Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (3/3/2026), euforia jemaah tetap tinggi meskipun telah memasuki pertengahan Ramadan.
Jemaah terlihat memenuhi ruang utama, teras, hingga koridor luas masjid yang menjadi tempat beristirahat dan beribadah, sementara arus kedatangan terus mengalir sepanjang hari.
Pengunjung yang hadir tidak hanya berasal dari Padang, tetapi juga dari berbagai daerah lain serta wisatawan mancanegara yang tertarik pada keunikan arsitektur masjid tersebut.
Atap bagonjong megah tanpa kubah konvensional menjadi daya tarik visual yang kuat, menjadikan masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan destinasi wisata religi unggulan di Sumatera Barat.
Selain melaksanakan salat fardu dan sunah, banyak jemaah memanfaatkan waktu untuk tadarus Al-Qur’an atau beristirahat di area koridor terbuka yang terasa sejuk di tengah cuaca Kota Padang.
Salah seorang jemaah, Zahrir (47), warga Padang, mengaku rutin singgah di masjid tersebut di sela kesibukan hariannya karena merasa nyaman dengan suasana dan fasilitas yang tersedia.
Ia menyebut tempat wudu yang bersih serta area parkir luas menjadi faktor pendukung yang membuat jemaah betah berlama-lama di kawasan masjid.
Lokasi masjid yang berada di jantung kota turut mempermudah akses bagi pekerja kantor maupun musafir yang ingin menunaikan ibadah tanpa harus menempuh jarak jauh.
Zahrir juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan fasilitas masjid sebagai aset kebanggaan masyarakat Sumatera Barat agar kenyamanan beribadah tetap terjaga.
Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di sekitar masjid semakin semarak dengan kehadiran pedagang kuliner yang berjualan di area luar, menciptakan aktivitas ekonomi mikro bagi warga sekitar.
Sejarah mencatat perubahan nama masjid menjadi Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi sebagai bentuk penghormatan kepada ulama besar asal Minangkabau yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram.
Nilai sejarah tersebut memperkuat dimensi spiritual dan identitas kultural yang melekat pada masjid kebanggaan masyarakat Minangkabau ini.
Hingga berita ini diturunkan, arus jemaah masih terus berdatangan dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada sepuluh malam terakhir Ramadan saat masyarakat melaksanakan iktikaf untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar.(*)
Editor : Hendra Efison