Meski antusiasme masyarakat tinggi, banyak warga mengaku tidak mendapatkan kupon subsidi harga yang disediakan panitia dan mitra pendukung.
Kupon tersebut merupakan subsidi senilai Rp5.000 hingga Rp10.000 yang bersumber dari berbagai sponsor serta instansi pemerintah. Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok selama bulan Ramadhan.
Namun di lapangan, distribusi informasi mengenai keberadaan kupon tersebut dinilai tidak merata.
Warga Mengaku Tidak Mendapat Informasi
Sebagian pengunjung mengaku tidak mengetahui adanya fasilitas subsidi tersebut saat datang ke lokasi bazar.
Farina (38), salah seorang pengunjung yang datang sejak pagi, mengatakan dirinya baru mengetahui adanya kupon setelah berada di area bazar.
“Saya benar-benar tidak tahu kalau ada kupon subsidi. Padahal kalau tahu, tentu sangat membantu untuk belanja kebutuhan dapur. Sayang sekali informasinya tidak sampai ke kita yang datang ke sini,” ujar Farina saat ditemui di sela-sela berbelanja, Kamis (12/3/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan Herna (52). Ia mengaku datang ke lokasi bazar hanya berdasarkan informasi umum mengenai bazar murah yang digelar di halaman kantor gubernur.
Menurutnya, tidak ada pengumuman atau petunjuk jelas mengenai cara mendapatkan kupon subsidi.
“Saya cuma tahu ada bazar, jadi langsung datang saja. Sampai di sini, tidak ada yang memberi tahu soal kupon. Seharusnya informasi seperti itu dipasang besar-besar atau diumumkan lewat pengeras suara supaya adil,” tutur Herna.
Pedagang Soroti Distribusi Kupon
Kondisi tersebut juga dibenarkan oleh pedagang yang berjualan di area bazar. Joni (43), salah satu pedagang telur, mengatakan sebagian besar pembeli yang datang ke lapaknya tidak membawa kupon subsidi.
Menurutnya, banyak pembeli mengaku tidak mengetahui mekanisme pengambilan kupon yang disediakan panitia.
Joni juga menyoroti adanya ketimpangan dalam distribusi kupon di lapangan. Ia menyebutkan terdapat pengunjung yang memegang lebih dari satu kupon.
“Sangat tidak adil melihat ada yang punya tiga kupon, sementara yang lain tidak dapat sama sekali. Saya rasa lebih baik nominal subsidinya tidak usah terlalu besar, asalkan semua masyarakat yang datang bisa merasakan manfaatnya,” kata Joni.
Selain itu, ia juga mengeluhkan waktu pembagian kupon yang tidak konsisten. Menurutnya, pembagian terkadang dilakukan pada pagi hari dan pada waktu lain dilakukan pada siang hari.
Ketidakpastian waktu tersebut membuat sebagian pengunjung tidak memperoleh kupon karena sudah habis saat mereka datang.
Minim Sosialisasi kepada Pedagang
Joni juga mengungkapkan bahwa pada hari pertama pelaksanaan bazar, dirinya sebagai pedagang tidak menerima informasi resmi dari panitia mengenai sistem kupon subsidi.
Akibatnya, ia sempat menolak kupon yang dibawa pembeli karena tidak mengetahui mekanisme klaimnya kepada panitia.
“Hari pertama saya tidak tahu apa-apa, panitia tidak ada sosialisasi ke kami para pedagang. Baru di hari kedua saya diberi tahu kalau ada sistem kupon ini. Komunikasi panitia ke peserta bazar memang sangat kurang,” ujarnya.
Di sisi lain, seorang pengunjung yang berhasil mendapatkan kupon menyebutkan bahwa informasi tersebut ia peroleh dari temannya yang sudah lebih dulu datang ke bazar.
Informasi tersebut didapat melalui percakapan dari mulut ke mulut, bukan dari pengumuman resmi panitia.
Kondisi ini menjadi catatan bagi penyelenggara bazar. Masyarakat berharap pelaksanaan bazar pada hari berikutnya dapat disertai sosialisasi yang lebih jelas serta distribusi kupon yang lebih tertib.
Bazar Ramadhan di halaman parkir Kantor Gubernur Sumatera Barat ini sendiri dijadwalkan berlangsung hingga Jumat (13/3/2026).(*)
Editor : Hendra Efison