Dalam momen peringatan Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-355, Pemerintah Kota Padang mengabadikan nama Marah Rusli sebagai ruas jalan di Kelurahan Belakang Tangsi, Kecamatan Padang Barat. Peresmiannya berlangsung Senin (5/8/2024) pagi.
Mengutip buku Ensiklopedia Tokoh 1001 Orang Minang, Marah Rusli lahir di Padang pada 7 Agustus 1889 di Padang, dari keluarga bangsawan. Ayahnya bernama Sutan Abu Bakar, seorang Demang, yang masih keturuan Raja Pagaruyung. Adapun ibunya berdarah Jawa, keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang Panglima Perang Pangeran Diponegoro.
Meskipun lebih dikenal sebagai sastrawan, sesungguhnya Marah Rusli adalah seorang Dokter Hewan. Ia masuk Sekolah Dokter Hewan di Bogor dan tamat tahun 1915.
Minat Marah Rusli terhadap sastra sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Selain gemar membaca buku, ia juga senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba yang berkeliling kampung. Roman Sitti Nurbaya yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1922, yang kemudian melegenda itu, sebenarnya berlatar pengalamannya sendiri.
Pada 1911, ketika masih bersekolah di Bogor, Marah Rusli kawin dengan seorang gadis Sunda kelahiran Bogor, Nyai Raden Ratna Kencana Wati. Perkawinan tersebut tidak diketahui oleh keluarga, dan menyebabkan orangtuanya meminta dia kembali ke Padang.
Saat di Padang, Marah Rusli dinikahkan orangtuanya dengan wanita Minang. Sebagai anak, ia tidak dapat mengelak rencana tersebut. Pernikahan akhirnya berlangsung. Namun, begitu acara pernikahan selesai, ia langsung menjatuhi talak tiga dan meninggalkan Padang. Hal tersebut membuat orangtuanya marah.
Di Jawa, Marah Rusli kembali menekuni profesinya sebagai dokter hewan. Semula, ia bertugas di Sumbawa Besar. Ia pernah menjadi Kepala Perhewanan di Bima tahun 1916. Tahun 1918, ia pindah ke Bandung untuk menjabat Kepala Peternakan Hewan Kecil. Tidak lama kemudian, ia pindah ke Blitar dan menjadi Kepala Perhewanan Daerah. Tahun 1920, ia kembali ke Bogor karena diangkat menjadi asisten leraar (dosen) pada Sekolah Kedokteran Hewan, almamaternya.
Pada tahun 1921, ia menjadi dokter hewan di Jakarta. Empat tahun kemudian ia pindah ke Balige, Tapanuli, Sumatera Utara. Keriernya terus berlanjut hingga pasca-kemerdekaan, sembari tetap menulis.
Selain Sitti Nurbaya, karya Marah Rusli yang terkenal di antaranya La Hami (Balai Pustaka, 1924), Anak dan Kemenakan (Balai Pustaka, 1956), Memang Jodoh (naskah), dan Tesna Zahera (naskah). Ia juga menerjemahkan novel karya Charles Dickens, Gadis yang Malang (1922).
Marah Rusli meninggal di Bandung pada 17 Januari 1968 dalam usia 79 tahun. Dari pernikahannya dengan Nyai Raden Ratna Kencana Wati, Marah Rusli memperoleh tiga orang anak, yakni Safhan Roesli, Roeshan Roesli, dan Nani Roesli.
Tokoh rekaan yang diciptakannya, Sitti Nurbaya, telah menjelma legenda. Di Padang, banyak yang meyakini bahwa Sitti Nurbaya bukanlah tokoh fiktif dan berupaya membuktikan keberadaannya, dengan meyakini sebuah makam di sela batu karang bukit Gunung Padang sebagai tempat berkuburnya Sitti Nurbaya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Padang menjadikan Sitti Nurbaya sebagai nama taman, jembatan, dan festival tahunan, termasuk pada momen HJK Padang ke-355 tahun ini. (*)
Editor : Hendra Efison