Alih-alih digunakan sesuai fungsinya, area sekitar los justru dipenuhi lapak pedagang yang berjualan di lorong masuk, yang seharusnya steril sebagai jalur pejalan kaki dan tempat turun naik angkutan umum.
Pantauan Padang Ekspres, Senin (21/4), lorong menuju bangunan los dari arah jalan utama Pasar Raya tampak penuh sesak oleh pedagang yang menjajakan aneka sayuran segar seperti cabai, kol, tomat, dan daun bawang.
Aktivitas jual beli bahkan dilakukan secara "drive-thru", di mana pembeli cukup memperlambat laju kendaraan mereka, memilih sayur, dan langsung bertransaksi tanpa harus turun dari motor atau mobil.
Situasi ini menyebabkan akses pejalan kaki terganggu dan kendaraan angkutan kesulitan menurunkan penumpang di titik tersebut. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama kini terhalang oleh tumpukan barang dagangan dan kendaraan pembeli yang parkir sembarangan.
“Sulit sekali lewat sini. Saya sering bertabrakan di antara gerobak dan pembeli yang berdiri di jalan. Kalau hujan, becek dan makin sempit. Tapi mereka tetap jualan di situ. Losnya kosong, padahal di situlah seharusnya mereka berjualan,” keluh Lina Marnis, 42, salah satu pengunjung pasar.
Rahman, warga lainnya, juga mengungkapkan keprihatinannya. Ia berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi kekacauan ini.
“Pasar ini penting bagi masyarakat. Kalau dibiarkan seperti ini terus, lama-lama makin semrawut dan berbahaya juga bagi pejalan kaki,” ujarnya.
Pedagang yang menempati lorong mengaku bahwa lokasi tersebut jauh lebih strategis karena langsung berhadapan dengan arus lalu lintas pembeli. Menurut mereka, bagian dalam losmen sepi, pengap, dan kurang pencahayaan, sehingga tidak menguntungkan untuk berdagang.
“Kalau jualan di dalam sepi pembeli, mana ada yang mau masuk kalau jalannya gelap dan lengang. Di luar sini orang langsung lihat dagangan kita, langsung bisa beli dari motor,” ungkap Eli Murni, 43, pedagang sayur.
Bangunan los sendiri tampak memprihatinkan. Cat dinding mengelupas, atap bocor, dan kondisi dalam ruangan lembap serta gelap. Banyak kios terlihat kosong dan tidak terawat. Beberapa bagian bahkan terlihat tak lagi layak pakai.
“Kami pernah disuruh pindah ke dalam, tapi tempatnya tak nyaman. Ventilasi buruk, panas, dan pembeli enggan masuk. Jadi kami tetap di luar. Kalau kami semua masuk ke dalam, bisa-bisa tidak laku dagangan,” kata Ujang, 39, pedagang cabai dan bawang.
Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Syahendri Barkah, membenarkan bahwa kondisi ini sudah menjadi perhatian pemerintah. Ia menyebut penataan kawasan pasar, termasuk Blok II, akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari perbaikan sarana dan prasarana.
“Itu yang mau kita rapikan atau tertibkan. Tentunya sarana yang ada harus kita benahi dulu. Penataan pasar akan kita lakukan secara bertahap,” ujar Syahendri kepada Padang Ekspres, Senin (21/4).
Ia juga menyoroti fenomena jual beli drive-thru yang kian marak, sebagai faktor utama enggannya pedagang berpindah ke area dalam.
“Hal yang di Blok II itu terjadi kebanyakan karena pembeli banyak yang menggunakan drive-thru. Ini sudah menjadi catatan kita,” jelasnya.
Menurutnya, kompleksitas masalah yang terjadi di pasar membutuhkan pendekatan jangka panjang dan berkelanjutan. Pemerintah telah memulai langkah-langkah awal penataan, namun ia mengakui bahwa perbaikan tidak bisa instan.
“Mulai dari sekarang kita sudah mulai melakukan penataan pasar. Secara bertahap semua akan kita benahi, karena permasalahan pasar ini sangat kompleks,” katanya. (cr1)
Editor : Adetio Purtama