Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Objek Wisata Ikan Koi jadi Daya Tarik ESGP Lambuangbukik

Rommy Delfiano • Kamis, 13 Februari 2025 | 16:25 WIB

MENJANJIKAN: Ketua P4S Sunkai Permai sedang memberi makan Ikan koi.
MENJANJIKAN: Ketua P4S Sunkai Permai sedang memberi makan Ikan koi.

PADEK.JAWAPOS.COM-Objek wisata ikan koi akhir-akhir ini menjadi daya tarik tersendiri di berbagai daerah. Bak cendawan tumbuh di musim penghujan, objek wisata koi ini bermunculan dan menyajikan inovasi beragam. 

Lihatlah Provinsi Jawa Timur memiliki; (1) Desa wisata ikan koi berbasis masyarakat di Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar; (2) Eco eduwisata koi di Desa Nglegok Kabupaten Blitar; dan (3) wisata edukasi ikan koi di di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. 

Begitu pula Jawa Tengah memiliki tiga tempat wisata ikan koi, yaitu; (1) Watergong Klaten di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten; (2) saluran irigasi di Kampung Dukuh, Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta; dan (3) sungai di Bendung Lepen Sungai Gajah Wong kawasan Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. 

Sedangkan Jawa Barat terdapat wisata koi yang memadukandukan panorama alam, taman bermain dan budi daya ikan koi di Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi.

Di Bali, ikan koi menambah keindahan kolam Pura Agung Jagatnatha. Di Nusa Tenggara Barat, Pemkot Mataram menyulap saluran jadi tempat wisata ikan koi. 

Sulawesi Tenggara juga mengembangkan desa wisata Margacinta di Kecamatan Moramo Kabupaten Konawe Selatan dengan daya tarik budidaya ikan Koi. Khusus Sumbar, terdapat wisata ikan koi Nagari Kampung Tangah, Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam. 

Nah, kini objek wisata ikan koi juga gencar-gencarnya dikembangkan di Ekowisata Sungkai Green Park (ESGP), salah satu destinasi wisata alam di Kampung Sunkai, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh. Hanya, 15 km dari pusat Kota Padang.

Kampung Sunkai termasuk “binaan salinka kampus”, lokasinya bertetangga dengan kampus Unand di Limaumanih.  Lokasinya asri berhadapan langsung dengan hutan dan pegunungan Bukit Barisan. Pengelolaan ESGP berada dalam suatu kelembagaan, yaitu Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Sunkai Permai diketuai Rimbra Ketua. 

Berdiri sejak 2020  dan dirintis almarhum Prof Helmi (dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Unand) beserta tim. Sejumlah kegiatan pengembangan di ESGP sudah banyak dilakukan, antara lain; (1) Budidaya aneka sayuran; (2) Pelatihan pengolahan teh daun sungkai; dan (3) Pembangunan bumi perkemahan.

Baru-baru ini juga sudah dilakukan edukasi budidaya lebah tak bersengat (galo-galo). Untuk mendukung budidaya galo-galo, telah ditanam 100 batang pohon Kaliandra.

Kegiatan tersebut telah berdampak positif terhadap anggota P4S Sunkai Permai yaitu, penjualan sayur organik, teh sunkai, madu galo-galo dan jasa lokasi kamping.

Kolam Ikan Koi Alami 

Tahun lalu, objek wisata ikan koi dikembangkan ESGP dengan rancangan kolam alami. Kolam ikan koi dibuat seluas 96 m2 (panjang 12 m x lebar 8 m), dengan kedalaman bervariasi, bagian tengah lebih dalam (1,2-1,5 m) dan bagian pinggir lebih dangkal (0,5-0,8 m).

Dinding atau parit kolam dibuat dengan menyusun batu kali. Pada dinding bagian dalam dibuat lebih rendah dengan permukaan air agar pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan ikan koi pada saat memberi makan. 

Sebagian permukaan atas dari parit ditata dengan batu kali dan kerikil sebagai jalan menuju pondok tempat peristirahatan. Permukaan atas lainnya ditanami dengan tanaman bunga-bungaan. Tanaman ini tidak hanya berfungsi untuk keindahan kolam tetapi secara alami juga mengundang kupu-kupu dan serangga lainnya.

