PADEK.JAWAPOS.COM--Padang Fashion Summit (PFS) 2026 menjadi salah satu rangkaian utama penutupan Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357. Kegiatan yang digelar di ZHM Premiere Hotel, Senin malam, tidak hanya menghadirkan pertunjukan busana, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem fashion, budaya, dan ekonomi kreatif di Kota Padang.
Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan, pengembangan sektor fashion menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan Padang sebagai Kota Kreatif UNESCO.
Menurut Fadly, pengembangan ekonomi kreatif tidak dapat dilakukan secara parsial. Sejumlah subsektor seperti gastronomi, desain, seni pertunjukan, dan fashion harus dikembangkan secara bersama-sama.
Baca Juga: Sumbar Tambah 10 NCH, Pemprov Akui Pemasaran dan Branding Produk Masih Lemah
“Lokomotifnya bisa jadi gastronomi, tetapi subsektor ekonomi kreatif lainnya juga harus kita gerakkan. Bagaimana desain, art performance, fashion, semuanya harus kita kembangkan karena ini menjadi bagian dari kota kreatif tersebut,” ujar Fadly.
Ia menilai PFS 2026 memiliki peran strategis dalam memperkenalkan kekayaan budaya dan wastra Sumatera Barat kepada pasar yang lebih luas.
Kreativitas para desainer dalam mengolah unsur tradisi menjadi karya yang relevan dengan perkembangan zaman dinilai dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus nilai ekonomi produk lokal.
Baca Juga: Buka Lomba Olahraga ASN, Wako Pariaman Ingatkan Jangan Lupa Layani Masyarakat
“Padang Fashion Summit bukan hanya tentang fashion, tetapi bagaimana kita mengangkat identitas dan kekayaan budaya Sumatera Barat agar semakin dikenal. Kita ingin wastra dan karya para desainer tidak hanya tampil di panggung, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” katanya.
PFS Jadi Ruang Kolaborasi Fashion dan Ekonomi Kreatif
Ketua Dekranasda Kota Padang, Dian Puspita Fadly Amran, mengatakan PFS menjadi ruang pertemuan antara fashion, budaya, dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, industri fashion memiliki ekosistem yang luas karena melibatkan berbagai profesi, mulai dari perajin, desainer, penjahit, model, fotografer, penata rias hingga pelaku pemasaran.
Baca Juga: Pagar dan Drainase TPU Tunggul Hitam Dibenahi, Anggaran Rp5,8 Miliar
“PFS tempat bertemunya peluang usaha, perajin, dan warisan budaya. Tempat karya lokal menemui pasarnya,” ujar Dian.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, PFS 2026 juga memperluas jangkauan dengan menghadirkan desainer dari luar negeri.
Tahun ini, tiga desainer asal Australia dan satu desainer dari Malaysia turut berpartisipasi dalam fashion show. Kehadiran desainer internasional tersebut diharapkan dapat membuka ruang pertukaran kreativitas sekaligus memperluas jejaring industri fashion yang berbasis budaya lokal.
Baca Juga: 6 Fraksi DPRD Setujui Perubahan APBD Pariaman 2026, OPD Segera Susun RKA
PFS 2026 Fokus pada Regenerasi Desainer Muda
Selain memperluas jejaring, regenerasi menjadi salah satu fokus utama PFS 2026. Hal itu diwujudkan melalui Padang Young Designer Competition (PYDC) 2026 yang diikuti 76 peserta.
Dian menilai keberlanjutan industri fashion membutuhkan kehadiran generasi baru yang mampu mengembangkan identitas lokal dengan pendekatan kreatif dan sesuai perkembangan zaman.
“Terpenting, PFS adalah regenerasi. Kita harus menyiapkan regenerasi. Di tahun ini saja tercatat 76 peserta yang mengikuti kegiatan ini,” tuturnya.
Baca Juga: Dharmasraya Masuk 6 Besar Nasional Penilaian PTSP 2026, Tim Uji Petik Turun Langsung
Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Barat, Harneli Mahyeldi, turut mengapresiasi pelaksanaan PFS 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi sekaligus mengolah kekayaan kerajinan Minangkabau menjadi karya dengan nilai lebih tinggi.
“Sesuatu yang luar biasa ini ketika diolah oleh desainer akan menjadi luar biasa,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Padang, Ferry Evriyan Rinaldi, berharap PFS dapat terus menggali potensi desainer lokal hingga melahirkan talenta yang mampu menghasilkan karya yang diterima tidak hanya di Kota Padang, tetapi juga di tingkat nasional.
Baca Juga: Emansipasi Perempuan Jadi Pesan Utama Tim Dance SMA Don Bosco di AQUA DBL Dance 2026 West Sumatra
Ia mengatakan perkembangan industri fashion juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Hal itu karena sektor tersebut melibatkan banyak bidang, mulai dari perajin, produksi pakaian, model, tata rias, fotografi hingga pemasaran.
Angkat Warisan Minangkabau ke Panggung Global
PFS 2026 mengusung tema “Manaruko Rupo, From Minangkabau Heritage to Global Elegance”.
Tema tersebut dimaknai sebagai upaya membuka jalan baru untuk membawa kekayaan budaya Minangkabau ke masa kini melalui karya yang modern dan kreatif, tanpa meninggalkan akar identitas budaya.
Baca Juga: Payakumbuh Bedah 100 RTLH pada 2026, 75 Rumah Didukung TKD
Melalui PFS 2026, fashion diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan busana. Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan menjadi bagian dari penguatan industri kreatif sekaligus sarana untuk meningkatkan nilai ekonomi wastra, kerajinan, dan karya desainer lokal.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, Dekranasda, desainer, perajin, pelaku industri kreatif, generasi muda serta jejaring internasional, PFS diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekosistem fashion dan ekonomi kreatif di Kota Padang. (*)
Editor : Adetio Purtama