Oleh: Endang Pribadi, Wartawan tinggal di Kota Padang
Matahari siang itu terasa terik menyengat di Kota Padang. Di sebuah warung kopi sederhana, seorang ayah menghampiri saya dengan wajah yang penuh semangat. Tanpa banyak basa-basi, ia mengeluarkan beberapa lembar brosur dari tasnya lalu menyodorkannya ke meja.
"Ini biaya bimbel anak saya, mana yang bagus?" tanyanya.
Saya menatap angka-angka yang tertera. Paket belajar rata-rata dari bimbel yang ada di atas Rp4 juta. Sesaat saya terdiam.
Sebulan sebelumnya, ayah yang sama baru saja mengeluhkan mahalnya kebutuhan menjelang tahun ajaran baru. Dan keluhan itu, banyak saya dengar dari orang tua yang lain.
Seragam baru karena yang lama sudah usang, buku, sepatu, perlengkapan sekolah, hingga biaya lain yang menurutnya terus bertambah setiap tahun. Namun, ironisnya, jika seluruh kebutuhan sekolah itu dijumlahkan, nilainya masih lebih kecil dibandingkan biaya bimbingan belajar yang siap ia bayarkan tanpa banyak pertimbangan.
Percakapan singkat di warung kopi itu menyisakan satu pertanyaan besar. Mengapa banyak orang tua rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk bimbel, tetapi merasa berat ketika sekolah meminta dukungan demi meningkatkan kualitas pembelajaran?
Fenomena ini bukan lagi cerita baru. Di berbagai kota, termasuk Padang, bimbingan belajar tumbuh bak jamur di musim hujan. Gedung-gedung megah dengan ruang ber-AC, promosi kelulusan di kampus favorit, hingga testimoni siswa berprestasi menjadi magnet yang begitu kuat bagi para orang tua. Pendidikan seolah bergeser menjadi sebuah investasi yang harus menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat.
Bagi sebagian besar orang tua, bimbel menawarkan sesuatu yang nyata. Targetnya jelas, peningkatan nilai rapor, lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), diterima di sekolah favorit, atau masuk perguruan tinggi impian. Semua keberhasilan itu dapat diukur dengan angka dan hasil yang terlihat. Maka, biaya jutaan rupiah pun dianggap sebagai investasi yang layak untuk dikeluarkan.
Tragisnya, sekolah formal justru sering dipandang sebagai kewajiban yang murah, bahkan gratis karena mendapat dukungan pemerintah. Ketika sekolah mengajak orang tua berpartisipasi untuk memperbaiki fasilitas, memperkaya kegiatan belajar, atau mendukung program pendidikan, tidak sedikit orang tua yang mempertanyakan manfaatnya dan menyatakan, "Kami tidak ada biaya."
Padahal, sekolah memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar mengajarkan mata pelajaran. Sekolah membentuk karakter, menanamkan nilai, melatih kerja sama, membangun kepemimpinan, serta mengembangkan bakat dan kepribadian peserta didik.
Di sisi lain, bimbel memang memiliki keunggulan yang sulit dipungkiri. Kelasnya lebih kecil, suasana belajar lebih nyaman, jadwal lebih fleksibel, dan seluruh proses pembelajaran dirancang untuk satu tujuan, yaitu membuat siswa memahami materi dan berhasil menghadapi ujian.
Tutor bimbel dituntut mampu menyederhanakan konsep yang rumit agar mudah dipahami. Mereka harus kreatif, komunikatif, dan terus memperbarui metode mengajar agar siswa tidak bosan.
Di sinilah muncul ironi lain yang semakin terasa. Popularitas guru bimbel perlahan melampaui guru sekolah. Banyak siswa lebih menantikan penjelasan tutor bimbel daripada pelajaran guru di kelas. Bahkan, tidak sedikit yang merasa baru benar-benar memahami materi setelah mengikuti bimbel. Tragis.
Yang menjadi pertanyaan, apakah ini berarti kualitas guru sekolah lebih rendah? Jawabannya belum tentu.
