Kegiatan yang diikuti ratusan jamaah ini menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus sarana penguatan nilai keagamaan di lingkungan setempat.
Dalam tausiyahnya, Maigus Nasir mengawali pesan dengan mengingatkan jamaah tentang hakikat penciptaan manusia. Ia merujuk pada QS. As-Syams ayat 8 yang menjelaskan bahwa Allah telah mengilhamkan potensi untuk memilih antara kebaikan dan keburukan.
Menurutnya, ayat tersebut memberikan pedoman bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk menentukan arah hidup berdasarkan pendidikan, bimbingan, dan lingkungan.
Wawako mengungkapkan sejumlah fenomena sosial yang mencerminkan melemahnya nilai akhlak dalam keluarga. Ia menyebut beberapa kasus yang terjadi belakangan ini.
“Contoh kehidupan saat ini sangat memprihatinkan. Ada anak perempuan yang tega membunuh ibu kandungnya. Terbaru, ada seorang ayah yang mengantarkan ibunya ke panti jompo karena diusir oleh istri dan anak-anaknya. Kejadian-kejadian seperti ini menunjukkan betapa rusaknya sebagian hubungan keluarga,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, situasi tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter dan pembinaan akhlak harus menjadi fokus utama di tengah masyarakat.
Maigus menegaskan bahwa melemahnya pendidikan akhlak, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan, berkontribusi pada munculnya perilaku ekstrem dan penyimpangan moral.
Ia menyampaikan bahwa pembinaan generasi tidak dapat hanya mengandalkan lembaga formal, tapi memerlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan masjid sebagai pusat pembentukan karakter.
“Inilah dasar mengapa pembinaan generasi itu penting. Tanpa pendidikan, potensi jahat dalam diri bisa berkembang. Karena itu Pemerintah Kota Padang menyiapkan program Smart Surau sebagai sistem pendidikan karakter berbasis masjid,” jelasnya.
Program Unggulan Smart Surau, kata Maigus, dirancang sebagai model pembelajaran karakter yang terintegrasi dengan aktivitas keagamaan.
Program ini menekankan pembiasaan ibadah, penguatan moral, serta pendampingan bagi anak-anak dan remaja agar memiliki kepribadian yang berakhlak mulia dan menghormati orang tua.
Ia berharap program tersebut dapat diterapkan secara konsisten di seluruh kelurahan dan menjadi pondasi pembentukan generasi muda Kota Padang.
Salah satu indikator keberhasilan pendidikan karakter adalah tumbuhnya empati dan kasih sayang anak terhadap orang tua.
“Banyak anak hari ini tidak lagi lembut kepada orang tuanya. Padahal dahulu merekalah yang memandikan kita, menyiapkan pakaian, menciumi dengan kasih sayang, dan merawat tanpa lelah. Jika anak-anak memahami psikologi ini, mereka akan memperlakukan orang tuanya dengan cinta dan kerendahan hati,” ucap Maigus.
Kegiatan Subuh Mubarakah kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara masyarakat dan pemerintah. Sejumlah jamaah menanyakan perkembangan dan efektivitas program Smart Surau, termasuk bagaimana model penerapan kolaboratif antara pemerintah, pengurus masjid, dan keluarga.
Selain itu, warga juga menyampaikan aspirasi terkait penambahan lampu penerangan jalan di kawasan Parupuk Tabing untuk meningkatkan keamanan lingkungan.
Wawako menyambut baik seluruh masukan masyarakat dan berkomitmen menindaklanjuti aspirasi tersebut melalui perangkat daerah terkait.
Ia menegaskan bahwa kegiatan Subuh Mubarakah akan terus digelar sebagai sarana memperkuat hubungan pemerintah dengan masyarakat sekaligus memperluas edukasi keagamaan yang konstruktif.(*)
Editor : Heri Sugiarto