Sejak masa mudanya, Bagindo Aziz Chan telah menunjukkan semangat juang yang tinggi. Sebagai mahasiswa, ia aktif dalam berbagai organisasi pemuda dan ikut serta dalam pergerakan nasional. Setelah Indonesia merdeka, pada usia 36 tahun, ia dipercaya untuk memimpin Kota Padang sebagai Wali Kota pada periode 15 Agustus 1946 hingga 19 Juli 1947.
Sebagai seorang pemimpin, Bagindo Aziz Chan dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat, berjiwa pemberani, dan pantang menyerah. Ia tak kenal lelah dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Namun, perjuangannya harus berakhir tragis pada 19 Juli 1947 ketika gugur ditembak oleh serdadu Belanda di Simpang Kandih, Padang.
Rumah Kelahiran yang Kini Menjadi Museum
Untuk mengenang jasa dan perjuangan Bagindo Aziz Chan, rumah kelahirannya di Alang Laweh, Padang, telah diubah menjadi sebuah museum sejak tahun 2019. Di museum ini, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi bersejarah, seperti foto-foto, catatan pribadi, dan benda-benda peninggalan Bagindo Aziz Chan yang menceritakan kisah perjuangannya.
Menurut penuturan Ineke Aziz Chan, salah seorang anak Bagindo Aziz Chan, ayahnya adalah sosok yang sangat religius. Ia selalu menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran setelah melaksanakan salat wajib. Nilai-nilai keagamaan yang kuat ini tercermin dalam sikap dan tindakan Bagindo Aziz Chan selama hidupnya.
Peringatan 77 Tahun Gugurnya Pahlawan
Setiap tahun, untuk memperingati gugurnya Bagindo Aziz Chan, Pemerintah Kota Padang menggelar berbagai kegiatan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang jasa dan perjuangannya, serta menanamkan nilai-nilai patriotisme pada generasi muda. Beberapa kegiatan yang rutin dilakukan antara lain:
* Napak tilas: Mengikuti jejak langkah Bagindo Aziz Chan saat berjuang.
* Upacara peringatan: Menghormati jasa dan pengorbanannya.
* Kunjungan ke rumah kelahiran: Mengenang tempat di mana pahlawan itu dilahirkan.
* Ziarah dan tabur bunga: Menunjukkan penghormatan terakhir di makamnya yang terletak di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Kubu Gulai Bancah, Bukittinggi.
Semangat juang dan kepribadiannya yang luhur patut diteladani oleh generasi penerus. Dengan mengenang jasa-jasanya, kita berharap semangat perjuangannya akan terus hidup dan menginspirasi kita semua. (*)
Editor : Hendra Efison