PADEK.JAWAPOS.COM-Pemerintah memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan di tengah keterbatasan akibat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Termasuk di Sumbar.
Hal tersebut ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat saat meninjau langsung kesiapan pembelajaran awal semester genap tahun ajaran 2025/2026 di SMAN 12 Padang, Senin (5/1).
“Kami datang ke Padang untuk melihat dan memastikan kesiapan pembelajaran awal tahun ini. Alhamdulillah, dengan berbagai keterbatasan, proses pembelajaran tetap harus dimulai,” ujar Atip Latipulhayat.
Ia mengungkapkan, pemerintah telah melakukan pemetaan tingkat kerusakan sekolah ke dalam tiga kategori, yakni rusak ringan, sedang, dan berat.
Untuk sekolah dengan kategori rusak ringan, sudah dilakukan proses pembersihan dan penataan kembali.
Sementara itu, sekolah yang mengalami kerusakan sebagian akan mendapatkan penanganan melalui program rehabilitasi sesuai tingkat kerusakan yang ada.
Adapun untuk sekolah dengan kategori rusak berat (RB), Kemendikdasmen telah menyiapkan langkah strategis lanjutan.
Atip menegaskan, sekolah yang tidak lagi layak digunakan akan menjadi prioritas utama dalam program revitalisasi tahun ini. “Jika merujuk pada ketentuan BNPB bahwa lahannya tidak lagi layak digunakan, maka opsi relokasi akan diambil,” jelasnya.
Khusus di Provinsi Sumatera Barat Kementerian terkait mencatat terdapat 501 sekolah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor.
Sementara itu, untuk keseluruhan atau di tiga provinsi tersebut tercatat 4.470 satuan pendidikan yang mesti mendapat penanganan setelah bencana.
Wamendikdasmen mengatakan, dari tiga provinsi terdampak, Aceh merupakan kondisi yang paling parah dengan jumlah sekolah terdampak mencapai 2.756 unit. Sedangkan di Provinsi Sumatera Utara sekolah yang terkena bencana berjumlah 1.213 unit.
Selain pemulihan infrastruktur fisik, pemerintah juga memberikan perhatian pada pemulihan psikologis peserta didik melalui layanan trauma healing.
Khusus di Sumatera Barat, Atip mencatat terdapat sekitar 50 sekolah yang masuk dalam fokus utama revitalisasi pascabencana.
Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi sejumlah pejabat Kemendikdasmen. Di antaranya Dirjen GTKPG Nunuk Suryani, Dirjen Diksi PKPLK Tatang Muttaqin, Direktur SMK Arie Wibowo.
Turut hadir Kepala BBPMP Sumbar Muslihuddin, Kepala BGTK Sumbar Sri Yulianti, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Habibul Fuadi serta sejumlah kepala SMA di Padang.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Wamendikdasmen juga menyerahkan bantuan operasional masing-masing sebesar Rp 15 juta untuk jenjang SD, SMP, dan SMA guna mempercepat proses pemulihan sekolah terdampak.
Selain bantuan operasional, bantuan langsung berupa alat tulis, makanan, serta susu kaleng juga disalurkan kepada peserta didik, termasuk perwakilan murid taman kanak-kanak.
Atip berpesan agar seluruh pihak menghadapi musibah ini dengan kesabaran dan ikhtiar maksimal.
“Keterbatasan ini harus menjadi tantangan dan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Kami akan terus memberikan pelayanan terbaik demi masa depan anak bangsa,” pungkasnya.
Belajar di Tenda Darurat
Sementara itu, sekitar 80 siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 12 Kota Padang melaksanakan proses belajar mengajar di tenda darurat yang didirikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pascabanjir bandang yang melanda daerah tersebut.
“Hari ini ada dua kelas yang belajar di tenda darurat,” kata salah seorang guru SMA Negeri 12 Padang Irwan, kemarin.
Dia mengatakan banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 menyebabkan dua gedung atau kelas di sekolah tersebut rusak dan tidak bisa ditempati.
Untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung, anak didik dialihkan ke tenda darurat. Bahkan pada pertengahan Desember 2025 sejumlah anak didik terpaksa melaksanakan ujian semester I di tenda darurat tersebut.
Menurutnya, proses belajar mengajar di tenda darurat tidak begitu efektif karena cuaca yang sangat panas.
Pihak sekolah juga tidak mempunyai kipas angin yang memadai untuk membantu menyejukkan tenda darurat. Selain itu peserta didik juga belajar tanpa menggunakan meja dan kursi.
Irwan membenarkan pada hari pertama sekolah sejumlah anak didik belum bisa mengikuti proses belajar mengajar. Namun tingkat kehadiran, khususnya di tenda darurat, sudah mencapai 95 persen.
Dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) ke SMA Negeri 12 Kota Padang, kata dia, pihaknya bersama para siswa berharap kementerian terkait segera membangun gedung yang sebelumnya rusak akibat banjir.
Sembari menunggu pembangunan gedung, pihak sekolah berharap adanya bantuan peralatan penunjang, terutama meja dan kursi. (eri/ant)
Editor : Novitri Selvia