Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Museum Kelahiran Bung Hatta, Bukittinggi Pupuk Rasa Bangga Rang Minang

Novitri Selvia • Jumat, 17 September 2021 | 13:26 WIB
Kadishub Sumbar Heri Nofiardi, Gubernur Irwan Prayitno, Deny Kusdyana bersama peserta Rakornis Transportasi Darat, Senin (19/10/2020).
Kadishub Sumbar Heri Nofiardi, Gubernur Irwan Prayitno, Deny Kusdyana bersama peserta Rakornis Transportasi Darat, Senin (19/10/2020).
“Meski Bung Hatta telah tiada, Bung Hatta akan tetap hidup dalam hati kami. Cita-cita Bung Hatta akan senantiasa menyinari perjuangan kami”.

ITULAH penggalan pidato presiden pada 15 Maret 1980, tatkala Soeharto menyampaikan kata-kata akhir untuk Bung Hatta. Salinan naskah pidato itu kemudian dipajang dengan pigura di dinding rumah lantai 2, Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta.

Seorang pejuang kemerdekaan terlahir di rumah mungil ini. Tepatnya, pada 12 Agustus 1902 silam. Buah hati pasangan Muhammad Djamil dan Saleha ini lalu diberi nama Muhammad Athar.

Nama ini kemudian dikenal luas dari pelosok negeri bahkan ke ujung dunia, dengan panggilan Bung Hatta. Untuk mengabadikan sejarah kelahiran dan masa kecilnya, dibangunlah sebuah museum, lalu diberi nama Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta Proklamator RI.

Museum ini berada di Jalan Soekarno Hatta Nomor 37, Kota Bukittinggi. Bentuk museum merupakan replika dari bangunan aslinya. Sederet arsitek Sumbar mengumpulkan bahan, bukti sejarah termasuk foto-foto keluarga, demi mempertahankan keaslian rumah Sang Proklamator.

Tidak sulit bagi pengunjung untuk menuju tempat ini. Sekitar dua atau tiga jam dari Kota Padang. Jika sudah berada di Kota Bukittinggi, tinggal membuka aplikasi Google Maps dan sejenisnya.

Atau cukup dengan bertanya ke warga yang berlalu lalang di pusat kota. Informasi dirangkum Padang Ekspres dari berbagai sumber, rumah asli keluarga Bung Hatta ini didirikan sekitar tahun 1860an. Bung Hatta pernah mendiami rumah ini bersama ayah dan ibunya, kakek-nenek, dan pamannya.

Dari rumah ini pula, Bung Hatta bersekolah dasar di Europese Lageree School (ELS) Bukittinggi. Kira-kira umurnya beranjak 12 tahun, Bung Hatta melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Padang.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 26 Juni 2018, mengeluarkan sertifikat nomor: 3580/E2/KB/2018. Berdasarkan standardisasi museum tahun 2017, Rumah Kelahiran Bung Hatta ini dilabeli sebagai Museum Tipe C.

“Rumah aslinya telah runtuh. Tanah dan bangunannya, pernah terjual kepada pengusaha suplier bahan bangunan, Haji Sabar. Lalu dibeli kembali oleh Pemko Bukittinggi,” ujar Roni Chaniago, pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi yang ditugasi sebagai pemandu wisata di museum itu.

Setelah menjadi aset pemerintah daerah, rencana pembangunan kembali rumah ini dimulai tahun 1994 dan selesai tahun 1995. Kayu dan bahan bangunan pilihan menjadikan rumah ini tampk begitu mirip dengan aslinya.

Ada teras rumah dengan halaman secukupnya, dinding dari anyaman, ruang tamu, ruang baca Bung Hatta, beberapa kamar, lumbung padi, kandang kuda, dapur dan kamar mandi. Seluruh perabotan disajikan dengan gaya tempo dulu. Ada yang masih orisinil, ada pula yang kemudian didatangkan dari sumbangan para kolektor barang antik.

Menko Kesra era Orde Baru, Azwar Anas meresmikan pembangunan kembali rumah ini pada 12 Agustus 1995. Kata Roni, museum ini berdiri di atah tanah seluas 866 meter persegi, dengan luas bangunan 440 meter persegi.

“Sepeda ontel, tempat tidur, beberapa perabotan, dan alat masak yang di atas tungku dari bahan kuningan, itulah yang masih asli. Dipan juga masih otentik, tapi kasur dan alasnya sudah diganti,” jelasnya.

Ditanyakan apakah pengunjung dan petugas pernah mendapati hal-hal mistis di museum tersebut, Roni menggeleng kepala. “Tidak ada hal-hal aneh. Ini bukan rumah tua, semua sudah dibangunan ulang, dibikin mirip seperti aslinya,” tegasnya.

Roni Chaniago yang sudah menjadu wisata di museum ini sejak tahun 2013, menyebut tidak sekalipun museum tutup meski libur nasional bertanggal merah di kalender. “Hari ini kami baru buka kembali sejak ditutup beberapa pekan karena penerapan PPKM. Sebelumnya tidak pernah. Museum buka setiap hari, sejak pukul 08.00 hingga pukul 18.00,” katanya.

Roni yang pernah menjadi wisata di beberapa objek wisata Kota Bukittinggi mengaku memiliki kebanggaan tersendiri pada museum itu. Katanya, banyak objek wisata yang bisa didatangi pengunjung ke Kota Bukittinggi, tapi museum ini berada pada level berbeda.

“Daya tarik museum ini, Bung Hatta adalah tokoh yang dikenal dunia. Tokoh asli kelahiran Bukittinggi, orang Kurai, dan lahir di sini. Itu yang membuat orang tertarik,” katanya.

Sebelum PPKM, sambung Roni, cukup ramai turis asing yang silih berganti berkunjung. Sebut saja turus Malaysia, Australia, bahkan Amerika. “Presiden Jokowi, Wapres Maruf Amin, Menteri Sandiaga Uno, sampai ke Menteri Susi Pudjiastuti, juga telah pernah ke sini,” ujar Roni.

Ditanyakan kunjungan keluarga Bung Hatta yang rindu pulang kampung ke Bukittinggi, kata Roni, sudah tidak terlalu sering. “Terbaru, Buk Meutia ke sini sekitar empat bulan lalu, hanya mampir sebentar, ngantar kue untuk kami. Tiga kakak beradik anak Bung Hatta bekerja sebagai dosen di Jakarta,” katanya.

Di sisi lain, sejarah Bung Hatta memang sudah dibukukan. Kisahnya banyak ditulis dari berbagai sudut pandang. Tentang museum ini, juga mudah ditemui di berbagai sumber internet.

“Dari kepemilikan bendi keluarga, sebuah sepeda ontel tua, pun ruang baca, kita ambil kesimpulan Bung Hatta terlahir bukan dari keluarga biasa pada masanya. Ia juga tidak tumbuh sebagai anak-anak pada umumnya. Bung Hatta sejak dini sudah gemar membaca, ia bisa menulis koresponden sehingga memiliki jejaring sampai ke Pulau Jawa,” kata Benny Aziz, pemerhati Kota Bukittinggi.

Kunjungan Padang Ekspres, beberapa waktu lalu, membekaskan satu kata. Bangga. Banyak potret di dinding museum yang menyiratkan pesan mendalam. Bung Hatta begitu dicintai. Meski ia kini telah tiada, Bapak Koperasi itu terus memotivasi.

“Semua tidak dipungut biaya apapun alias gratis,” ujar salah satu Petugas Museum, Putri Aisyiah sembari menyodorkan buku tamu.(***) Editor : Novitri Selvia
#museum #bung hatta #Rang Minang