Di Kota Padang, tren perceraian di kalangan ASN kian meningkat, dan menariknya, hampir seluruh gugatan datang dari pihak perempuan.
Berdasarkan data Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Padang, hingga Oktober 2025 tercatat 15 kasus perceraian ASN, seluruhnya diajukan oleh perempuan. Mereka berasal dari beragam profesi: enam orang guru, enam tenaga teknis, dan tiga tenaga kesehatan.
Kepala Bidang Penilaian Kinerja Aparatur dan Penghargaan BKPSDM, Fitri Handayani, menyebutkan bahwa persoalan ekonomi, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi pemicu utama retaknya hubungan.
“Banyak yang awalnya berusaha bertahan, tapi tekanan ekonomi dan konflik rumah tangga membuat mereka akhirnya memilih berpisah,” ujarnya, Senin (27/10/2025).
Fenomena ini tak berdiri sendiri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang, tahun 2021 menjadi puncak tertinggi angka perceraian di daerah ini, dengan 1.527 kasus tercatat. Ironisnya, tren ini justru beriringan dengan menurunnya angka pernikahan baru.
Sosiolog Universitas Negeri Padang, Dr. Eka Asih Febriani, M.Pd., menilai perubahan peran dan tekanan sosial ekonomi menjadi faktor penting.
“Banyak guru perempuan kini menjadi tulang punggung keluarga. Namun ketika pasangan tidak mampu menyeimbangkan tanggung jawab ekonomi dan emosional, timbul ketegangan yang sulit dihindari,” jelasnya.
Ia menambahkan, peran ganda perempuan sebagai pengajar sekaligus pencari nafkah kerap menimbulkan kelelahan fisik dan mental.
“Guru perempuan cenderung mengalami kelelahan akibat tekanan ekonomi serta minimnya dukungan emosional dari pasangan. Itulah yang mendorong mereka mengambil keputusan untuk bercerai,” ujarnya.
Selain faktor internal, arus media sosial dan gaya hidup modern juga memperlebar jarak dalam rumah tangga.
Ekspektasi hidup yang dipoles dunia maya, menurut Eka, sering menimbulkan rasa frustrasi dan perbandingan tidak sehat antara pasangan.
Di tengah data dan dinamika sosial itu, satu hal yang tampak nyata: di balik status ASN yang mapan dan terhormat, banyak perempuan berjuang mempertahankan keseimbangan antara profesi, keluarga, dan harga diri. Sebagian berhasil bertahan, namun sebagian lainnya memilih pergi—demi ketenangan yang lebih hakiki.(edg)
Editor : Hendra Efison