Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pantai Pasiedama Dipenuhi Kayu Banjir: Aktivitas Nelayan Padang Lumpuh Dua Pekan

Fadli Zikri • Kamis, 11 Desember 2025 | 10:53 WIB

Kondisi terkini Pantai Pasiedama, Kelurahan Pasie Nantigo, Kecamatan Kototangah, yang masih dipenuhi tumpukan kayu sisa banjir, kemarin.
Kondisi terkini Pantai Pasiedama, Kelurahan Pasie Nantigo, Kecamatan Kototangah, yang masih dipenuhi tumpukan kayu sisa banjir, kemarin.
PADEK.JAWAPOS.COM–Dua pekan pascabanjir bandang yang menerjang wilayah hulu sungai di Kota Padang, dampaknya kini masih dirasakan oleh nelayan di kawasan Pantai Pasiedama, Kelurahan Pasia Nantigo, Kecamatan Kototangah.

Material kayu berukuran besar yang terbawa arus banjir masih berserakan di sepanjang bibir pantai dan hingga kini belum seluruhnya dibersihkan. Kondisi tersebut mengganggu aktivitas nelayan setempat, terutama saat menurunkan dan menaikkan perahu.

Pantauan Padang Ekspres, Rabu (10/12), di lokasi memperlihatkan sejumlah kayu berukuran sangat besar masih tergeletak di area pantai.

Sebagian di antaranya memiliki panjang lebih dari tujuh meter dengan diameter yang cukup besar. Banyak kayu sudah tertanam di dalam pasir sehingga sulit dipindahkan dengan tenaga manusia dan membutuhkan bantuan alat berat.

Seorang nelayan setempat, Sefriadi, 54, mengaku aktivitasnya melaut menjadi jauh lebih sulit sejak kayu-kayu besar tersebut berada di sepanjang jalur keluar masuk perahu.

“Kayu-kayu besar itu sangat menyulitkan saya untuk menurunkan perahu, apalagi menaikkan lebih sulit lagi. Kadang saya harus memindahkan kayu-kayu kecil itu dulu, kalau tidak, perahu bisa nyangkut di kayu,” ujar Sefriadi saat ditemui di tempat parkir perahunya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak arus banjir membawa material kayu dari hulu sungai beberapa minggu lalu. Sebelum kejadian itu, aktivitas nelayan berjalan normal, kecuali jika terkendala cuaca buruk.

“Ini kan dari banjir dari hulu sana, jadi mau turun ke laut saja susah. Sebelum ada kayu-kayu ini, paling yang membuat kami tidak melaut cuma karena cuaca. Tapi sekarang lebih menyulitkan nelayan kecil seperti kami,” ungkapnya.

Sefriadi juga menyebutkan, beberapa hari setelah gelondongan kayu itu menumpuk di pantai, sejumlah nelayan memilih tidak melaut sama sekali karena khawatir perahu mereka rusak akibat membentur kayu saat ombak cukup kuat. Akibatnya, pendapatan nelayan pun mengalami penurunan.

“Saat pertama kayu-kayu itu berkumpul di pantai ini, kami nelayan tidak melaut. Takut perahu rusak karena kayunya masih banyak sekali. Kalau tidak melaut, otomatis pendapatan menurun,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan nelayan lainnya, Budianto, 44. Ia menuturkan, tumpukan kayu juga membahayakan ketika dirinya pulang melaut. Saat air laut surut, perahu kerap terhambat kayu yang tertanam di pasir dan berisiko rusak apabila terbentur gelondongan kayu besar.

“Kalau air surut, kami harus menunggu air naik dulu baru bisa naik ke darat karena kayu-kayu besar itu. Itu pun harus hati-hati dengan hempasan ombak, kadang perahu saya bisa terhempas ke kayu besar,” katanya.

Menurutnya, para nelayan sebenarnya sudah berupaya membersihkan pantai secara mandiri. Namun untuk kayu-kayu berukuran besar, mereka mengaku tidak sanggup memindahkannya tanpa bantuan alat berat.

“Hari Senin kemarin alat berat sudah terlihat di pantai sebelah, tapi belum sampai ke sini. Padahal kalau pakai alat berat, sebentar saja sebenarnya kayu-kayu besar ini bisa dipindahkan,” pungkasnya.

Budianto berharap pemerintah segera melakukan pembersihan secara merata di seluruh kawasan Pantai Pasie Dama. Ia juga mengingatkan bahwa bila dibiarkan terlalu lama, kayu-kayu tersebut berpotensi terseret kembali ke laut dan membahayakan kapal nelayan di tengah perairan.

“Kami berharap pembersihan dilakukan merata. Kendala kami sangat bergantung dengan kondisi pantai. Kayu itu juga bisa membahayakan saat di tengah lau­t. Kalau akses ke laut tidak lancar, tentu berpengaruh ke ekonomi. Sekarang saja saya baru melaut sekitar lima hari dalam sebulan, itu pun karena cuaca juga tidak bagus,” jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, nelayan di Pantai Pasiedama masih mengandalkan tenaga manual untuk memindahkan kayu setiap kali hendak melaut. Mereka berharap kondisi pantai segera kembali normal agar aktivitas mencari nafkah dapat berjalan seperti sedia kala. (cr6)

Editor : Adetio Purtama
#aktivitas nelayan #lumpuh #Pantai Pasiedama #banjir #padang #kayu