HOTEL MERCURE—Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan peran strategis BUMN perkebunan dalam mempercepat hilirisasi komoditas nasional, khususnya gambir, dalam rapat koordinasi bersama kepala daerah se-Sumatera Barat di Hotel Mercure Padang, Selasa (14/4/2026).
Dalam pernyataannya usai rapat, Amran menekankan bahwa PT Perkebunan Nusantara harus menjadi motor penggerak hilirisasi dengan memperkuat kolaborasi bersama sektor swasta, akademisi, dan petani.
“PTPN kita dorong menjadi lokomotif hilirisasi. Kolaborasi dengan berbagai pihak harus diperkuat agar komoditas unggulan seperti gambir memiliki nilai tambah tinggi dan berdampak langsung ke masyarakat,” tegasnya.
Ia menyebutkan, pemerintah saat ini tengah mendorong percepatan sekitar 35 proyek hilirisasi di sektor perkebunan yang direncanakan segera memasuki tahap groundbreaking.
Baca Juga: Banjir Pasaman Seret Dua Warga, Tim SAR Dikerahkan ke Alahan Mati
Menurutnya, percepatan realisasi proyek-proyek tersebut akan berdampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah hingga panjang.
“Kesimpulannya, kita akan melakukan groundbreaking sekitar 35 proyek. Semakin cepat terealisasi, semakin baik dampaknya bagi ekonomi nasional,” ujarnya.
Sejalan dengan arahan tersebut, langkah konkret dilakukan oleh PTPN melalui subholding PTPN IV PalmCo dengan menggandeng Universitas Andalas untuk menyusun studi kelayakan pengembangan komoditas gambir nasional.
Kerja sama yang ditandatangani di kampus tersebut difokuskan pada penyusunan studi kelayakan bisnis gambir terintegrasi, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pengembangan pasar.
Baca Juga: Ribuan Ton Beras dan Minyak Goreng Disalurkan di Payakumbuh, 466 KK Tigo Koto Diate Terima Bantuan
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan bahwa pengembangan gambir menjadi bagian dari kontribusi BUMN dalam mendukung kebijakan hilirisasi Kementerian Pertanian.
“Pengembangan gambir ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat daya saing komoditas perkebunan melalui hilirisasi dan kemitraan berkelanjutan. Kami ingin hadir bukan hanya sebagai pelaku bisnis, tetapi sebagai katalis peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen gambir terbesar dunia dengan lebih dari 80 persen pasokan global berasal dari dalam negeri, sementara Sumatera Barat menjadi sentra utama produksi, terutama di Kabupaten Limapuluh Kota, Pesisir Selatan, dan Pasaman.
Namun, potensi tersebut dinilai belum optimal karena sebagian besar produk gambir masih diekspor dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif, padahal komoditas ini memiliki berbagai turunan bernilai tinggi seperti katekin untuk industri farmasi dan kosmetik.
Baca Juga: Tren Terbaru dalam Enterprise ICT Solutions yang Perlu Anda Ketahui
Direktur Sistem dan Sustainability PalmCo, Ugun Untaryo, menambahkan bahwa studi kelayakan ini akan menjadi dasar sebelum perusahaan melakukan investasi dalam pengembangan hilirisasi gambir.
“Kami ingin memastikan pengembangan gambir dilakukan secara terukur dan berkelanjutan, dari hulu hingga hilir,” katanya.
Dalam rencana awal, pengembangan tersebut mencakup pembangunan pabrik pengolahan gambir serta pengembangan kebun plasma dengan potensi luasan hingga 50.000 hektare yang melibatkan petani rakyat.
Dengan sinergi antara pemerintah, BUMN, dan akademisi, hilirisasi gambir diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan sekaligus memperkuat ekonomi nasional dan kesejahteraan petani.(*)
Editor : Hendra Efison