Hal ini diungkapkan oleh Nasri, seorang perajin rotan sekaligus pemilik usaha Angga Furniture yang berlokasi di Lubukbegalung, Senin (2/6).
Kepada Padang Ekspres, Nasri yang telah puluhan tahun menekuni usaha kerajinan rotan mengaku pendapatannya terus mengalami penurunan yang cukup drastis dalam beberapa bulan terakhir.
“Dulu, omzet saya bisa mencapai Rp 40 juta per bulan. Sekarang, bahkan Rp 5 juta pun sulit untuk dicapai,” keluh Nasri.
Ia menjelaskan, penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, namun mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan selera konsumen yang lebih memilih furnitur berbahan kayu ringan, besi, atau bahan modern lainnya ditengarai menjadi salah satu penyebab utamanya.
Meskipun begitu, beberapa produk berbahan rotan masih memiliki peminat, seperti ayunan anak-anak dan wadah makanan. Namun, produk unggulan lainnya dari Angga Furniture seperti kursi dan sofa rotan, vas bunga, hingga keranjang makanan, kini hanya dibeli oleh segelintir warga lokal. “Selebihnya, paling satu atau dua unit yang laku. Itu pun hanya dari warga sekitar,” ungkap Nasri.
Padahal, pada masa kejayaannya, produk-produk Angga Furniture sempat laris manis dan dipasarkan hingga ke luar Kota Padang. Daerah seperti Pariaman, Solok, Silungkang, bahkan hingga ke Provinsi Riau dan Bengkulu pernah menjadi langganan tetap.
Namun kini, Nasri mengaku bahwa pengiriman ke daerah-daerah tersebut nyaris berhenti. Beberapa pelanggan setia bahkan mulai mengurangi jumlah pesanan secara signifikan.
“Saya bingung apa penyebab pastinya. Padahal furnitur berbahan rotan ini kokoh dan tahan lama. Tapi akhir-akhir ini peminatnya semakin sedikit. Apalagi ditambah dengan kondisi ekonomi masyarakat yang semakin lesu,” ujarnya.
Nasri berharap adanya perhatian dari pihak terkait agar usaha kecil seperti miliknya tetap dapat bertahan dan berkembang di tengah ketatnya persaingan industri furnitur saat ini. (cr1)
Editor : Adetio Purtama