PADEK.JAWAPOS.COM — Apes benar nasib petani di Kota Padang. Baru saja ditanami pascabanjir November 2025, sudah dihantam banjir lagi. Sakit benar rasanya.
Sekitar 30 hektare sawah yang sebelumnya direhabilitasi pascabencana kembali terdampak banjir yang melanda Kota Padang pada Senin (3/8/2026).
Lahan tersebut tertimbun material banjir dan tersebar di sejumlah kelompok tani, termasuk lima kelompok tani di Kelurahan Kuranji.
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Yoice Yulianti mengatakan, dari total 102 hektare sawah yang telah direhabilitasi Kementerian Pertanian, sekitar 30 hektare kembali mengalami kerusakan akibat banjir terbaru.
Di Kelurahan Kuranji, lima kelompok tani terdampak dengan luas lahan sekitar delapan hektare. Secara keseluruhan, luas sawah yang kembali tertimbun material banjir mencapai sekitar 30 hektare.
Sawah tersebut sebelumnya telah diperbaiki melalui program rehabilitasi lahan sawah Kementerian Pertanian dan kembali ditanami padi oleh petani. Usia tanaman yang terdampak bervariasi, mulai dari sekitar satu minggu hingga satu setengah sampai dua bulan.
Yoice mengatakan Pemko Padang akan membawa persoalan tersebut dalam rapat bersama Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) di tingkat provinsi. Pertemuan itu juga akan membahas kondisi lahan yang sebelumnya direhabilitasi tetapi kembali rusak akibat banjir.
Normalisasi sungai dinilai mendesak
Menurut Yoice, rehabilitasi sawah belum dapat menjadi langkah utama sebelum penyebab banjir ditangani. Kawasan persawahan yang terdampak berada berdekatan dengan daerah aliran sungai (DAS).
Pendangkalan DAS akibat sedimentasi yang terjadi setelah bencana akhir 2025 di sekitar areal persawahan menjadi persoalan yang perlu diselesaikan.
Yoice mengatakan pengerukan sedimentasi sungai dan pembangunan penahan atau pengendali aliran air menjadi langkah yang mendesak. Normalisasi sungai dinilai diperlukan sebelum rehabilitasi lahan pertanian dilakukan kembali.
Setelah normalisasi sungai dilakukan, rehabilitasi lahan pertanian diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga tidak kembali rusak ketika curah hujan meningkat.(*)
Editor : Hendra Efison