Kedalaman dasar kolam dibuat bertingkat, bagian tengah yaitu, bagian terdalam (1,2-1,5 m) dan bagian pinggir bagian dangkal (0,5-0,8 m). Bagian yang dalam berfungsi untuk perlindungan dan kenyamanan ikan, sedangkan bagian yang dangkal untuk tempat ikan beraktivitas. Kedalaman faktor penting dalam perancangan kolam koi. 

Kedalaman menyediakan tempat berlindung yang aman bagi ikan koi dari predator dan juga membantu menjaga suhu air tetap stabil. Dasar kolam yang dangkal diberi batu kali dan kerikil agar menampilkan kesan seperti dasar sungai yang alami dan juga ikan koi tidak menggali lumpur yang menyebabkan air menjadi keruh. 

Varian Ikan Koi di ESGP

Sebelum ikan koi dimasukkan ke kolam, dilakukan pemeriksaan kualitas air, mencakup kadar oksigen terlarut (disolved oxygen = DO), derajat keasaman atau pH dan suhu air.

Setelah kualitas air terpenuhi, yaitu suhu 25-32 0C, pH berkisar 6,5-8,0, dan kadar DO minimum 5,0 ppm maka ikan koi dimasukkan ke kolam yang baru dibuat. 

Jumlah ikan koi yang dimasukkan yaitu 110 ekor ikan dewasa ukuran 40 - 50 cm, mencakup varietas  kohaku, sanke, showa, shiro utsuri, ki bekko, shiro bekko, yamabuki ogon, karashi ogon, platinum ogon, hariwake, ochiba, dan chagoi. 

Sebagian besar ikan koi sudah sudah berhasil dijinakkan dan mau diberi makan di tangan baik oleh anggota P4S Sunkai Permai maupun pengunjung. 

Proses penjinakan dan makan di tangan mencapai satu bulan. Tahapannya mulai dari: (1) Pemberian makan pada suatu titik tertentu secara rutin dengan pola waktu yang konsisten minimal satu minggu, sehingga memori ikan koi mengenal tempat makan dan pemberi makan;

(2) mempuasakan ikan selama minimal 3 hari agar sangat merasa lapar sekali, hindari mendekati pinggir kolam selama masa puasa ini supaya tidak merusak interaksi ikan yang telah terjalin erat dengan pemberi makan.

Lalu (3), memberi makan di tangan tanpa ada makanan yang ditaburkan ke kolam, dengan cara menurunkan tangan yang mengenggam makanan ke dalam air, ikan kepribadian jinak akan langsung mendekati sedangkan varian lainnya akan malu-malu mendekat. 

Keberhasilan ikan koi mau makan di tangan kta, tergantung pada metode pelatihan dan kepribadiannya. Memberi makan dengan tangan salah satu ciri khas kepemilikan ikan koi bagi banyak penghobi, karena memungkinkan kita merasakan ikatan nyata dengannya.

Setiap ikan koi memiliki kepribadian yang berbeda, mulai dari yang berani hingga pemalu. Ikan koi paling percaya diri cenderung merespons pemilik lebih cepat dan ikan yang gugup membutuhkan sedikit lebih banyak waktu. 

Varietas ikan koi dari kelas Kawarimono, terutama Chagoi, kemungkinan besar langsung menjadi sahabat karib dan lebih termotivasi oleh makanan.

Chagoi dimanfaatkan untuk membantu menjinakkan anggota kelompok lainnya. Varietas lainnya yang mudah akrab dengan pemilik, yaitu Saragoi dan Yamabuki Ogon[16].

Saat pemimpin kelompok memahami rutinitas tersebut, banyak ikan yang semula enggan akhirnya  mengikutinya. Namun perlu dipahami, bahwa kepribadian varietas yang pemalu sangat sulit untuk dijinakkan. (*)

Editor : Novitri Selvia
#ikan koi #objek wisata koi #Ekowisata Sungkai Green Park #ESGP Lambuangbukik #Kampung Sunkai