Sebuah truk engkel dengan nomor polisi BA 8195 MU, yang mengangkut muatan kelontong, dilaporkan mengalami out of control (OC) akibat diduga mengalami rem blong saat melintasi jalur menurun.
Kapolsek Lubukkilangan, Kompol Sosmedya, melalui keterangannya membenarkan kejadian tersebut. "Benar telah terjadi laka lantas out of control yang melibatkan sebuah truk engkel BA 8195 MU," ujarnya.
Berdasar informasi yang dihimpun, truk melaju dari arah Solok menuju Kota Padang. Setibanya di turunan Tunggua, sopir truk, yang diketahui bernama Suriadi (58 tahun), diduga tidak dapat mengendalikan kendaraannya akibat rem blong.
Upaya untuk menghindari tabrakan yang lebih parah dilakukan Suriadi dengan membanting setir ke arah kanan jalan, yang mengakibatkan truk masuk ke parit di sisi jalan.
Meskipun insiden ini mengakibatkan kerusakan pada kendaraan, beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian tersebut. "Nihil korban jiwa maupun luka ringan dalam peristiwa kecelakaan ini," tegas Kompol Sosmedya.
Namun demikian, akibat posisi sebagian badan truk yang masih berada di badan jalan, arus lalu lintas di jalur Padang-Solok sempat mengalami gangguan.
Pihak kepolisian memberlakukan sistem buka tutup jalan untuk sementara waktu guna proses evakuasi truk. Selain itu, sebagian kendaraan dari arah Solok menuju Padang dialihkan melalui jalur lama untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas.
"Untuk saat ini, arus lalu lintas sudah kembali lancar dan terkendali setelah petugas melakukan pengaturan dan sebagian kendaraan dialihkan," imbuh Kapolsek Lubukkilangan.
Saksi mata di lokasi kejadian, Buyung (30 tahun), seorang Pos Kamling Jalan Raya (PKJR), membenarkan terjadinya kecelakaan tersebut dan upaya penanganan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Pihak kepolisian dari Polsek Lubukkilangan telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi.
Proses evakuasi truk menjadi prioritas utama untuk memastikan arus lalu lintas kembali normal sepenuhnya. Kerugian materiil akibat kecelakaan ini masih dalam pendataan. (*)
Editor : Hendra Efison