadi perbincangan luas, terutama setelah laga Argentina kontra Mesir.
Meski opini publik berkembang, hingga kini belum ada bukti resmi yang menunjukkan bahwa hasil pertandingan diatur atau FIFA melakukan manipulasi kompetisi. Narasi tersebut masih sebatas dugaan dan opini yang berkembang di ruang publik.
Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai tudingan itu, satu hal yang sulit dibantah adalah menurunnya tingkat kepercayaan sebagian publik terhadap penyelenggaraan turnamen.
Dalam sepak bola modern, kontroversi memang tidak pernah benar-benar dapat dihindari. Namun, ketika keputusan-keputusan krusial terus memunculkan tanda tanya dan penjelasan resmi dinilai belum memadai, ruang bagi spekulasi akan semakin terbuka.
Perempat final hingga final Piala Dunia 2026 diharapkan berlangsung lebih baik, sehingga fokus publik kembali tertuju pada kualitas pertandingan, bukan pada kontroversi di luar lapangan. (***)
Editor : Hendra Efison