Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wisata Budaya Pacu Jawi Cubadak Aia Payakumbuh Utara: Ibarat Gadis Menunggu Belaian

Jufri Jao • Sabtu, 16 Mei 2026 | 09:30 WIB
(DOK AZAM UNTUK PADEK)
(DOK AZAM UNTUK PADEK)

Lumpur beterbangan ke wajah penonton. Sorak-sorai pecah dari tepian sawah di Lingkungan Cubadak Aia, Kecamatan Payakumbuh Utara, Selasa siang (28/4).

Di tengah petak sawah yang basah, seekor sapi melesat liar menarik kayu bajak, sementara seorang joki bertahan di belakangnya dengan tubuh penuh lumpur.

Gelak tawa penonton membuat suasana lebih hidup. Di sanalah Pacu Jawi kembali hidup.

Laporan : Sy Ridwan & Jufri Jao

Sejak siang hari, ribuan warga dari Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota berdatangan menuju gelanggang pacuan.

Jalan kecil menuju lokasi dipenuhi kendaraan. Sebagian masyarakat berjalan kaki melewati pematang sawah demi mendapatkan tempat terbaik menyaksikan tradisi yang diwariskan turun-temurun itu.

Anak-anak berteriak kegirangan setiap kali sapi berlari tak terkendali. Orang dewasa tertawa saat lumpur terciprat hingga ke kerumunan.

Tak ada tribun megah ataupun kursi penonton berjejer rapi. Hanya hamparan sawah, riuh suara masyarakat, dan aroma tanah basah yang menjelma menjadi panggung budaya rakyat.

Bagi masyarakat Payakumbuh, Pacu Jawi bukan sekadar perlombaan saja. Ada warisan nilai-nilai budaya yang tetap dipertahankan, Tradisi itu adalah denyut kehidupan kampung. Ia lahir dari sawah, tumbuh bersama musim panen, lalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di balik gemuruh sorak penonton, Pacu Jawi menyimpan cerita panjang tentang masyarakat agraris Minangkabau. Tradisi ini dipercaya telah ada sejak ratusan tahun lalu, berawal dari kebiasaan petani yang mengadu ketangkasan sapi selepas panen.

Sawah yang masih berlumpur dijadikan arena untuk menguji kekuatan dan kekompakan sapi sebelum kembali digunakan untuk musim tanam berikutnya.

Dari kebiasaan sederhana itulah lahir Pacu Jawi. Pacu Jawi tak sekadar perlombaan. Tapi bagian ruang kebersamaan masyarakat berintekrasi sosial.

“Pacu jawi adalah tempat kami tertawa dan berbagai bercerita,” ujar salah seorang masyarakat yang ikut menyaksikan pacu jawi itu.

Dalam setiap perlombaan, seorang joki berdiri di belakang seekor sapi yang diikat dengan kayu kecil. Ia berlari di atas lumpur sambil menjaga keseimbangan dan mengendalikan arah sapi agar tetap lurus. Tak ada garis akhir yang pasti

Kadang-kadang joki terjatuh dan terseret lumpur. Atraksi inilah yang membuat Pacu Jawi begitu memikat wisatawan. Di daerah lain, ada juga pacu jawi. Tapi caranya berbeda, seperti  pacu jawi di Tanahdatar.

Di tepi sawah, seorang gadis dan temannya  tersenyum lepas melihat atraksi para joki. “ Aduh, jatuh lagi, jawinya lari… Awas…,” teriaknya.

Meski selalu dipadati masyarakat, Pacu Jawi Payakumbuh dinilai belum mendapatkan perhatian sebesar tradisi serupa di daerah lain, khususnya di Kabupaten Tanahdatar yang lebih dahulu dikenal wisatawan.

Padahal, suasana, atraksi, dan antusiasme masyarakatnya disebut tak kalah memikat. Masyarakat berharap pemerintah daerah bisa serius mengelola warisan budaya ini

Harapan itu bukan sekadar tentang ramainya penonton. Lebih jauh dari itu, Pacu Jawi diyakini mampu menghidupkan ekonomi masyarakat apabila dikembangkan menjadi agenda wisata budaya yang lebih besar.

Pedagang kecil, petani, hingga pelaku UMKM akan ikut merasakan manfaat ketika wisatawan datang menyaksikan tradisi tersebut.

Pacu Jawi juga menyimpan nilai-nilai yang terus dijaga masyarakat Minangkabau: gotong royong, kerja keras, sportivitas, dan rasa syukur atas hasil panen.

Tradisi ini menjadi cara masyarakat merawat hubungan dengan alam sekaligus menjaga akar budaya agar tidak tercerabut oleh zaman.

Menjelang sore, satu per satu penonton mulai meninggalkan gelanggang. Sebagian membawa sandal penuh lumpur.

Sebagian lagi sibuk membersihkan pakaian mereka yang terkena percikan sawah. Namun dari wajah-wajah itu tersisa kepuasan sederhana: mereka baru saja menyaksikan tradisi yang masih hidup di tanah mereka sendiri.

Dan ketika cahaya senja perlahan jatuh di atas sawah yang mulai lengang, Pacu Jawi Payakumbuh masih menyisakan satu harapan yang terus berlari di hati masyarakatnya. Suatu hari nanti, tradisi ini mendapat panggung sebesar pesonanya sendiri.

Bagi penikmat wisata alam dan budaya, rasanya tempat pacu jawi Cubadak Aia, Kecamatan Payakumbuh Utara ini, bisa menjadi pilihan  berwisata bersama keluarga.

Selain pacu jawi, suasana alam dan perkampungan yang masih asri menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang sibuk dengan rutinitas sehari-hari. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Payakumbuh Utara #tradisi balap sapi #limapuluh kota #pacu jawi #wisata budaya