Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam kesehatan dan perekonomian, khususnya bagi pelaku usaha kecil di kawasan tersebut.
Menghadapi situasi tersebut, warga tidak tinggal diam. Dengan keterbatasan alat dan fasilitas, masyarakat berinisiatif melakukan langkah darurat secara mandiri, yakni menyemprotkan air ke badan jalan menggunakan selang air dari rumah masing-masing atau sumber air terdekat. Upaya ini dilakukan untuk membasahi permukaan jalan agar partikel debu tidak mudah terangkat ke udara.
Pantauan di lapangan, Rabu (3/12) menunjukkan kondisi udara di ruas jalan tersebut masih memprihatinkan. Debu halus berwarna kecokelatan tampak beterbangan saat kendaraan roda dua maupun roda empat melintas.
Selain mengaburkan jarak pandang, debu juga memicu gangguan pernapasan, terutama bagi warga lanjut usia, anak-anak, serta pengguna jalan yang melintas setiap hari.
Warga setempat, Wendi, 37, mengatakan inisiatif penyemprotan air dilakukan karena kondisi debu yang semakin parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Debunya sangat tebal, jadi saya berinisiatif untuk menyemprotkan air ke jalanan agar jalanan basah dan debu tidak berterbangan,” ujarnya.
Wendi menyebutkan, penyemprotan dilakukan secara bergantian oleh warga menggunakan peralatan seadanya. Meski sederhana, langkah ini dinilai cukup membantu mengurangi debu dalam waktu singkat.
Namun, efeknya tidak bertahan lama karena air cepat mengering, terutama saat cuaca panas. “Kalau siang hari panas, tidak sampai satu jam sudah kering lagi dan debu kembali beterbangan,” katanya.
Warga mengakui bahwa sebenarnya sudah ada bantuan penyiraman dari pihak berwenang melalui truk tangki air. Namun, penyiraman tersebut dinilai belum merata hingga ke seluruh ruas jalan.
Hal itu disampaikan Anggi, 35, warga lainnya yang juga terdampak langsung kondisi debu. “Upaya untuk menyemprotkan air yang dilakukan oleh truk tangki itu belum merata sampai ke bawah,” tutur Anggi.
Menurutnya, masih banyak titik jalan yang berada di luar jangkauan penyiraman kendaraan tangki. Akibatnya, sejumlah ruas tetap diselimuti debu tebal dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. “Jadinya masih ada jalanan yang masih banyak debu yang berterbangan,” tambahnya.
Kondisi tersebut berdampak pada setidaknya tiga kelompok utama, yakni pengguna jalan yang terpapar langsung debu saat melintas, masyarakat yang tinggal di sekitar jalan dan harus terus menghirup udara tercemar, serta pelaku UMKM makanan yang terpaksa berjuang ekstra melindungi dagangannya dari kontaminasi debu.
Para pedagang di sepanjang Jalan Moh. Hatta mengaku harus menutup makanan dagangan dengan lebih rapat dari biasanya. Bahkan, sebagian di antaranya terpaksa mengurangi jam operasional karena khawatir kualitas makanan terganggu oleh debu.
Warga berharap pemerintah dapat meningkatkan koordinasi dan memperluas jangkauan penyiraman air agar tidak hanya terfokus pada titik-titik tertentu saja. Mereka juga meminta agar penyiraman dilakukan secara merata hingga ke seluruh ruas jalan yang masih menyisakan tanah kering sisa endapan lumpur.
Selain itu, masyarakat mendesak agar frekuensi penyiraman ditingkatkan, terutama pada pagi hari sebelum jam sibuk dan sore hari saat aktivitas lalu lintas kembali padat. Menurut mereka, penyiraman secara berkala menjadi satu-satunya solusi cepat untuk menahan partikel debu agar tidak beterbangan sepanjang hari. (cr2)
Editor : Adetio Purtama