Hal ini disampaikan dalam peringatan HUT ke-9 di Limau Manis, Padang, Minggu (29/3/2026).
Wakil Rektor II Universitas Andalas, Hefrizal Handra, mengatakan RS Unand yang sebelumnya bergantung pada bantuan pemerintah pada periode 2017–2019, kini telah mampu berdiri sendiri sejak 2020.
“Untuk operasional dan pemeliharaan, rumah sakit sudah mandiri,” ujar Hefrizal.
Kemandirian Finansial Mulai Terlihat
Seiring kemandirian tersebut, kinerja rumah sakit menunjukkan peningkatan. Jumlah pasien terus bertambah, tingkat pemanfaatan tempat tidur meningkat, dan pendapatan dari layanan tumbuh.
Meski demikian, pihak kampus belum menuntut kontribusi pendapatan dari RS Unand. Fokus utama masih pada penguatan internal, termasuk pengembangan layanan, pendidikan, dan riset.
“Kalau ada surplus, kita dorong untuk pengembangan layanan, pendidikan, dan riset,” tambah Hefrizal.
Masuk Klaster A Rumah Sakit Pendidikan
Direktur Utama RS Unand, Muhammad Riendra, menyampaikan bahwa RS Unand kini telah masuk Klaster A, kategori tertinggi untuk rumah sakit pendidikan di Indonesia.
Pada level ini, RS Unand sejajar dengan Rumah Sakit Universitas Indonesia, Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada, dan Rumah Sakit Universitas Airlangga.
“Klaster A itu bukan hanya soal layanan bagus, tapi juga pendidikan dan riset yang berjalan seimbang,” ujar Riendra.
Dengan status tersebut, RS Unand juga mendapatkan mandat untuk membina rumah sakit lain, salah satunya Rumah Sakit Universitas Riau.
Dukung Target Kampus Kelas Dunia
Kenaikan status ini selaras dengan target Universitas Andalas untuk masuk jajaran kampus kelas dunia.
RS Unand diposisikan sebagai penggerak melalui integrasi layanan kesehatan, pendidikan tenaga medis, dan riset.
“Ketiganya harus berjalan bersama. Itu yang akan mendorong reputasi global,” kata Riendra.
Tantangan Pengembangan dan Kesiapsiagaan
Meski telah mandiri, RS Unand masih menghadapi tantangan dalam pengembangan fasilitas dan teknologi medis yang membutuhkan pembiayaan besar.
Sejumlah opsi pembiayaan tengah dijajaki, termasuk dukungan universitas, kerja sama pihak ketiga, program kementerian, hingga skema wakaf.
“Keuntungan yang ada akan kembali untuk pengembangan, termasuk pendidikan,” jelas Riendra.
Selain itu, kesiapan menghadapi bencana menjadi perhatian penting. Sebagai wilayah rawan gempa, Sumatera Barat membutuhkan rumah sakit yang siap menghadapi kondisi darurat.
“Kesiapan itu harus direncanakan dari awal, bukan belakangan,” ujar Hefrizal.
Memasuki usia ke-9, RS Unand kini berada pada fase pengembangan, dengan tantangan menjaga konsistensi inovasi sebagai rumah sakit pendidikan sekaligus meningkatkan peran di tingkat regional dan nasional.(*)
Editor : Hendra Efison