Data tersebut disampaikan Dinas Pertanian Kota Padang berdasarkan pendataan lapangan hingga Rabu (10/12). Dari jumlah itu, kematian terbesar terjadi pada ayam broiler, yakni mencapai 10 ribu ekor yang berasal dari Kecamatan Pauh.
Selain ayam broiler, tercatat pula kematian 818 ayam kampung, 3.830 itik, 39 kambing, dan lima sapi. Jumlah tersebut menjadikan banjir kali ini sebagai kejadian dengan kerugian ternak terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, menyebut dampak tersebut sangat memukul para peternak kecil yang menggantungkan hidup dari usaha ternak. Banyak di antara mereka kehilangan seluruh aset dalam waktu singkat.
“Ribuan total ayam broiler yang mati mencapai 10 ribu ekor hanya di Kecamatan Pauh. Belum termasuk ayam kampung 818 ekor, itik 3.830 ekor, kambing 39 ekor, dan sapi lima ekor. Ini dampak yang sangat besar bagi masyarakat, terutama peternak kecil,” ujar Yoice.
Selain ternak yang mati, terdapat ratusan hewan yang kini berada dalam kondisi lemah dan membutuhkan penanganan intensif. Hewan-hewan tersebut mengalami stres, kedinginan, serta penurunan daya tahan tubuh akibat tingginya genangan air dan rusaknya kandang.
Adapun ternak terdampak tersebut meliputi 618 ayam kampung, 28 itik, 49 kambing, dan 226 sapi. Jika tidak segera ditangani, risiko kematian susulan diperkirakan sangat tinggi.
“Sapinya banyak yang stres, lemas, dan berpotensi jatuh sakit. Ayam dan itik juga rentan karena perubahan suhu dan kualitas pakan. Kalau tidak ditangani, risiko kematiannya besar,” jelas Yoice.
Sejak banjir terjadi, tim Kesehatan Hewan Dinas Pertanian telah turun ke lapangan. Mereka melakukan upaya penyelamatan dengan memberikan vitamin, antibiotik, pemeriksaan fisik, serta perawatan langsung di kandang milik warga.
Wilayah yang mendapat penanganan antara lain Pauh, Kuranji, Nanggalo, dan Kototangah. Kawasan ini merupakan daerah dengan populasi ternak cukup besar sekaligus terdampak banjir paling signifikan.
Di Kecamatan Pauh, beberapa kandang ayam broiler yang biasanya menampung ribuan ayam tidak sempat dievakuasi. Air dilaporkan naik mendadak hingga lebih dari satu meter, membuat peternak tidak memiliki waktu cukup untuk menyelamatkan hewan.
Selain ternak, banjir juga merusak kandang dan lahan pertanian di sejumlah titik. Banyak peternak kini kehilangan aset secara total dan harus memulai kembali dari nol.
Untuk membantu pemulihan, Dinas Pertanian menyiapkan bantuan berupa pakan, suplemen, dan pendampingan usaha. Pendataan terhadap kerugian masih berlangsung dan diperkirakan jumlah total ternak terdampak dapat bertambah.
“Yang kita lakukan sekarang adalah menyelamatkan sebanyak mungkin hewan yang tersisa. Ribuan yang mati tidak bisa kembali, tetapi yang masih hidup harus dijaga agar tetap bertahan. Ini sangat penting bagi keberlangsungan ekonomi peternak,” tegas Yoice.
Pemerintah daerah juga meminta peternak untuk segera melaporkan hewan ternak yang menunjukkan gejala stres atau sakit. Pelaporan dini diharapkan dapat mengurangi risiko kematian lanjutan pascabanjir.
Upaya pemulihan sektor peternakan akan terus dilakukan hingga kondisi benar-benar stabil. Pemerintah berharap kolaborasi antara peternak, perangkat daerah, dan pihak terkait dapat mempercepat proses tersebut. (cr1)
Editor : Adetio Purtama