Rendahnya kunjungan wisatawan membuat pendapatan pedagang kelapa muda turun hingga 70 persen, Jumat (16/1/2026).
Safar (52), pedagang kelapa muda di Taplau, mengatakan penjualan hariannya hanya mampu mencapai 30 buah, jauh di bawah rata-rata normal 60 buah sebelum banjir bandang.
“Penjualan saya merosot sekitar 60 hingga 70 persen sejak banjir bandang akhir November lalu. Sampai sekarang, kondisinya belum kembali normal seperti dulu,” ujarnya.
Penurunan omzet membuat Safar kesulitan mendapatkan modal untuk membeli pasokan kelapa dari Pariaman.
Ia biasanya membayar tunai, namun saat ini terpaksa menunda pembayaran.
“Biasanya saya bayar tunai di awal, sekarang saya tidak sanggup bayar penuh karena uangnya tidak ada. Beruntung pemilik kelapa di Pariaman mau mengerti dan membolehkan saya bayar belakangan,” katanya.
Selain persoalan modal, Safar juga menghadapi risiko pencurian pada malam hari serta pembatasan jam penataan kursi dan meja di area pantai.
Menurutnya, aturan tersebut membatasi kesempatan berdagang. “Harapan saya, pemerintah atau pengelola membolehkan kami menata meja dan kursi sejak jam 10 pagi. Kalau hanya boleh sore hari, waktu kami untuk mencari rezeki menjadi sangat terbatas,” tuturnya.
Safar menyebut saat ini pendapatannya hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga.
“Jujur saja, saat ini untuk makan sehari-hari saja rasanya susah,” ucapnya.
Hingga pertengahan Januari 2026, pedagang di Taplau masih berharap kunjungan wisatawan kembali meningkat agar ekonomi kawasan tersebut segera pulih.(CR3)
Editor : Hendra Efison