PADEK.JAWAPOS.COM—Pascabencana banjir yang melanda ruas Jalan Mohammad Hatta akibat luapan Batang Kuranji beberapa hari lalu menimbulkan persoalan baru yang meresahkan warga.
Bukannya kembali normal, jalur vital ini kini justru dipenuhi polusi debu yang berterbangan dan menciptakan kondisi tidak sehat bagi ribuan pengguna jalan.
Banjir yang terjadi sebelumnya meninggalkan endapan tanah dan lumpur dalam jumlah besar di sepanjang ruas jalan tersebut. Upaya pembersihan memang telah dilakukan oleh berbagai pihak, tetapi sisa material halus yang mengering kini menjadi sumber persoalan baru.
Pantauan Padang Ekspres, Senin (1/12) di bawah terik matahari, sisa endapan lumpur itu berubah jadi debu. Ketika kendaraan melintas, terutama yang berbobot besar atau melaju dengan kecepatan tinggi, partikel tersebut dengan mudah terangkat ke udara dan membentuk kepulan debu.
Situasi ini menyebabkan kawasan Jalan Moh. Hatta kembali terganggu, meski air banjir sudah surut beberapa hari lalu. Debu yang terbang bebas di udara menjadi ancaman nyata bagi kenyamanan dan kesehatan pengguna jalan.
Masyarakat setempat dan pengendara paling terdampak. Mereka harus beraktivitas dengan kondisi udara yang penuh partikel halus, baik saat berangkat bekerja, sekolah, maupun menjalankan rutinitas harian.
Pengendara sepeda motor merasakan dampak paling signifikan. Partikel debu menghantam wajah dan kulit secara langsung, serta terhirup tanpa perlindungan memadai. Debu tersebut tidak mengganggu jarak pandang, tetapi menimbulkan iritasi dan rasa tidak nyaman sepanjang perjalanan.
Seorang mahasiswa yang tinggal di kawasan tersebut, Gusni, 24, mengungkapkan keresahannya. Ia menyebut polusi debu itu membuatnya sulit bernapas setiap kali melintas di lokasi. Keluhan tersebut menggambarkan kondisi ril di lapangan yang belum tertangani optimal.
Ia berharap pemerintah bertindak cepat untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan mereka. Debu yang dibiarkan berlarut-larut bukan hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga menimbulkan ancaman kesehatan serius. (cr2)
Editor : Adetio Purtama