Tepuk tangan bergema di Hanggar Lanud Sutan Sjahrir, Padang, saat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Wakasau) Marsekal Madya TNI Ir Tedi Rizalihadi SMM. memperkenalkan dua putra terbaik Sumatera Barat di hadapan tamu undangan pada Peresmian Bhakti TNI AU dalam rangka Peringatan Ke-79 Hari Bhakti TNI Angkatan Udara, Kamis (23/7/2026).
Catatan: Mhd Nazir Fahmi, Padang
KEDUANYA bukan sekadar perwira tinggi TNI Angkatan Udara. Mereka adalah putra Lubukbasung, Kabupaten Agam. Marsekal Muda (Marsda) TNI Fachrizet dan Marsda TNI Yostariza SE MTr Opsla, yang merupakan jebolan SMA Negeri 1 Lubukbasung ini telah menorehkan perjalanan panjang hingga mencapai pangkat jenderal.
Bagi masyarakat Lubukbasung, momen itu bukan sekadar seremoni. Ada rasa bangga ketika nama daerah mereka disebut di forum resmi TNI Angkatan Udara. Sebuah pengingat bahwa dari daerah yang tenang di pesisir barat Sumatera itu lahir sosok-sosok yang dipercaya mengemban tanggung jawab besar bagi negara. Namun, kebanggaan itu tidak membuat keduanya melupakan kampung halaman.
Dalam perbincangan usai kegiatan, Marsda TNI Fachrizet menaruh perhatian pada perkembangan Lubukbasung. Menurutnya, daerah tersebut telah mengalami banyak perubahan dibandingkan masa lalu.
Meski demikian, masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai dari peningkatan pelayanan publik, penguatan infrastruktur hingga penyediaan sarana pendukung yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ia juga menyinggung pentingnya komunikasi dan sinergi antarlembaga agar berbagai gagasan pembangunan dapat diwujudkan. Salah satunya adalah rencana pembentukan Pos Basarnas di Tiku beserta pengadaan peralatan pendukung yang sempat diwacanakan, namun belum terealisasi karena koordinasi yang belum berjalan optimal.
Sementara itu, Marsda TNI Yostariza melihat kemajuan daerah tidak mungkin diwujudkan oleh satu orang atau satu institusi saja. Baginya, pembangunan membutuhkan tekad bersama. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, tokoh daerah, hingga para perantau untuk memiliki tujuan yang sama dalam membangun Lubukbasung.
Semangat "satu hati", menurutnya, merupakan fondasi penting agar setiap program pembangunan dapat berjalan berkesinambungan.
Pesan kedua jenderal itu sesungguhnya sederhana, tetapi sarat makna. Kemajuan sebuah daerah bukan hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau megahnya bangunan, melainkan juga oleh kesediaan semua pihak untuk duduk bersama, menyatukan langkah, dan bekerja demi kepentingan masyarakat.
Di balik seragam kebesaran yang mereka kenakan, tersimpan kerinduan agar kampung halaman terus bertumbuh menjadi daerah yang lebih maju, lebih nyaman, dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi warganya.
Keberadaan Marsda TNI Fachrizet dan Marsda TNI Yostariza juga menjadi pesan kuat bagi generasi muda Sumatera Barat. Bahwa anak-anak dari Lubukbasung pun mampu menembus jajaran perwira tinggi TNI Angkatan Udara. Tidak ada batas bagi mereka yang memiliki disiplin, tekad, dan semangat mengabdi kepada bangsa.
Karena itu, momentum Hari Bhakti TNI AU ke-79 bukan hanya menjadi perayaan pengabdian TNI Angkatan Udara kepada masyarakat. Bagi Lubukbasung, momentum tersebut juga menjadi simbol kebanggaan.
Dua putra daerah berdiri di panggung nasional, sementara dari kampung halaman mengalir harapan agar semakin banyak generasi muda yang mengikuti jejak mereka.
Siapa tahu, beberapa tahun mendatang, dari ruang-ruang kelas di Lubukbasung akan lahir lagi jenderal-jenderal baru TNI Angkatan Udara yang membawa nama daerah ke tingkat yang lebih tinggi, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar memajukan kampung halaman yang mereka cintai.(*)
Editor : Hendra Efison