Persoalannya mungkin bukan terletak pada kemampuan guru, melainkan pada sistem yang membelenggu mereka. Guru di sekolah formal memikul tanggung jawab yang sangat luas. Selain mengajar, mereka harus menyusun berbagai perangkat pembelajaran, mengisi beragam laporan, menyelesaikan administrasi, mengikuti rapat, hingga memenuhi berbagai tuntutan birokrasi. Tidak sedikit waktu yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki metode mengajar justru habis di depan layar komputer menyelesaikan dokumen.
Ironisnya, ukuran profesionalisme guru sering kali masih bertumpu pada kelengkapan administrasi. Ketika ada supervisi atau evaluasi, perhatian lebih banyak diarahkan pada apakah perangkat pembelajaran telah lengkap, formatnya benar, atau laporan sudah sesuai ketentuan. Sementara itu, kualitas interaksi guru dengan siswa, kreativitas mengajar, kemampuan menginspirasi, dan keberhasilan membangun suasana belajar yang menyenangkan justru belum selalu menjadi fokus utama.
Bandingkan dengan tutor bimbel. Mereka tidak dibebani tumpukan administrasi yang rumit. Energi mereka hampir sepenuhnya diarahkan untuk meningkatkan kualitas mengajar. Mereka terus berlatih menyampaikan materi secara menarik, mencari cara agar siswa cepat memahami konsep, mengevaluasi metode belajar, bahkan membangun komunikasi yang lebih dekat dengan peserta didik. Profesionalisme mereka diukur dari satu hal sederhana, yaitu siswa memahami pelajaran dan berhasil mencapai targetnya. Sesederhana itu.
Perbedaan inilah yang kemudian membentuk persepsi masyarakat. Guru bimbel terlihat lebih inovatif, lebih komunikatif, dan lebih dekat dengan kebutuhan siswa. Padahal, banyak guru sekolah sebenarnya memiliki kompetensi yang sama, tetapi ruang untuk mengembangkan kreativitasnya sering kali tersita oleh beban administratif.
Fenomena ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan. Jika masyarakat terus memandang sekolah hanya sebagai tempat memperoleh ijazah, sementara pembelajaran sesungguhnya dianggap terjadi di bimbel, maka perlahan kepercayaan terhadap sekolah formal akan semakin terkikis.
Dampaknya tidak berhenti di sana. Ketergantungan terhadap bimbel juga memperlebar kesenjangan pendidikan. Anak-anak dari keluarga mampu memiliki akses terhadap pembelajaran tambahan yang berkualitas, sedangkan mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu hanya mengandalkan sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar. Kesempatan untuk bersaing pun menjadi semakin tidak seimbang.
Anak-anak juga menghadapi tekanan yang tidak ringan. Pagi hingga siang mereka belajar di sekolah, sore atau malam melanjutkan ke bimbel. Waktu bermain berkurang, interaksi dengan keluarga semakin sempit, sementara tekanan akademik terus meningkat. Pendidikan yang semestinya menjadi proses tumbuh justru berubah menjadi perlombaan tanpa jeda.
Sudah saatnya kita mengubah cara memandang pendidikan. Bimbel bukan musuh sekolah, tetapi juga tidak boleh menggantikan peran sekolah. Yang perlu dibangun adalah sekolah yang kembali dipercaya masyarakat karena kualitas pembelajarannya, serta guru-guru yang benar-benar diberi ruang untuk menjadi pendidik, bukan sekadar pengelola administrasi.
Ketika guru dibebaskan dari beban birokrasi yang berlebihan, mereka akan memiliki lebih banyak waktu untuk membaca, belajar, berinovasi, dan menemukan cara-cara baru agar pelajaran menjadi hidup. Guru yang merdeka akan melahirkan pembelajaran yang merdeka. Dari ruang kelas yang merdeka itulah lahir generasi yang tidak hanya cerdas menghadapi ujian, tetapi juga tangguh menghadapi kehidupan. Semoga! (*)
Editor : Hendra Efison