PADEK.JAWAPOS.COM-Sejumlah persoalan menyangkut Polri mendapat perhatian luas dari masyarakat. Khusus di Kota Padang juga Sumbar misalnya, mulai dari tawuran dan geng motor hingga kritikan terhadap penegakan hukum yang dinilai kurang humanis.
Hal tersebut mengemukan dalam bincang-bincang ringan Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya saat berkunjung ke Graha Pena Padang, Jumat (11/7) lalu.
Alumni SMA 1 Lubukbasung itu datang bersama jajarannya dan didampingi Kapolsek Kototangah Kompol Afrino Chaniago. Kedatangan mereka disambut Direktur Utama Padang Ekspres Mhd Nazir Fahmi beserta jajaran.
Kombes Pol Susmelawati Rosya tak memungkiri adanya ragam kritikan dan masukan kepada Polri tersebut. Apalagi polisi dengan tugas dan kewenangannya berada pada posisi yang “seksi” untuk menjadi perhatian secara luas.
Namun di bawah kepemimpinan Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta hari ini, hal-hal tersebut menjadi perhatian serius.
“Kapolda Sumbar hari ini, kami sebut unik. Karena punya berbagai inovasi dalam menyikapi persoalan-persoalan yang muncul. Tidak hanya terkait dengan penegakan hukum tapi juga ikut menyentuh soal ketahanan pangan,” ucapnya.
Terkait tawuran dan geng motor yang jadi pertanyaan Wakil Pemimpin Redaksi Suryani misalnya, Susmelawati Rosya menjelaskan, kapolda Sumbar tidak semata-mata memberi perhatian kepada proses penegakan hukumnya.
Tapi juga lebih dahulu fokus untuk mengantisipasi dan meminimalisir terjadi tawuran dan ketidaknyamanan yang muncul akibat perilaku geng motor.
“Untuk upaya preventif itu, salah satu program yang digulirkan adalah Gerakan Subuh Berjamaah. Itu dilakukan setiap hari. Bapak kapolda langsung turun tangan. Juga pimpinan-pimpinan lain hingga tingkatan paling bawah,” teranganya.
Kapolsek Kototangah Kompol Afrino Chaniago mengakui, program tersebut cukup efektif menekan persoalan tawuran dan geng motor.
“Bahkan untuk tawuran sudah bisa dikatakan kondusif. Ini juga tak lepas dari peran Brimob yang ikut turun ke lapangan melakukan pencegahan dan penertiban,” katanya.
Kinerja Polri di Sumbar, memang banyak dapat kritikan dari berbagai lapisan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Diekspos di berbagai platform media, salah satunya terkait penegakan hukum yang dinilai kurang memerhatikan nilai-nilai kemanusian.
Namun di sisi lain, tak sedikit pula nilai-nilai positif yang muncul dari kepolisian. Baik lewat sejumlah program secara institusi atau pun gerakan-gerakan personal dari anggota kepolisian.
Terkait nilai-nilai positif dari Polri, Nazir mengungkapkan, Padang Ekspres sejak beberapa bulan terakhir memberi ruang khusus. Yakni pada halaman Presisi yang terbit setiap Sabtu.
“Padek (Padang Ekspres) siap berkolaborasi dan bersinergi dengan Polda Sumbar. Keberadaan halaman ini memberi ruang kepada Polda Sumbar mengekspose terobosan-terobosan yang dilakukan. Sehingga, sisi-sisi positif kepolisian bisa terangkat mulai dari Polda sendiri, Polres, Polsek, hingga ke tingkatan paling bawah,” ucapnya.
Senada, Pemimpin Redaksi Rommi Delfiano dan Manajer EO Two Efly berharap, dengan adanya ruang tersebut, jajaran kepolisian di Sumbar bisa memanfaatkannya lebih jauh.
Terutama dengan memberi akses informasi yang luas terhadap program positif yang ada. Juga tentang personil-personilnya yang berprestasi serta memberi dampak lebih dari sekadar tugas wajib sebagai penegak hukum.
Koordinator Liputan Tandri Eka Putra dan Redaktur Pelaksana Ganda Cipta menekankan pentingnya keterbukaan akses informasi dari Polri.
“Di lapangan, terkadang wartawan kesulitan untuk mendapat konfirmasi sebuah peristiwa dari kepolisian. Padahal, konfirmasi itu penting untuk keseimbangan dan kedalaman berita. Sehingga terang duduk persoalan atau berita yang muncul tersebut,” ungkap Tandri Eka Putra.
Keterbukaan kepolisian dalam menyikapi wacana atau kritikan dalam berbagai platfom media khususnya sosial, sebut Ganda, penting untuk mendapatkan penyeimbang dari Polri.
“Pada zaman post truth hari ini, sesuatu yang tidak benar atau mungkin kurang tepat, jika banyak diberitakan dan dilakukan berulang-ulang, pada kemudian dianggap sebuah kebenaran. Sebab itu perlu penyeimbang. Semoga institusi kepolisian, khususnya Polda Sumbar bisa menyikapi ini dengan bijak,” tuturnya.
Di sisi lain, kapolda Sumbar juga fokus pada persoalan ketahanan pangan. Jadi, sebut Susmelawati Rosya, kegiatan seperti marandang pada perayaan HUT ke-79 Bhayangkara 1 Juli lalu, tak sekadar untuk meraih rekor Muri saja.
Tapi lebih jauh dimaksudukan untuk membantu peternak atau penjual bumbu masakan dan rantai ekonomi yang ada di sekelilingnya.
“Begitu juga keseriusan Polda Sumbar terhadap pertanian. Kami tengah menggarap jagung saat ini dengan tujuannya sama. Ketahanan pangan,” sebutnya. (cip)
Editor : Novitri Selvia