TNI Bangun Jembatan Bailey Pampangan, Akses Warga Kembali Terbuka

Tandri Eka Putra • Dipublikasikan Senin, 2 November 2026 | 12:25 WIB
Jembatan Bailey di Kelurahan Pampangan Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, telah kembali digunakan warga setelah pembangunannya selesai pada September 2026. Foto: Tim Media Satgas PRR.
Jembatan Bailey di Kelurahan Pampangan Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, telah kembali digunakan warga setelah pembangunannya selesai pada September 2026. Foto: Tim Media Satgas PRR.

PADEK.JAWAPOS.COM,— Personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) membangun Jembatan Bailey di Kelurahan Pampangan Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, untuk memulihkan akses warga yang sebelumnya terganggu karena jembatan sebelumnya rusak. Jembatan tersebut melintasi Sungai Batang Jirak dan menghubungkan kawasan permukiman dengan akses menuju Jondul Rawang.

Lurah Pampangan Nan XX, Betty Ernita, mengatakan personel TNI dari tingkat pusat datang meninjau lokasi sebelum anggaran pembangunan dialokasikan. Pengerjaan jembatan dimulai pada 12 Agustus 2026 dan rampung pada September 2026.

Keberadaan jembatan penting bagi warga RW 3 dan RW 9. Sebelum akses pulih, warga harus memutar melalui jalan utama untuk mencapai kawasan seberang. Keberadaan jembatan membuat jarak ke pasar lebih dekat. Termasuk untuk ke tempat pengisian bahan bakar dan keperluan administrasi lain.

Betty menjelaskan, jembatan sebelumnya dibangun menggunakan dana pokok-pokok pikiran (pokir) anggota DPRD. Jembatan awal berupa jembatan gantung yang hanya dapat dilalui pejalan kaki dan sepeda motor. Jembatan pengganti kemudian dibangun, tetapi rusak dan hanyut beberapa jam setelah peresmian saat bencana terjadi sekitar 2023.

Pada pembangunan Jembatan Bailey, warga turut membantu pekerjaan di sekitar pangkal jembatan, termasuk pengerasan tanah. Keterlibatan masyarakat tersebut membantu menyiapkan akses penghubung antara badan jembatan dan jalan lingkungan.

Pemulihan akses juga mendukung aktivitas ekonomi warga. Jembatan memudahkan perjalanan menuju pasar serta pergerakan masyarakat yang menjalankan kegiatan harian di luar lingkungan tempat tinggalnya.

Upaya memulihkan konektivitas jalan dan jembatan merupakan bagian dari pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera. Dalam rapat koordinasi pada 26 Oktober 2026, Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian menyatakan menegaskan pentingnya jembatan bagi masyarakat.

“Jembatan, jalan rata-rata semuanya sudah fungsional, kecuali beberapa jembatan daerah, dan ini dikeroyok semua, baik oleh PU, TNI, Polri, semua bergerak,” jelas Tito.

Betty berharap penanganan infrastruktur dilengkapi fasilitas pendukung, termasuk penerangan jalan di sekitar jembatan. Penerangan dinilai membantu warga melintas dengan lebih nyaman dan aman pada malam hari.  

 

Sejalan Renduk PRRP Sumatera

Peran TNI dalam pembangunan jembatan untuk konektivitas antarwilayah, sejalan dengan arah kebijakan dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028. Dokumen tersebut menempatkan pemulihan infrastruktur transportasi dan konektivitas sebagai salah satu prioritas rekonstruksi, termasuk pembangunan kembali jembatan permanen dengan standar ketahanan bencana yang lebih baik. 

Pembangunan jembatan darurat menjadi salah satu langkah penting dalam memulihkan konektivitas wilayah terdampak bencana di Sumatera. Melalui dukungan TNI, sebanyak 62 unit jembatan Bailey dibangun untuk membantu menghubungkan kembali kawasan yang akses transportasinya terganggu akibat bencana.

Selain jembatan Bailey, TNI juga membangun 74 unit jembatan Armco dan 37 jembatan perintis di berbagai wilayah terdampak. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari dukungan lintas sektor dalam mempercepat pemulihan infrastruktur dan aktivitas masyarakat. 

Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengoordinasikan percepatan pemulihan bersama kementerian/lembaga, TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini diperlukan agar penanganan infrastruktur darurat dapat berjalan beriringan dengan perencanaan pembangunan permanen.

Dalam tahap rekonstruksi, pemerintah tidak hanya berorientasi mengembalikan fungsi jembatan seperti sebelum bencana. Renduk PRRP Sumatera mengarahkan pembangunan infrastruktur permanen agar lebih aman dan tangguh terhadap risiko bencana. 

Melalui koordinasi Satgas PRR dan dukungan berbagai unsur, pemulihan jembatan diharapkan dapat mempercepat pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak bencana Sumatera. (*)

 

Editor : Tandri Eka Putra
SumateraPulihbersamaSatgasPRR jembatan bailey Pemulihan Infrastruktur tni