Kabut Asap Belum Reda, DPRD Padang Usul Sekolah Daring Jika Udara Kian Memburuk

Endang Pribadi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 19:31 WIB
Suasana saat jam pulang sekolah di salah satu SD di Kota Padang saat kabut asap menyelimuti wilayah tersebut, Selasa (8/9/2026).
Suasana saat jam pulang sekolah di salah satu SD di Kota Padang saat kabut asap menyelimuti wilayah tersebut, Selasa (8/9/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM— Kabut asap kembali menyelimuti Kota Padang dengan kualitas udara berada pada level tidak sehat. Kondisi tersebut mendorong DPRD Kota Padang meminta pemerintah menyiapkan opsi pembelajaran daring apabila kualitas udara semakin memburuk.

Pantauan pada Selasa (8/9/2026) pagi menunjukkan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) berada di kisaran 153. Polutan PM2.5 menjadi salah satu pencemar utama yang mendominasi udara, sementara sejumlah kawasan tampak berkabut dan jarak pandang berkurang.

Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, mengatakan perlindungan terhadap peserta didik perlu menjadi perhatian selama kabut asap masih menyelimuti kota. Ia meminta Pemerintah Kota (Pemko) Padang tidak hanya membagikan masker kepada masyarakat, tetapi juga menyasar sekolah.

“DPRD Padang menyarankan Pemko Padang untuk membagi-bagikan masker ke sekolah-sekolah. Jadi, selama kabut asap ini, seluruh siswa diwajibkan memakai masker,” ujar Muharlion, Selasa (8/9).

Menurutnya, sekolah merupakan lokasi yang perlu mendapat perhatian karena aktivitas siswa berlangsung setiap hari. Jika kondisi udara semakin berisiko terhadap kesehatan, pembelajaran tatap muka dinilai perlu disesuaikan.

“Jika kabut asap ini berisiko merusak kesehatan, kami DPRD Padang menyarankan agar pendidikan dilaksanakan secara daring selama kabut asap teratasi,” katanya.

Disdik Padang Masih Pantau Kondisi

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Yopi Krislova menjelaskan, siswa telah diwajibkan menggunakan masker saat datang ke sekolah sejak Senin (7/9/2026).

“Kami telah mewajibkan siswa yang datang ke sekolah untuk memakai masker yang disediakan oleh orang tua siswa. Jadi sekolah belum mampu menyediakan masker gratis kepada siswa setiap hari,” jelasnya.

Untuk penerapan pembelajaran daring, Yopi mengatakan pihaknya masih menunggu perkembangan kondisi kabut asap. Jika kondisi dinilai sangat berisiko, sekolah secara daring dapat diterapkan.

“Kami sedang memantau perkembangan keadaan. Jika kabut asap sangat beresiko, terpaksa sekolah secara daring. Tapi kita berharap esok cuaca lebih baik lagi,” jelasnya.

Pakar pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP), Fitri Arsih, menilai penggunaan masker merupakan langkah darurat yang realistis ketika kualitas udara memburuk. Namun, perlindungan terhadap siswa perlu dibarengi pembatasan aktivitas di luar ruangan.

“Yang paling utama adalah keselamatan dan kesehatan peserta didik. Masker memang menjadi salah satu perlindungan ketika kondisi udara kurang baik, tetapi harus dibarengi dengan pembatasan aktivitas di luar ruangan,” ujar Fitri.

Fitri menyebut kegiatan seperti olahraga dan upacara sebaiknya dikurangi atau dihentikan sementara jika kualitas udara sudah masuk kategori tidak sehat. Pembelajaran daring juga dapat dipertimbangkan apabila kabut asap semakin pekat dan berisiko bagi kesehatan.

Selain daring, penyesuaian jam masuk sekolah atau pengurangan durasi pembelajaran dapat menjadi alternatif. Menurut Fitri, kebijakan pendidikan selama kabut asap harus adaptif terhadap kondisi lingkungan dan tetap menempatkan keselamatan peserta didik sebagai prioritas.(*)

Editor : Hendra Efison
kabut asap Padang kualitas udara Padang sekolah daring Padang AQI Padang dprd padang