Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Makin Pedas, Cabai Tembus Rp70 Ribu Sekilo di Kota Padang

Silvina Fadhilah • Rabu, 22 Januari 2025 | 12:15 WIB

SUASANA PASAR: Suasana aktivitas jual dan beli di Pasar Raya Padang, Selasa (21/1).(SILVINA/PADEK)
SUASANA PASAR: Suasana aktivitas jual dan beli di Pasar Raya Padang, Selasa (21/1).(SILVINA/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Harga cabai merah di Kota Padang kembali melonjak tajam. Setelah pekan lalu berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram, kini harga melesat hingga Rp70 ribu per kilogram.

Diketahui, kenaikan ini dipicu oleh menipisnya stok cabai sejak Desember 2024, yang diperparah oleh cuaca ekstrem yang mengganggu distribusi bahan pangan.

Wahyuni Sari, 48, salah seorang pedagang di Pasar Raya Padang mengungkapkan, harga cabai jenis Jawa bahkan lebih tinggi, yakni mencapai Rp78 ribu per kilogram.

Sementara itu, cabai merah keriting lokal asal Solok kini dijual dengan harga Rp60 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp50 ribu per kilogram.

“Kenaikan harga ini tidak hanya terjadi pada cabai merah, tetapi juga komoditas lainnya. Bawang merah yang sebelumnya Rp40 ribu per kilogram kini menjadi Rp60 ribu. Sementara bawang putih naik dari Rp45 ribu menjadi Rp48 ribu per kilogram,” jelas Wahyuni.

Kenaikan harga ini juga dirasakan berat oleh pelaku usaha makanan. Rozi SR, pemilik sebuah kedai makan di kawasan Andalas, mengeluhkan lonjakan harga yang tidak stabil.

Menurutnya, harga cabai sempat turun hingga Rp38 ribu per kilogram, tetapi dalam hitungan hari kembali melonjak hingga Rp70 ribu.

“Ini benar-benar menyulitkan, apalagi penjualan sedang sepi akibat cuaca buruk. Hampir setengah pemasukan saya berkurang karena pembeli juga enggan makan di luar saat harga bahan pokok melonjak,” ungkap Rozi.

Ia juga menyoroti kenaikan harga cabai merah keriting lokal dari Padangaro, Solok Selatan, yang kini mencapai Rp60 ribu per kilogram.

Rozi mengaku harus memutar otak untuk mengatur pembelian bahan baku agar bisnisnya tetap berjalan di tengah harga yang tidak stabil.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Harif Amali Rivai, menilai kenaikan harga cabai merah ini dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem yang menyebabkan stok menipis.

Menurutnya, dalam kondisi normal, stok cabai biasanya mencukupi. Namun, saat musim hujan, hasil panen menjadi terbatas, sehingga memengaruhi ketersediaan di pasaran.

“Sekarang sudah bisa dikatakan masuk dalam krisis cabai merah, tetapi ini hanya bersifat jangka pendek. Ketika cuaca membaik dan musim panen tiba, harga akan kembali normal,” kata Harif.

Harif juga mengingatkan adanya potensi praktik moral hazard di pasar, seperti penimbunan barang oleh pedagang. Ia menyebut praktik ini sebagai salah satu penyebab utama lonjakan harga.

“Pedagang yang menimbun barang saat stok langka dan menjualnya kembali saat harga melonjak tentu memperparah situasi ini,” tegasnya.

Harif menyarankan pemerintah daerah untuk lebih aktif mengawasi distribusi bahan pokok dan mencegah praktik penimbunan.

Selain itu, mempercepat distribusi barang dari daerah lain yang stoknya masih mencukupi bisa menjadi solusi sementara untuk menekan kenaikan harga.

Di sisi lain, cuaca ekstrem yang belum membaik menjadi tantangan utama dalam memastikan pasokan cabai merah dan bahan pokok lainnya tetap stabil.

Jika kondisi ini terus berlangsung, ketergantungan pada pasokan dari luar daerah bisa menjadi pilihan terakhir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. (cr1)

Editor : Novitri Selvia
#pasar raya padang #cabai merah #cabai mahal