Surutnya debit air laut menyingkap tumpukan sampah yang selama ini tersembunyi di dasar sungai dan kini terlihat jelas di atas lumpur hitam yang mengering.
Data prakiraan pasang laut menunjukkan air mulai menurun sejak pukul 07.00 WIB dan diperkirakan mencapai titik terendah dalam rentang lima jam berikutnya.
Penyusutan debit tersebut secara otomatis mengurangi volume Sungai Batang Arau sepanjang 29,72 kilometer, sehingga area muara berubah menjadi hamparan limbah plastik dan botol bekas.
Fenomena ini terjadi di kawasan strategis yang terhubung langsung dengan Kota Tua Padang dan jalur wisata Gunung Padang.
Potensi wisata sejarah yang besar di kawasan tersebut kembali terhambat oleh persoalan pencemaran lingkungan yang berulang.
Dampak Air Surut terhadap Kawasan Wisata
Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan sampah menutupi sebagian bantaran sungai dan permukaan lumpur yang mengering.
Jenis limbah yang mendominasi berupa plastik rumah tangga, kemasan belanja, serta botol minuman sekali pakai.
Sampah tersebut diduga berasal dari aktivitas pembuangan warga di sepanjang aliran sungai yang terbawa arus dan mengendap di bagian hilir.
Kondisi ini menciptakan kesan kumuh di tengah upaya pemerintah daerah yang tengah menata estetika kawasan wisata Batang Arau.
Selain mengganggu pemandangan, penumpukan limbah juga berpotensi mempercepat proses pendangkalan sungai.
Pendangkalan tersebut dinilai berisiko mengganggu aktivitas kapal nelayan dan kapal wisata yang rutin melintas di jalur tersebut.
Keluhan Warga dan Risiko Pendangkalan
Nas (48), warga sekitar, mengatakan kondisi serupa kerap terjadi setiap kali air laut surut.
Ia menyebut tumpukan sampah yang muncul ke permukaan sering disertai aroma tidak sedap, terutama saat cuaca panas.
“Setiap kali air surut seperti pagi ini, semua sampah yang biasanya tenggelam jadi kelihatan jelas di atas lumpur,” ujar Nas, Senin (2/2/2026).
“Kebanyakan plastik belanjaan atau botol minuman dari arah hulu yang menumpuk di sini, dan baunya kadang menyengat kalau matahari mulai terik,” lanjutnya.
Warga menilai air pasang hanya kembali menutupi sampah tanpa menyelesaikan masalah utama pencemaran sungai.
Mereka berharap adanya langkah pengendalian sampah di sepanjang aliran Batang Arau untuk menjaga fungsi sungai dan citra kawasan wisata sejarah Kota Padang.(CR3)
Editor : Hendra Efison