Bupati Padangpariaman, John Kenedy Azis (JKA), menegaskan bahwa pemulihan kondisi sungai menjadi fokus utama pemerintah daerah guna mengurangi potensi dampak bencana serupa di masa mendatang.
“Upaya normalisasi tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah, sehingga diperlukan kerja sama dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk merumuskan solusi jangka panjang bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai,” ujar JKA.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah melakukan normalisasi darurat di sejumlah sungai yang terdampak. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Padangpariaman, El Abdes Marsyam, mengatakan bahwa berbagai alat berat telah dikerahkan untuk melakukan pengerukan material serta memperbaiki aliran sungai yang sempat tersumbat akibat dampak bencana.
“Terdapat 12 sungai besar di Padangpariaman yang mengalami dampak bencana, dengan tingkat kerusakan paling parah terjadi di Sungai Batang Anai, Batang Ulakan, dan Batang Nareh,” paparnya.
Menurutnya, penanganan untuk kerusakan ringan hingga sedang sebagian besar telah diselesaikan. Namun sejumlah titik dengan kerusakan berat masih memerlukan penanganan lanjutan serta kajian teknis lebih mendalam.
“Penanganan darurat tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak. Selain menggunakan anggaran daerah untuk penyewaan alat berat, pemerintah juga mendapatkan dukungan dari Pemprov Sumbar serta bantuan pemerintah pusat melalui BNPB dan BWS Sumatera V. Bahkan, Sungai Batang Atokan yang melintasi wilayah administratif Padangpariaman juga turut menjadi bagian dari penanganan tersebut,” pungkasnya.
Saat ini, upaya penanganan difokuskan pada penguatan tebing muara Sungai Batang Ulakan. Di lokasi tersebut, pihak BWS Sumatera V tengah memasang pembatas menggunakan karung geobag untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada tebing sungai.
Di sisi lain, tim dari Balai Teknik Sungai Solo juga telah turun ke lapangan untuk melakukan kajian teknis terhadap pola gerusan air di sepanjang tepian sungai.
Hasil kajian ini nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan jenis konstruksi permanen yang akan dibangun, sehingga ketahanan infrastruktur sungai dapat terjaga dalam jangka panjang. (apg)
Editor : Adetio Purtama