Fenomena tersebut terlihat di kawasan Museum Adityawarman, Jalan Gereja, di mana bar kopi mobile ramai dikunjungi pelajar, pekerja kantoran, dan pengunjung sekitar.
Ridho Hendrifa Putra (21), pedagang kopi keliling, menyebut lokasi pusat kota sangat strategis.
“Saya sudah dua tahun berjualan. Hari biasa malah lebih ramai karena banyak anak SMP yang beli,” ujarnya.
Ia mencatat penjualan 15–20 cup per hari. Pada akhir pekan, pelanggannya didominasi pekerja dan mahasiswa.
Pedagang lain, Abdul Rahman (21), menilai usaha kopi mobile memiliki prospek cerah.
“Kopi sekarang sudah menjadi kebutuhan pokok mayoritas masyarakat, baik untuk pelepas dahaga maupun teman bekerja,” katanya.
Abdul menambahkan persaingan semakin ketat seiring bertambahnya pedagang serupa di berbagai titik strategis kota.
Ia menekankan pentingnya inovasi. “Kita harus punya ciri khas, baik dari rasa maupun pelayanan. Dengan itu kita bisa bertahan dan tetap ada,” ujarnya.
Tren ini menunjukkan pola konsumsi baru masyarakat urban Padang yang mencari akses cepat, terjangkau, dan fleksibel untuk menikmati kopi harian mereka.(cr3)
Editor : Hendra Efison