Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jelang Ramadan, Lamang Tapai kembali Ramai Diburu Warga Padang

Mengki Kurniawan • Minggu, 8 Februari 2026 | 12:59 WIB

Salah seorang pedagang lamang tapai di kawasan Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Sumatera Barat, Kota Padang, Minggu (8/2/2026).
Salah seorang pedagang lamang tapai di kawasan Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Sumatera Barat, Kota Padang, Minggu (8/2/2026).
PADEK.JAWAPOS.COM—Suasana di pelataran Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Sumatera Barat, tampak berbeda pada Minggu (8/2/2026).

Aroma khas bambu terbakar berpadu harum santan menyeruak di udara, menarik perhatian para pengunjung yang melintas di kawasan ikonik Kota Padang tersebut.

Di bawah terik matahari yang cerah, deretan lamang tapai tersaji rapi dan menggoda selera. Kudapan tradisional khas Minangkabau ini bukan sekadar makanan pengganjal perut, melainkan simbol tradisi yang sarat makna, terutama menjelang bulan suci Ramadan.

Lamang tapai merupakan perpaduan harmonis antara lamang yang gurih dan tapai yang manis-asam. Lamang dibuat dari beras ketan putih yang dimasak dengan santan di dalam bambu, sementara tapai berasal dari fermentasi ketan hitam. Kombinasi keduanya menghasilkan cita rasa khas yang sulit dilupakan, baik oleh warga lokal maupun wisatawan.

Proses pembuatan lamang tapai terbilang unik dan membutuhkan ketelatenan. Beras ketan yang telah dibumbui dimasukkan ke dalam ruas bambu talang yang dilapisi daun pisang.

Selanjutnya, bambu dipanggang secara miring di dekat perapian selama tiga hingga lima jam. Teknik ini menuntut keahlian khusus, terutama dalam memutar bambu secara berkala agar ketan matang merata dan aroma bambu meresap sempurna.

Di kawasan Masjid Raya, gerai Lamang Tapai Syafrizal menjadi salah satu titik yang paling ramai dikunjungi. Usaha keluarga yang telah eksis sejak 2014 ini kini dikelola oleh Endang, anak dari perintis usaha tersebut.

Di balik meja dagang, Yulia (25), perempuan asal Solok, dengan ramah melayani para pembeli yang ingin mencicipi kuliner legendaris ini.

Menurut Yulia, minat masyarakat terhadap lamang tapai masih tergolong tinggi, terutama pada momen-momen tertentu yang dianggap sakral oleh masyarakat Minangkabau. Meski berbagai makanan modern terus bermunculan, lamang tapai tetap memiliki tempat tersendiri di hati penikmat kuliner tradisional.

“Penjualan biasanya mulai ramai menjelang puasa, Lebaran, atau saat musim durian. Karena memang sudah tradisi orang Minangkabau makan lamang di waktu-waktu itu,” ujar Yulia, Minggu (8/2/2026).

Pada hari biasa, Yulia mampu menjual lima hingga enam batang lamang. Namun, jumlah tersebut meningkat signifikan saat akhir pekan atau hari libur. Ia pun harus memulai aktivitas lebih pagi, terutama pada Sabtu dan Minggu, mulai pukul 08.00 WIB hingga menjelang Maghrib, demi melayani pembeli yang datang silih berganti.

Di balik manisnya rasa lamang tapai, tantangan nyata tetap dihadapi para pedagang. Selain faktor cuaca dan dinamika penertiban ruang publik, fluktuasi harga bahan baku menjadi kendala utama. Kenaikan harga santan dan beras ketan membuat pedagang harus cermat mengelola modal.

“Kendala utama sekarang harga bahan makin naik. Kami juga sulit menaikkan harga jual karena konsumen bisa keberatan. Jadi harus pintar-pintar mengatur modal supaya tetap bisa berjualan,” tambah Yulia.

Kehadiran pedagang lamang tapai di pusat kota menjadi oase bagi warga yang merindukan tradisi “malamang”. Meski banyak masyarakat kini tak lagi sempat memasak lamang sendiri di rumah, kuliner ini tetap hidup sebagai simbol gotong royong dan pengingat kehangatan tradisi leluhur Minangkabau, terutama dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. (cr3)

Editor : Adetio Purtama
#lamang tapai #jelang ramadan #padang