Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

dasrul • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 19:30 WIB
Dasrul Ss Msi/ Pengiat Budaya Di Sumatera Barat
Dasrul

Penulis : Dasrul - Penggiat Sepakbola di Kota Padang

Sepakbola Sumatera Barat punya darah. Lihat saja SSB di 19 kabupaten/kota, tiap sore lapangan penuh anak-anak pakai jersey. Tapi anehnya, dari ribuan bibit itu, hampir tidak ada yang tembus ke Liga 1, Liga 2, apalagi Timnas.

Kenapa? Bukan karena anak Sumbar tidak berbakat. Tapi karena tidak ada "tangga" untuk mereka naik.

Ini 5 fakta pahitnya:

1. Tidak Ada Kompetisi Remaja yang Konsisten

Bakat tidak akan tumbuh tanpa pertandingan. Di provinsi lain, ada Liga Pelajar, Liga Askot/Askab, Elite Pro Academy yang jalan tiap tahun.

Di Sumbar? Turnamen usia U-13, U-15, U-17 adanya kalau ada "event". Selesai event, selesai juga. Askot, Askab, sampai Asprov tidak punya kalender kompetisi usia muda yang reguler.

Hasilnya: Anak umur 14 tahun latihan 5x seminggu, tapi setahun cuma main 3 kali turnamen. Gimana mau matang mental bertandingnya?

2. Klub Profesional Tidak Punya "Rumah Pembinaan"

Coba sebut, klub profesional/semiprofesional di Sumbar yang punya akademi U-15 sampai U-20 yang jalan? Hampir tidak ada.

Semen Padang FC punya, tapi kuotanya terbatas dan pembinaannya belum masif ke daerah. Klub lain fokusnya bertahan di liga.

Akibatnya: Usia 17 tahun ke atas bingung. Mau gabung ke mana? Tidak ada klub yang mau "mengambil alih" bibit dari SSB untuk dibina jadi pemain profesional.

3. Anak Sumbar Dipaksa "Merantau" Sejak Dini

Karena tidak ada ruang di rumah sendiri, akhirnya orang tua terpaksa kirim anak ke Jakarta, Bandung, Malang, Sleman. Biaya mahal, risiko tinggi.

Banyak yang gagal di tengah jalan karena tidak ada yang mengawal. Padahal kalau ada ekosistem di Sumbar, anak bisa berkembang dulu 2-3 tahun di daerah sebelum "naik kelas" ke luar.

4. SSB Banyak, Tapi Jalan Sendiri-Sendiri

Ada ratusan SSB di 19 Kab/Kota. Itu potensi luar biasa. Tapi SSB hanya jadi tempat "les sepakbola". Tidak ada jembatan ke jenjang kompetisi resmi Asprov.

Tidak ada sistem scouting, tidak ada database pemain terbaik Sumbar. Jadi bakat di Solok, Pasaman, atau Pesisir Selatan tidak akan pernah dilihat oleh pemandu bakat Semen Padang FC.

5. Turnamen Ada, Tapi Asal Ada

Kalau ada turnamen usia dini, sering tidak profesional. Lapangan seadanya, wasit tidak berlisensi, jadwal molor, hadiah tidak jelas.

Ini bukan kompetisi. Ini "festival". Pemain muda butuh kompetisi yang serius: ada regulasi, ada data, ada penonton, ada jenjang juara 1 sampai degradasi. Tanpa itu, anak tidak belajar tentang tekanan dan profesionalitas.

KESIMPULAN: KITA MEMILIKI BAHAN BAKU, TAPI TIDAK PUNYA PABRIK

Sumbar ini ibarat punya kebun sawit luas, tapi tidak punya pabrik CPO. Hasilnya kita jual bahan mentah ke luar.

Di sepakbola, kita "menjual" bibit usia 15 tahun ke klub luar Sumbar dengan harga murah, bahkan gratis.

Solusinya bukan "cari bibit baru". Solusinya: BIKIN TANGGA KARIERNYA.

  1. Asprov Wajib Bikin Liga Usia Muda : U-13, U-15, U-17, U-20 yang jalan tiap tahun, home & away.
  2. Klub Profesional Wajib Punya Akademi : Jadikan syarat lisensi klub. Wajib bina 50 pemain binaan.
  3. Link SSB ke Klub : Buat sistem promosi-degradasi antar SSB. Juara SSB se-Sumbar, masuk TC Semen Padang.
  4. Anggaran APBD/APBN untuk Pembinaan : Jangan hanya untuk PON. Alokasikan untuk kompetisi usia muda.

Kalau 5 tahun ke depan kita masih begini, jangan salahkan anak Sumbar kalau lebih milih jadi atlet e-sport. Karena di sepakbola, mereka sudah tahu ujungnya: mentok. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
opini