PADEK.JAWAPOS.COM — Pemulihan pascabencana di Kampung Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, kembali menghadapi tantangan setelah banjir bandang merusak kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas warga. Jebolnya tanggul sungai menyebabkan aliran air berubah arah dan menerjang kawasan yang sebelumnya mulai dibersihkan dan dipulihkan.
Bahan laporan lapangan menyebutkan, sejumlah rumah kembali mengalami kerusakan. Lahan pertanian yang sebelumnya dibersihkan dan mulai ditanami warga juga kembali tertutup material banjir. Sebagian masyarakat masih membersihkan rumah, menjemur pakaian dan perabotan, serta memperbaiki kendaraan yang terendam.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti pada perbaikan fisik. Keberlanjutan aktivitas masyarakat, perlindungan permukiman, dan pemulihan mata pencaharian juga menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak bencana berulang.
Kerusakan Berulang Menghambat Pemulihan
Berdasarkan bahan lapangan, tanggul yang kembali jebol berada di tikungan sungai. Struktur penahan yang sebelumnya menggunakan batu bronjong mengalami kerusakan setelah diterjang arus. Perubahan aliran kemudian membentuk jalur baru yang melewati kawasan permukiman.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa sebagian warga kembali meninggalkan rumah pada malam hari atau ketika cuaca mendung. Mereka mengungsi ke rumah kerabat, musala, maupun tenda pengungsian di sekitar lokasi. Anak-anak pun menghadapi kendala mengikuti kegiatan sekolah karena pakaian seragam mereka terendam banjir.
Keterangan ini menggambarkan tantangan pemulihan di tingkat keluarga. Kerusakan rumah dan barang kebutuhan sehari-hari dapat memperpanjang masa pemulihan, sementara kekhawatiran terhadap banjir susulan membuat warga belum sepenuhnya merasa aman.
Namun, besaran kerusakan rumah, jumlah keluarga yang masih mengungsi, serta dampak terhadap kegiatan sekolah dan mata pencaharian perlu dipastikan melalui pendataan terbaru sebelum digunakan sebagai angka resmi.
Pemulihan Infrastruktur dan Keselamatan Warga
Penanganan infrastruktur di Batang Guo terus menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko banjir berulang. Bahan laporan lapangan menyebutkan lima unit alat berat kembali bekerja untuk menangani bagian tanggul yang jebol dan menormalisasi aliran sungai, termasuk di bagian hulu.
Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum juga menyampaikan rencana penanganan permanen Batang Guo. Penanganan tersebut mencakup normalisasi alur sungai dan pembangunan bangunan pengendali sedimen atau check dam.
Langkah ini sejalan dengan arah Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Renduk PRRP Sumatera) 2026–2028. Pada sektor sumber daya air, Renduk mengarahkan pemulihan sungai secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi daerah aliran sungai, perubahan bentuk alur, sedimentasi, serta hubungan kawasan hulu dan hilir.
Dengan pendekatan tersebut, pekerjaan fisik di Guo perlu disertai kajian teknis terhadap aliran sungai dan kawasan yang berisiko terdampak. Penanganan permanen juga perlu mempertimbangkan kondisi permukiman serta keselamatan warga yang tinggal di sekitar sungai.
Satgas PRR dan Kebutuhan Pemulihan Masyarakat
Renduk PRRP Sumatera menjadi pedoman bagi kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam menyelaraskan program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana selama 2026–2028. Dalam kerangka tersebut, pemulihan infrastruktur perlu terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan pengurangan risiko bencana.
Dalam penanganan Guo, kesesuaian dengan Renduk tercermin pada kebutuhan mengintegrasikan pemulihan sungai dan pengendalian sedimentasi dengan perlindungan permukiman, keselamatan warga, serta pemulihan mata pencaharian. Pendekatan ini menempatkan pembangunan kembali bukan sekadar memperbaiki kerusakan, tetapi juga mengurangi risiko dampak bencana berulang.
Peran Satgas PRR menjadi penting dalam koordinasi percepatan pemulihan lintas sektor. Sementara itu, penanganan teknis sungai dilaksanakan oleh instansi yang memiliki kewenangan, termasuk Kementerian PU melalui BWS Sumatera V, bersama pemerintah daerah sesuai tugas masing-masing.
Kepala Satgas PRR Sumatera Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa Satgas menjalankan pengawasan dan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pimpinan kementerian/lembaga yang menerima anggaran diminta menyampaikan perkembangan pekerjaan kepada media dan kepala daerah.
“Inilah yang kami lakukan pengawasan, mengevaluasi. Kami lakukan selain setiap minggu, kami meminta seluruh pimpinan kementerian/lembaga yang sudah menerima anggaran itu menyampaikan kepada media dan kepada seluruh kepala daerah seperti dalam kegiatan saat ini,” kata Tito pada 28 Oktober 2026.
Pemulihan warga Guo juga membutuhkan data yang akurat mengenai kondisi rumah, kebutuhan dasar keluarga, kerusakan lahan pertanian, serta warga yang masih membutuhkan dukungan. Data tersebut diperlukan agar intervensi pemerintah sesuai dengan kondisi nyata dan tidak berhenti pada penanganan kerusakan infrastruktur.
Apabila penataan kawasan, relokasi, atau bantuan pemulihan menjadi pilihan, langkah tersebut perlu didasarkan pada kajian teknis, pendataan penerima, dan keputusan resmi. Rekomendasi atau usulan penanganan tidak boleh dianggap sebagai keputusan yang telah ditetapkan.
Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan Kampung Guo tidak hanya ditentukan oleh selesainya normalisasi dan pembangunan pengendali sedimen. Pemulihan juga perlu membantu warga kembali beraktivitas dengan aman, mengurangi risiko kerusakan berulang, serta memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. (Tim Media Satgas PRR)
Editor : Tandri Eka Putra