Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dentuman Erupsi Marapi Getarkan Kaca Jendela

Yuwardi Tanjung • Selasa, 22 April 2025 | 11:00 WIB

Kamis (3/4/2025) pukul 07:12 WIB, terjadi erupsi Gunung Marapi dengan kolom abu mencapai 1.500 meter di atas puncak atau sekitar 4.391 meter di atas permukaan laut. (Foto: PVMBG)
Kamis (3/4/2025) pukul 07:12 WIB, terjadi erupsi Gunung Marapi dengan kolom abu mencapai 1.500 meter di atas puncak atau sekitar 4.391 meter di atas permukaan laut. (Foto: PVMBG)

PADEK.JAWAPOS.COM-Erupsi keduakalinya, suara dentuman dari arah Gunung Marapi kembali menggemparkan dan menimbulkan rasa takut bagi masyarakat di kawasan sekitar kaki gunung sekira pukul 21.41 WIB, Senin (21/04) tadi malam.

Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Padangpanjang, Ferix Sonada membenarkan adanya suara dentuman cukup keras akibat peristiwa erupsi Marapi tersebut. Bahkan kaca jendela kantor Tagana di Kelurahan Ngalau, bergetar sebagai dampak dari dentuman itu.

“Erupsi Marapi malam ini memang mengeluarkan suara dentuman yang cukup keras, hingga menggetarkan kaca jendela kantor kami. Ini merupakan erupsi yang keduakalinya hari ini berdasarkan informasi yang diterima dari KESDM, Badan Geologi PVMBG Pos Pengamatan Gunungapi Marapi,” ujar Ferix melalui selularnya.

Disampaikannya, informasi erupsi Marapi sebelumnya terjadi pada sore hari sekira pukul 15.50 WIB dengan tinggi kolom abu teramati lebih kurang 500 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah Tenggara.

“Sementara erupsi pada malam hari ini, visual yang kita terima dari sumber pihak berwenang seperti letupan pijar. Namun visual ini tidak terlihat dari Kota Padangpanjang,” tutur Ferix yang juga Ketua ORARI kota berjuluk Serambi Mekkah itu.

Menyikapi perkembangan aktivitas Marapi di tengah guyuran hujan tersebut, Ferix mengaku sangat khawatir dan memantau wilayah pemukiman di bantaran sungai.

Terutama di Kelurahan Sigando Padangpanjang Timur, pihaknya menerima laporan terjadi peningkatan debit air sungai sekira pukul 20.45 WIB.

Kondisi tersebut dikatakannya, perlu disikapi serius mengingat hal yang sama juga terjadi pada aliran sungai di Simpang Manunggal Limo Kaum Tanahdatar. Bahkan peningkatan debit air di sungai tersebut, disertai dengan peringatan bunyi sirine oleh pihak kabupaten setempat.

“Ini bukan tindakan panik, namun bentuk ekstra waspada menyikapi erupsi yang meningkat di tengah cuaca hujan. Selama air yang mengalir berwarna keruh karena lumpur, kita masih bisa tenang. Lebih khawatir kita, jika aliran air masih jernih sebagai pertanda kemungkinan ada penyumbatan di hulu sungai,” terang Ferix.

Saat ini disampaikan Ferix, sebanyak 33 orang tim Tagana Padangpanjang terus memantau kondisi melalui komunikasi frekwensi radio ORARI dan BPBD. “Kita sebanyak 7 orang standby di Mako Tagana, dan lainnya memantau melalui komunikasi radio,” ungkapnya.

Ferix juga menyesalkan adanya mekanisme komunikasi yang tidak lagi diterima pihak Tagana dari pihak-pihak terkait lainnya.

“Dulu saat bencana galodo yang melanda daerah sekitar Gunung Marapi, Menteri Sosial Tri Rismaharini meminta pihak pengawas Marapi haru senantiasa menyampaikan kondisi gunung yang dalam keadaan hujan serta ketebalan endapan material vulkanik. Namun ini tidak berjalan sebagai mana mestinya,” pungkas Ferix.

Dikutip dari portal Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, erupsi Marapi, terjadi kemarin pada pukul 21.41 WIB. Namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30.5 mm dan durasi ± 58 detik.

Saat ini Marapi berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi, masyarakat di sekitar Marapi dan pendaki, pengunjung, wisatawan agar tidak memasuki dan tidak melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas (Kawah Verbeek) Marapi.

Kemudian, masyarakat yang bermukim di sekitar lembah, bantaran, aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak Marapi agar tetap mewaspadai potensi/ancaman bahaya lahar atau banjir lahar yang dapat terjadi terutama di saat musim hujan.

Jika terjadi hujan abu maka masyarakat diimbau untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan saluran pernapasan (ISPA).

Seluruh pihak juga diminta menjaga suasana yang kondusif di masyarakat, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax), dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya. (wrd)

Editor : Novitri Selvia
#erupsi #gunung marapi #Tagana Kota Padangpanjang #pvmbg #Ferix Sonada