Kondisi ini terlihat jelas di bibir pantai tepat di depan rumah ibadah yang menjadi ikon wisata religi Sumatera Barat.
Vahid Ahmad (28), pengunjung asal Malaysia, mengaku terkejut melihat pemandangan kumuh di sekitar masjid.
“Sangat disayangkan, kawasan ini cantik dengan Masjid Al-Hakim yang megah, tapi pantainya dipenuhi sampah plastik. Tidak nyaman ingin berfoto atau membawa anak-anak jalan,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Menurut Vahid, potensi wisata Pantai Padang sangat besar, tetapi terhambat masalah kebersihan.
Ia berharap pemerintah dan masyarakat menindaklanjuti dengan langkah nyata, termasuk pembersihan lebih rutin dan pengurangan penggunaan plastik.
Secara geografis, Pantai Padang sering menerima “sampah kiriman” dari muara sungai saat hujan deras.
Arus laut di teluk sekitar masjid juga membuat limbah terjebak di cekungan pantai, sehingga tumpukan sampah sulit hilang meski sering dibersihkan.
Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) rutin menurunkan petugas untuk membersihkan bibir pantai.
Namun, area yang dibersihkan pagi hari kerap kembali tertutup sampah pada sore hari, terutama setelah pasang naik atau hujan di wilayah hulu.
Selain faktor alam, perilaku pengunjung dan pedagang yang membuang sampah sembarangan memperburuk kondisi.
Meskipun tempat sampah tersedia di sepanjang jalur pedestrian, disiplin warga dan wisatawan belum optimal.
Baca Juga: Potret Terkini Padang Teater: Dari Bioskop Legendaris ke Gedung Sepi
Situasi ini menimbulkan ironi visual, karena Masjid Al-Hakim yang megah berdiri bersih, sementara hanya beberapa meter dari gerbangnya, tumpukan limbah rumah tangga dan kayu lapuk terlihat menumpuk.
Keadaan ini juga menimbulkan persepsi buruk bagi wisatawan internasional, mengganggu ketenangan dan pengalaman ibadah.
Jika dibiarkan, pencemaran mikroplastik dan limbah di kawasan Pantai Padang berpotensi menurunkan minat kunjungan wisatawan secara permanen, sehingga berdampak negatif pada ekonomi daerah yang mengandalkan sektor pariwisata.(*)
Editor : Hendra Efison