Mengki Kurniawan, Padang—
Zulkarnain berasal dari Banuhampu, Kabupaten Agam. Ia meninggalkan kampung halamannya pada tahun 1978 dengan tekad mengadu nasib di ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Kota Padang yang ia temui kala itu masih jauh dari wajah modern seperti sekarang, tanpa gedung-gedung tinggi maupun jembatan megah.
Pekerjaan pertama yang digelutinya adalah sebagai tukang ojek sampan di kawasan Batang Arau. Sebelum Jembatan Siti Nurbaya berdiri, sampan menjadi sarana utama penyeberangan warga. Dari pekerjaan itulah ia mulai mengenal kerasnya kehidupan perantauan.
“Dulu sekali menyeberang digaji 50 rupiah. Nilainya kecil sekarang, tapi waktu itu sangat berarti,” ujar Zulkarnain saat ditemui di lapaknya.
Keinginan memperbaiki taraf hidup sempat membawanya merantau lebih jauh. Pada tahun 1981, Pak Jun berangkat ke Pekanbaru, Riau, dan bekerja sebagai kuli bangunan selama lima tahun. Namun, kerinduan terhadap Sumatera Barat membuatnya kembali ke Padang pada 1986 dan menjalani berbagai pekerjaan serabutan.
Titik balik kehidupannya terjadi pada tahun 2000, ketika ia memberanikan diri membuka jasa sol sepatu di kawasan Pasar Raya Padang. Saat itu, lapaknya berada tak jauh dari Terminal Lintas Andalas, yang kini telah beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan Plaza Andalas.
“Tahun 2000 sampai 2005 itu masa paling bagus. Penghasilan cukup, bahkan lebih untuk kebutuhan keluarga,” kenangnya.
Ramainya aktivitas di terminal kala itu menjadi sumber rezeki utama bagi Zulkarnain dan para pekerja sektor informal lainnya. Namun, perubahan tata kota memaksanya berpindah lokasi. Sejak 2005 hingga pertengahan 2025, ia membuka lapak di kawasan Balaikota Lama, Pasar Raya Padang.
Selama hampir dua dekade di lokasi tersebut, Zulkarnain menyaksikan perubahan wajah kota sekaligus penurunan jumlah pelanggan, terutama sejak maraknya belanja daring dan kebiasaan masyarakat membeli sepatu baru dibandingkan memperbaiki yang lama.
Enam bulan terakhir, Zulkarnain kembali berpindah tempat ke kawasan Taman Siti Nurbaya, Batang Arau. Setiap hari, ia mulai bekerja pukul 09.00 hingga 18.00 WIB. Meski usianya kian menua, semangatnya untuk tetap mandiri tak pernah surut.
Zulkarnain hidup bersama istrinya yang berasal dari Lubuk Alung. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai tiga orang anak perempuan. Dua anaknya telah berkeluarga, sementara anak bungsunya masih tinggal bersamanya.
Ia mengakui, kondisi ekonomi saat ini jauh lebih berat dibandingkan dua dekade lalu. Penghasilan dari jasa sol sepatu kini tidak menentu dan kerap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. “Sekarang kadang cuma satu atau dua pelanggan sehari. Biaya hidup makin mahal, beda sekali dengan dulu,” tuturnya.
Meski demikian, Zulkarnain memilih bertahan. Baginya, bekerja di usia senja adalah bentuk tanggung jawab sekaligus cara menjaga martabat agar tidak bergantung pada anak-anaknya.
Perjalanan hidup Zulkarnain, dari tukang sampan di Batang Arau hingga menjadi saksi perubahan Pasar Raya Padang, mencerminkan keteguhan seorang perantau. Di tengah laju pembangunan kota, ia tetap setia dengan jarum dan benang solnya, meninggalkan jejak perjuangan di setiap langkah warga Kota Padang. (*)
Editor : Adetio Purtama