Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Eksistensi Darul Zaman, Penyedia Jasa Setrika Arang di Pasar Raya Padang

Novitri Selvia • Kamis, 1 Desember 2022 | 11:15 WIB
FOKUS: Darul zaman menyetrika pakaian dengan menggunakan setrika arang di kedainya, Rabu (30/11).(ANDIKA/PADEK)
FOKUS: Darul zaman menyetrika pakaian dengan menggunakan setrika arang di kedainya, Rabu (30/11).(ANDIKA/PADEK)
Darul Zaman, 62, masih setia menggeluti usaha jasa setrika arang hingga saat ini. Mungkin, ia satu-satunya penyedia jasa setrika arang di Kota Padang yang masih aktif dan bertahan hingga kini.

Ia tertarik menggeluti usaha jasa setrika karena tidak membutuhkan modal yang cukup besar. Hanya bermodalkan pengalaman dan keterampilan. Oleh karena itu, ia bertekad akan selalu menggeluti usaha ini karena memang usianya yang sudah tidak mampu bekerja berat.

“Saya mulai mempelajari ilmu setrika arang sejak tahun 1973. Dan baru mulai menggeluti usaha jasa setrika arang pada tahun 1991,” tutur pria kelahiran 5 Desember 1960 ini. Kalau dilihat memang sangat mudah, hanya sekadar menyetrika, namun memerlukan ketelitian dan keterampilan,” terangnya.

Sempat beralih membuka usaha lain di bidang perdagangan dan merantau ke Kalimantan tahun 1978 hingga 1984, namun usaha yang ia rintis tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Untuk bahan baku arang, ia beli dengan harga Rp 180 ribu per karung dan bisa tahan hingga 10 hari. Sementara harga jasa setrika untuk satu helai pakaian dipatok mulai dari Rp 3.000 hingga 10.000, tergantung jenis pakaian yang disetrika.

Pengalamannya dalam usaha setrika tidak diragukan lagi, dari caranya melihat bara api pada setrika sudah bisa langsung mengetahui dengan jelas berapa suhu api. Metode yang digunakan untuk menggosok pakaian menggunakan setrika arang juga tergolong unik dan membutuhkan pemahaman terhadap bahan pakaian.

Jika pakaiannya berbahan katun dan suhu terlalu panas, untuk menurunkannya ia melapisi gosokan dengan kain dan menambah arang gosokan dengan arang basah, bahkan sesekali ia juga memercikkan air pada pakaian yang akan di gosok.

Namun jika pakaian berbahan tebal, untuk meninggikan suhu gosokan, sesekali ia mengeluarkan kotoran arang untuk menambah suhu setrika, sehingga semua bagian terjangkau oleh panas setrika.

“Kalau sedang ramai, saya bisa menggosok pakaian sebanyak 60 hingga 75 helai pakaian setiap hari,” tutur pria saat ditemui di kiosnya di lantai dua Padang Theater, Pasar Raya Padang.

Sebelum pandemi, ia bisa mendapat penghasilan sebesar Rp 200 ribu per hari, namun setelah pandemi dan keadaan sekarang dengan kenaikan harga BBM, ia hanya mampu menghasilkan paling banyak Rp 100 ribu per hari.

Kebanyakan konsumen penjahit pakaian di sekitar Pasar Raya. “Penghasilan hanya dari sini saja, alhamdulillah bisa menguliahkan anak, penghasilannya lumayan lah, bisa beli rumah, istilahnya cukup,” tuturnya.

Anak pertamanya lulusan Universitas Tanjung Pura yang sekarang sudah bekerja sebagai pegawai di kantor pajak di Kerinci. Anak keduanya lulusan Universitas Negeri Padang yang saat ini ikut suaminya bekerja, anak bungsunya baru lulus sekitar satu bulan lalu dari Universitas Dharma Andalas.

Meskipun anaknya sudah bekerja, ia mengaku tidak ingin berhenti dari pekerjaannya. “Selagi kuat Bapak akan bekerja, kalau dikasih uang sama anak tentu kita terima,” ujarnya sembari menggosok pakaian.

Selama menekuni pekerjaan, suka duka telah ia lewati. Dukanya ketika arang mengenai pakaian yang digosok kemudian rusak. Ia mengaku pernah mengganti pakaian pelanggan yang rusak. Bahkan tidak ada satupun pelanggan yang datang ke tempatnya.

Bercerita tentang sukanya, buktinya ia masih tetap bertahan hingga sekarang, bahkan mampu untuk menyekolahkan anak hingga menempuh perguruan tinggi. Ia berharap ada generasi muda yang meneruskan usahanya kelak agar menggosok secara tradisional tidak hilang di Kota Padang.

“Peminatnya sudah tidak ada, sudah banyak yang pakai setrika listrik, padahal jika ditekuni keuntungan per hari bisa mencapai Rp 200 ribu,” jelasnya.

Selain itu, ia juga berharap pemerintah lebih memperhatikan usaha-usaha kecil seperti yang ia tekuni dan mendapatkan bantuan modal usaha untuk bisa mengembangkan usaha. (***) Editor : Novitri Selvia
#pasar raya padang #Setrika arang #Darul Zaman