Hewan tersebut dinyatakan positif terinfeksi virus rabies. Kejadian gigitan anjing liar tersebut terjadi pada Selasa (7/10) dan sempat menghebohkan warga setempat.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Padang, drh. Sofia Hariani, saat dihubungi Padang Ekspres, Rabu (8/10) mengonfirmasi bahwa pihak balai telah menginformasikan hasil positif secara lisan melalui telepon.
“Secara lisan itu positif. Tapi untuk dokumennya belum siap ditandatangani oleh kepala balai dan belum bisa diterbitkan. Tapi tadi (kemarin) ditelpon oleh pihak balai positif rabies,” ujarnya.
Kejadian bermula ketika seekor anjing liar menyerang warga dan ternak di kawasan tersebut. Dalam kejadian itu, dua orang warga dan tiga ekor ternak unggas milik warga menjadi korban serangan hewan tersebut.
Petugas kemudian berhasil melumpuhkan anjing liar tersebut sebelum kemudian membawa bangkainya ke laboratorium untuk dilakukan pengujian guna memastikan status infeksi virus rabies.
Para korban yang menjadi sasaran gigitan anjing liar telah mendapatkan penanganan medis di puskesmas setempat. Menurut drh. Sofia, penanganan terhadap korban gigitan menjadi kewenangan puskesmas di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Kota Padang.
“Untuk yang menjadi korban sebelumnya dua orang warga itu penanganan kewenangannya puskesmas. Tapi kita pastikan komunikasikan kepada pihak puskesmas bahwa bahwasanya positif,” jelasnya.
Terkait prosedur penanganan medis, drh. Sofia menjelaskan bahwa warga yang telah datang ke puskesmas diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk manusia dengan dosis yang telah disuntikkan sejak kemarin. Namun, penanganan selanjutnya akan bergantung pada tingkat risiko yang dialami korban.
“Kemudian untuk penanganan selanjutnya kalau menurut pihak puskesmas gigitan tersebut berisiko tinggi. Kalau biasanya kalau positif anjingnya pihak puskesmas menggunakan Serum Anti Rabies (SAR). Jadi ini akan dikoordinasikan dengan pihak puskesmas apakah manusianya yang digigit berisiko tinggi. Kalau berisiko tinggi harus dikasih SAR,” paparnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pertanian Kota Padang, sejak Januari hingga September 2025, tercatat sebanyak 34 kasus gigitan hewan yang dilaporkan ke instansi tersebut. Angka ini belum mencakup keseluruhan kasus mengingat ada korban yang langsung mendatangi puskesmas tanpa melapor ke Dinas Pertanian.
“Sejak Januari-September data yang dihimpun Dinas Pertanian Kota Padang kasus gigitan yang melapor ke Dinas Pertanian sebanyak 34 orang. Untuk lengkapnya data di Dinas Kesehatan Kota, karena ada yang langsung ke puskesmas tidak ke Dinas Pertanian,” ungkapnya.
Menghadapi ancaman rabies, drh. Sofia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap anjing dan kucing liar yang berkeliaran. Bagi masyarakat yang memelihara hewan seperti anjing, kucing, dan kera, ia menegaskan pentingnya memberikan vaksinasi rabies minimal satu kali dalam setahun.
Dinas Pertanian Kota Padang masih menyediakan stok vaksin rabies sebanyak 216 dosis untuk program vaksinasi kolektif. Hingga saat ini, total vaksinasi rabies pada anjing dan kucing mencapai 1.594 dosis, yang terdiri dari 1.284 dosis ditambah 310 dosis pada Hewan Penular Rabies (HPR).
“Jadi kami masih bisa melayani bagi masyarakat yang meminta didatangi kepada komplek-komplek perumahannya itu gratis tanpa dipungut biaya,” kata drh. Sofia.
Apabila ketersediaan vaksin dari Dinas Pertanian habis, masyarakat diimbau untuk secara mandiri datang ke dokter hewan praktik atau rumah sakit hewan guna memberikan vaksinasi rabies kepada hewan peliharaan mereka.
Selain vaksinasi, drh. Sofia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Ia meminta warga kompleks perumahan untuk tidak menumpuk sampah karena dapat menjadi sumber makanan bagi anjing liar dan membuat populasi hewan tersebut terus berkembang.
“Kalau ada tumpukan sampah akan menjadi sumber makanan bagi anjing-anjing liar tersebut. Otomatis ini memberikan sumber makan untuk hewan liar dan memberikan tetap hidup dan berkembang. Kita juga harus menjaga lingkungan untuk mencegah penularan hewan liar tersebut,” terangnya.
Drh. Sofia juga menjelaskan ciri-ciri hewan yang terinfeksi rabies agar masyarakat dapat lebih waspada. Hewan yang terinfeksi rabies menunjukkan gejala hipersalivasi atau air liur berlebihan, perilaku hiperaktif berlarian tanpa arah, dan cenderung menggigit setiap benda yang ada di hadapannya, termasuk manusia.
“Kebetulan kalau ada manusia di depannya akan digigit juga. Artinya apa saja yang ada di depannya akan digigit. Kemudian takut air, cahaya, angin, dan suka bersembunyi di tempat yang gelap,” jelasnya.
Hewan yang telah terinfeksi rabies dan menggigit biasanya akan mati dalam jangka waktu 14 hari, bahkan umumnya hanya bertahan tiga hari setelah melakukan gigitan. Informasi ini penting bagi masyarakat untuk memahami siklus penyebaran virus dan segera mengambil tindakan pencegahan. (cc1)
Editor : Adetio Purtama