Di balik sunyi Taman Makam Pahlawan (TMP) Kuranji, Kota Padang, tersimpan kisah pengabdian yang tak kalah mulia: kisah Syarifuddin (68) atau yang akrab disapa Pak Oyon — pewaris penjaga makam yang telah melanjutkan warisan keluarganya sejak era 1940-an.
Ayahnya adalah juru kunci pertama makam yang dulunya dikenal sebagai Pemakaman Melati. Pada 1998, setelah ayahnya wafat, Pak Oyon resmi mengambil alih tanggung jawab menjaga kehormatan 354 pahlawan yang bersemayam di sana.
Sejak itu, setiap hari, ia dan sang istri setia membersihkan, menata, dan merawat makam para pejuang, terutama prajurit Batalyon Harimau Kuranji — pasukan yang dikenal gagah berani melawan Sekutu di Padang.
“Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini pengabdian. Saya merasa punya tanggung jawab moral menjaga tempat peristirahatan para pejuang,” tuturnya, Senin (10/11/2025).
Dari Pemakaman Melati ke Makam Pahlawan Kuranji
Awalnya, area ini memang hanya diperuntukkan bagi prajurit yang gugur dalam pertempuran.
Namun sejak diresmikan sebagai Taman Makam Pahlawan Kuranji oleh Gubernur Sumatera Barat Ir. H. Azwar Annas pada 18 Desember 1977, kompleks ini menjadi tempat pemakaman bagi pahlawan dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Kini, dari total 400 kapasitas makam, 354 telah terisi. Untuk dimakamkan di sini, seseorang harus memiliki rekomendasi resmi dari Kodim dan Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan 45 (DHC).
Mengabdi dengan Honor Minim
Sebagai anak kelima dari delapan bersaudara, Pak Oyon sempat menempuh pendidikan di SMAN 2 Padang dan melanjutkan kuliah di akademi teknik.
Namun, setelah pensiun dari perusahaan swasta, ia memilih meneruskan pengabdian keluarga ini.
Honor yang ia terima sebagai penjaga makam terbilang kecil: Rp1.240.000 per bulan.
“Memang tidak seberapa, tapi saya tetap ikhlas. Ini amanah yang harus dijaga,” ujarnya tenang.
Untuk menyiasati kebutuhan keluarga, ia menanam berbagai tanaman di sekitar area makam: cabai, kemangi, nangka, hingga pisang.
Dari hasil kebun kecil itu, ia mendapat tambahan penghasilan yang cukup membantu. Rezeki lain juga datang dari para peziarah, terutama menjelang Ramadan, saat banyak keluarga datang berdoa.
Harapan dari Penjaga Sejarah
Pak Oyon juga berharap pemerintah lebih memperhatikan kondisi TMP Kuranji. Saat mengikuti pertemuan pengelola makam pahlawan se-Indonesia di Yogyakarta tahun 2016, ia mengaku prihatin.
“Kalau dibandingkan dengan makam pahlawan lain, kondisi di Padang ini tergolong memprihatinkan. Padahal ini tempat bersejarah,” katanya.
Meski kawasan makam dulu dikenal angker, ia hanya menganggap pengalaman “mistis” sebatas rasa merinding menjelang azan magrib. “Mereka (para pahlawan) tidak mengganggu, malah seolah menjaga,” ucapnya tersenyum.
Penjaga Jejak yang Setia
Kini, di usia senjanya, Pak Oyon menjadi tumpuan bagi empat anaknya. Anak pertama bekerja di Semen Padang Hospital, yang kedua sebagai satpam, yang ketiga di Telkom, dan si bungsu baru menamatkan SMA.
Di matanya, setiap nisan adalah simbol perjuangan dan amanah yang harus dijaga hingga akhir hayat.
Bagi Syarifuddin, menjadi juru kunci TMP Kuranji bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk penghormatan kepada mereka yang telah menebus kemerdekaan dengan darah dan nyawa.
“Selama saya masih kuat, saya akan tetap di sini,” katanya lirih, menatap deretan nisan putih yang berjajar rapi di bawah rindang pohon kenari. (CR3)
Editor : Hendra Efison